Ayu Widya: Aktualisasi Diri dan Adaptasi di Jerman 

August 23, 2020hellodiasporia

Ayu Widya menjalani kehidupan nomaden dan berpindah negara setiap 2-3 tahun. Setelah menjalani kuliah di Inggris, Widya menikah dan tinggal di Indonesia, Amerika Serikat, dan kini di Jerman. Karena sangat cinta dengan traveling dan bertemu orang baru, Widya memiliki akun IG @saltysoja yang membahas dan berbagi pengalaman terkait makanan lokal, tempat wisata, dan tips traveling. Pada kesempatan kali ini, Widya menceritakan pengalamannya adaptasi ketika harus berpindah – pindah negara mengikuti tugas suami. 

Berawal dari “I do”, Harus Meninggalkan Indonesia

Siapa sangka “I do” yang aku bilang beberapa tahun yang lalu ternyata punya efek yang sebegitu besar dan memutar balik keseluruhan jalan hidup. “I do” disini bukan cuma berarti siap menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, tetapi juga menyiapkan diri untuk meninggalkan keluarga, teman, karir di Indonesia, dan siap menerima bahwa proses adaptasi budaya dan bahasa terus menerus adalah hal yang tidak terelakkan. Aku menikah dengan seorang berkebangsaan Amerika Serikat dan karena pekerjaannya, kami harus berpindah-pindah negara setiap 2-3 tahun sekali. Setelah tinggal di Indonesia dan Amerika Serikat dalam waktu yang tidak terlalu lama, sekarang kami ditempatkan di Jerman.

Menjadi trailing spouse itu tidak mudah. Ditambah lagi profesi suami yang menjadi representasi negaranya di setiap tempat yang kami tinggali, menjadikan istri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari citra suami. Mungkin banyak hal yang tidak aku tahu tentang Amerika Serikat dan tentang Jerman. Tapi satu hal yang aku tahu, I am my own person. Sewaktu kecil orang tua sering berkata “Kamu itu anak satu-satunya, harus mengandalkan diri sendiri untuk semua hal”. Dengan dasar tersebut, selama lebih dari 20 tahun aku berusaha sekeras mungkin untuk memenuhi segala pencapaian. Alhamdulillah semua kerja keras mendatangkan hasil. Dimulai dari nilai yang bagus di sekolah, masuk universitas idaman, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, hingga memperoleh pekerjaan yang banyak diincar masyarakat. Sayangnya, pencapaian tersebut seolah hilang setelah menikah dan berganti menjadi label “cuma istri yang ikut suami”.

Jerman penuh dengan bangunan cantik dan kaya sejarah. Bangunan yang paling banyak ditemukan adalah cathedral dan museum.

Perjalanan Aktualisasi Diri Setelah Menikah 

Karena tidak rela dengan label tersebut, maka segala energi terfokus demi aktualisasi diri. Hal yang pertama terpikir adalah mau lanjut sekolah atau bekerja. Namun karena kehidupan nomaden kami, kedua hal ini dirasa tidak feasible. Melanjutkan ke jenjang doktoral akan membutuhkan waktu sekitar 4 tahun, dan kami sudah dipastikan tidak berada di Jerman lagi. Jika memilih opsi bekerja, mereka biasanya juga tidak akan menerima seseorang yang hanya akan bekerja selama 2-3 tahun. Kemudian bahasa juga sangat berpengaruh. Umumnya setiap kantor dan universitas membutuhkan kemampuan berbahasa Jerman. On top of that, thanks to Covid-19 which makes everything harder, banyak kantor dan sekolah tutup dan tidak menerima aplikasi. Kehidupan sosial juga terganggu karena semua orang hanya diam di rumah saja.

I am very blessed with this man I call my husband. Dia selalu bilang bahwa achievement itu bukan sekedar yang keliatan di depan mata, manusia tidak akan pernah puas akan pekerjaannya. Sehingga yang harus dipikirkan adalah self-development untuk 10 – 20 tahun ke depan. Collect experience and find the things that make you content, katanya. Lalu apa yang aku lakukan? Aku senang belajar hal baru. Dan karena sadar kemampuan bahasa Jerman sangat dibutuhkan disini, maka aku belajar bahasa Jerman dari 2 lembaga yang berbeda. Kemudian aku juga menjadi content writer untuk sebuah klien.

Aku sangat suka dengan dunia pendidikan, dan merasa bahwa pendidikan membuat manusia berbudaya. Melihat sistem pendidikan di luar negeri yang seringkali mengajak berpikir kritis, membuat aku sangat tertarik untuk terjun langsung ke dunia pendidikan. Akhirnya, aku bersyukur banget sekarang aku diterima untuk bekerja di salah satu sekolah internasional berbahasa Inggris, sehingga ketidakmampuan bahasa Jerman tidak lagi menjadi kendala buatku (yeiy!).

Foto diambil di dalam Hall of Antiquities, Munich Residenz. Munich Residenze adalah istana terbesar yang terletak di tengah kota Munich dan sebelumnya merupakan istana kerajaan Bavaria.

Adaptasi Bahasa dan Kehidupan Sosial di Jerman

Tetapi jangan sedih, ketidakmampuan berbahasa Jerman tetap jadi kendala di kehidupan sehari-hari, hehehe. Mungkin sebagian dari kita berpikir kalau bahasa Inggris cukuplah untuk hidup di Eropa, ternyata tidak. Banyak sekali orang lokal, terutama yang sudah berusia lanjut, lebih memilih menggunakan bahasa mereka sendiri. Hal ini jadi penghambat ketika berkunjung ke pasar, toko, apalagi kalau bikin janji via telepon. Sedikit tips untuk yang baru mulai belajar bahasa baru, aku suka membaca dan mendengarkan lagu anak-anak, karena kosa kata nya simpel. Selain itu, sering-seringlah main ke supermarket lokal, dan bisa juga belajar dari aplikasi. Aplikasi paling membantu buat aku pribadi adalah duolingo.

Bahasa hanya salah satu aspek kecil dalam proses adaptasi. Untuk adaptasi sendiri, aku harus selalu beradaptasi dengan 2 budaya yang berbeda, budaya Amerika dan budaya negara aku tinggal. Orang Amerika terkesan sangat straightforward, dan orang Jerman sebelas dua belas samanya. Sangat beda jauh dengan cara ngomongku yang kadang muter-muter, apalagi kalau ada maunya :p. Selain itu, kita sebagai orang Indonesia pasti murah senyum, nah di Jerman ini, kalau kamu kebanyakan senyum, orang bisa jadi menganggap kamu idiot, hahaha. Orang Jerman juga terkenal sangat direct, tanpa basa basi. Jadi ketika aku sedang bersosialisasi di lingkungan komunitas Amerika, kebiasaan menyapa dan berbasa-basi itu memang lumrah, lalu aku masuk ke lingkungan Jerman, segala sesuatu harus cepat, lugas, dan kalau banyak basa basi malah ga akan ditanggepin, hehe.

Selain itu, ternyata di Jerman aku harus membiasakan bawa cash kemana-mana. Sebagai orang yang sangat tergantung pada kartu debit atau e-wallet, tentu ini sangat menghambat apalagi kalau kita lupa bawa cash dan masuk restoran yang tidak menerima kartu. Jadi intinya, beda negara beda budaya. Jangan cepat tersinggung lalu membanding-bandingkan kenapa mereka tidak sama. Aku rasa, inti dari adaptasi adalah: When in Rome, do as the Romans do.

Widya sangat suka musim dingin. Walaupun harus pakai baju berlapis-lapis dan matahari tenggelam sekitar pukul 4 sore, Widya selalu menemukan kebahagiaan tersendiri ketika lihat salju.

 

Untuk teman-teman pembaca Diasporia, keluar dari zona nyaman dan meninggalkan orang terdekat di tanah air memang berat. Proses adaptasi memang tidak mudah, tapi kita tidak sendirian. Aku terus mengingatkan diri sendiri kalau continuous adaptation yang kita hadapi sekarang akan menjadikan kita sebagai manusia yang lebih resilient dalam menghadapi hidup. So enjoy life, meet new people, travel more, and laugh more. Your experience will shape you into a great storyteller, and I believe that is more precious than everything on earth.


Jika ingin tau lebih banyak tentang Widya, silakan berkunjung ke kanal pribadinya:

Instagram: @saltysoja

*semua foto disediakan oleh Ayu Widya dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Mariska Parsons: Berintegrasi dan Membangun Kehidupan Sosial di Selandia Baru

August 16, 2020

Next Post

Ayesa Syenina: Pengalaman Karir di Singapura, dari Research Assistant Sampai Menjadi Research Fellow

August 30, 2020