Faradyzka Aurora Kencana: Adaptasi dengan Budaya ‘Ppalli Ppalli’ di Korea Selatan

February 14, 2021hellodiasporia

Faradyzka Aurora Kencana atau biasa dipanggil Aka, adalah mantan Deputy Head of Marketing Department di LSPR Communication & Business Institute – Postgraduate Programme, Jakarta. Aka adalah salah satu penerima beasiswa Global Korea Scholarship (2020) untuk jenjang Magister di Dankook University, Gyeonggi-do, Korea Selatan dengan jurusan Performing Arts. Pada kesempatan kali ini, Aka bercerita tentang proses adaptasi dengan budaya Korea Selatan, terutama soal ‘Ppalli Ppalli’. 

Budaya ‘Ppalli Ppalli’ Korea Selatan

Korea Selatan terkenal dengan budaya pekerja keras dan tepat waktunya. Jika kamu berkesempatan mengunjungi kota besar di Korea Selatan seperti Seoul di hari kerja, kamu bisa langsung merasakan budaya ‘ppalli ppalli’ yang mungkin bisa membuatmu terkejut. Apa itu budaya ‘ppalli ppalli’? Dari kata dasar 바르다 (pareda) dan diberikan imbuhan, ‘ppalli’ berarti cepat. Segala hal di Korea biasa dilakukan dengan cepat dan tepat waktu. Misalnya kamu ingin menuju ke suatu tempat saat peak hours, kamu bisa ‘terkepung’ diantara orang-orang yang mencoba untuk mencari celah berlari atau menuju eskalator / tangga dengan cepat, agar mereka dapat sampai tujuan tepat waktu. Memang, di masa pandemi mungkin tidak sesibuk biasanya, tapi kejadian seperti itu masih bisa ditemui di Seoul. 

Budaya “ppali ppali” ini tidak hanya dimiliki pegawai kantoran, tapi juga pekerja food delivery dan juga package shipping. Saat ini, food delivery dan package shipping sangatlah populer di Korea Selatan. Para pahlawan pengantar makanan atau barang ini seringkali dikejar waktu supaya tidak dikomplain karena keterlambatan pengiriman. Sebuah online shopping platform di Korea bahkan menawarkan rocket shipping, dimana pesanan kamu akan sampai dalam waktu 10 jam di hari yang sama jika kamu berlokasi di kita besar. Jika pengiriman terlambat, kamu bisa mendapatkan kompensasi, biasanya berupa e-money. 

Kali Kedua Belajar di Korea Selatan 

Di tahun 2013, saya mendapatkan beasiswa belajar bahasa dan budaya Korea di Geumgang University, Nonsan, Korea Selatan selama 1 tahun. Saat itu saya berangkat ke Korea dengan memegang visa D-4, yaitu visa untuk pelajar dalam program bahasa dan budaya. Pada tahun 2020 lalu, saya kembali berangkat ke Korea Selatan untuk melanjutkan pendidikan S2 saya melalui beasiswa Global Korea Scholarship (GKS).

Musim panas Agustus 2020 di Korea Selatan bersama teman-teman penerima beasiswa dari Indonesia

 

Dalam program beasiswa ini, saya harus melewati masa 1 tahun untuk kembali belajar bahasa dan budaya Korea di universitas yang ditentukan oleh National Institution for International Education (NIIED), agensi pendidikan yang berada di bawah Kementrian Pendidikan Korea Selatan dan bertanggung jawab atas program beasiswa ini. Setelah itu barulah saya akan melanjutkan pendidikan S2 di universitas pilihan saya. Saya ditempatkan untuk belajar bahasa dan budaya Korea di Konyang University yang berada di kota kecil bernama Nonsan di provinsi Chungcheongnam. Saya kembali ke kota yang sama dimana saya juga belajar bahasa Korea di tahun 2013. Karena saya sudah memiliki kemampuan dasar dan pengalaman belajar Bahasa Korea cukup lama, maka saya ditempatkan di kelas Advanced (고급반). 

Minggu kedua kelas offline saat musim gugur di Konyang University bersama guru dan teman-teman satu kelas dari berbagai negara

 

Singkat cerita, saya adalah satu-satunya mahasiswa di kelas Advanced yang belum memiliki sertifikat TOPIK (Test of Proficiency in Korean), yaitu tes kelancaran berbahasa Korea. Maka dari itu di bulan November 2020 saya disarankan untuk mengambil tes TOPIK ini. Ada 2 jenis tes TOPIK, yaitu TOPIK I (Beginner – hasil yang akan diterima yaitu Level 1 atau Level 2) dan TOPIK II (Intermediate & Advanced – hasil yang akan diterima yaitu Level 3 / Level 4 untuk Intermediate atau Level 5 / Level 6 untuk Advanced). Saya pun mengambil TOPIK II. Hasil tes ini keluar 1 bulan setelah tanggal tes. Betapa terkejutnya saya ketika ternyata saya mendapatkan Level 5 dalam waktu belajar kurang dari 6 bulan. Menurut peraturan dari NIIED, jika seorang penerima beasiswa mendapatkan hasil TOPIK Level 5 atau 6 dalam waktu 6 bulan atau kurang selama program bahasa Korea, maka di semester berikutnya yang bersangkutan harus langsung melanjutkan pendidikan S2 atau S3. Itu berarti di bulan Maret 2021 ini saya akan resmi menjadi mahasiswa baru S2 di universitas pilihan saya, Dankook University, Gyeonggi-do, Korea Selatan. 

Di depan Dankook University, Gyeonggi-do, Korea Selatan

 

Time Battle Dalam Mengurus Visa Pelajar Baru

Mengapa saya membahas budaya ‘ppalli ppali’ di awal artikel saya? Karena hal ini merupakan latar belakang dari cerita yang akan saya sampaikan. Karena saya mendapatkan TOPIK Level 5 bulan Desember 2020 lalu, saya harus melanjutkan pendidikan S2 saya langsung di bulan Maret 2021. Itu juga berarti saya harus mengganti jenis visa saya dari D-4 menjadi D-2, atau visa pelajar untuk mengambil Degree programme

Sebelumnya, saat saya masih belajar di Geumgang University, urusan perpanjangan visa saya diurusi oleh kampus. Namun kali ini urusan perubahan visa ini harus saya lakukan sendiri. It means that I had to deal with the administrative process in a foreign country that doesn’t use English as their first language, by myself! Loh, Aka kan sudah lancar berbahasa Korea dan bahkan sudah punya sertifikat TOPIK Level 5, memang masih susah? Ternyata, hal ini tidak semudah yang saya bayangkan. Menghadapi berbagai macam orang lokal dengan intonasi dan nada bicara yang berbeda mengharuskan saya untuk berkonsentrasi lebih terhadap apa yang mereka ucapkan. 

Perjuangan dimulai ketika saya meminta Certificate of Admission dari kampus S2 saya dan juga hasil nilai belajar Bahasa Korea dari universitas tempat saya belajar bahasa Korea. Lagi-lagi karena COVID 19, jadwal kunjungan ke imigrasi juga ditentukan dengan online registration dan jumlah orang per hari dibatasi. Visa D-4 saya akan habis pada tanggal 12 Februari 2021 dan saya harus buru-buru mengubah visa saya ke D-2. Ketika saya cek jadwal kunjungan, hanya ada 1 slot waktu yang tersisa, yaitu di tanggal 1 Februari 2021 pukul 11:00 pagi! Akhirnya saya putuskan untuk mengambil slot waktu tersebut, walaupun saya tahu di tanggal tersebut saya akan berjuang melawan waktu. 

Saya akhirnya berangkat ke Seoul satu hari sebelumnya dan tinggal di daerah Myeongdong. Rencana saya adalah hari Senin pagi jam 07:30 saya menuju kampus S2 saya di daerah Jukjeon, provinsi Gyeonggi untuk mengambil Certificate of Admission dan dokumen lain. Perjalanan menuju kampus saya dari Seoul memakan waktu sekitar 1 jam. Setelah sampai saya segera menuju International Office. Karena lokasi kampus saya berbukit-bukit, jadilah saya tiba-tiba harus ‘hiking’ mendadak. Yah, perjuangan 🙂 Semua berjalan lancar, hanya saja saya belum sempat update foto untuk visa. Geez, how could this happen?! Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09:30, saya segera mencari studio foto terdekat. Ternyata ada, tapi baru buka jam 11:00 pagi. Saya pasrah dan memutukan buru – buru ke kantor imigrasi. 

Kantor imigrasi yang saya tuju tidak berada di dekat kampus saya. Saya harus ke kota Suwon di provinsi yang sama. Mungkin saya sudah tertular budaya ‘ppalli ppalli’ ini karena saya tidak mau terlambat, jadi saya memutuskan untuk naik taksi daripada subway. Begitu saya sampai di kantor imigrasi Suwon, dari pintu masuk saja ‘ppalli ppalli’ itu sudah terasa. Sebelum masuk, saya disuruh ‘cepat-cepat’ menelepon salah satu nomor telepon yang ada di poster yang ditempel di pintu masuk. Lalu saya diarahkan untuk menuju sebuah ruangan di sebelah kiri pintu masuk. Saya seperti diburu-buru untuk cepat masuk agar tidak terjadi antrian di belakang saya.

Ruangan itu penuh dengan orang, namun sepertinya saya salah ruangan. Saya keluar dan bertanya lagi kepada staf. Baru saat itu ia mengarahkan ke ruangan yang benar. Selama itu, saya sambil komat-kamit dalam hati, semoga foto visa saya yang belum sempat diubah itu bisa diterima. Akhirnya tepat pukul 11:00, nomor saya tertera di LCD Monitor. Saya diterima baik oleh staf imigrasi. Ternyata semua dokumen saya lolos, termasuk foto saya yang belum diubah. 

Namun tiba-tiba staf itu bertanya kembali dimana saya tinggal. Saya bilang saya masih tinggal di asrama universitas tempat saya belajar bahasa Korea. Ternyata, saya butuh surat keterangan tinggal dari universitas tersebut. Saya diminta untuk menghubungi staf administrasi di kampus tempat saya belajar bahasa tersebut. Saya panik, tapi untungnya di situasi panik tersebut bahasa Korea saya malah bisa mengalir lancar, walaupun biasanya masih tergagap. 

Saya dengan cemas menunggu staf administrasi di kampus bahasa saya mengirimkan surat tersebut. Setelah 20 menit, dokumen yang saya perlukan akhirnya saya terima di e-mail saya. It was so fast!  Setelah hal mendebarkan tersebut, saya akhirnya diberi selembar tanda terima untuk pengambilan visa baru saya.

Semua proses seselai bahkan sebelum jam 11:30. Satu tantangan telah saya lewati, dan kejadian ini membangkitkan rasa percaya diri saya, bahwa kedepannya saya akan bisa melewati tantangan lainnya. Untungnya, saya mengikuti budaya ‘ppalli ppalli’ saat itu, walaupun hati saya benar-benar campur aduk. Dari takut terlambat, takut dokumennya tidak dapat diterima, takut tidak bisa berkomunikasi dengan baik, takut tidak mengerti apa yang orang-orang katakan. Namun, segalanya akhirnya selesai dan saya bangga dapat melakukannya sendiri di negara rantau yang tidak semua penduduknya bisa berbahasa Inggris. 

Sebagai pendatang, saya harus beradaptasi dengan budaya sosial di negara ginseng ini. Dari pengalaman mengurus visa yang saya ceritakan barusan, saya belajar berbudaya ‘ppalli ppalli’ yang membuat saya lebih cepat dan efisien dalam mengerjakan sesuatu. Mungkin nanti saat saya mulai masa belajar di program S2 saya, akan banyak hal beda dan unik yang harus saya hadapi. Saya berdoa semoga saya bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru saat S2 nanti.  다음에 또 만나요! Sampai jumpa kembali!

Foto dan teks oleh Faradyzka Aurora Kencana, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.


Ingin mengikuti Aka di media sosial?

Instagram: https://www.instagram.com/akaurora/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Fitria Sungkar: Dari Jakarta ke London - Migrasi di Masa Pandemi

January 31, 2021

Next Post

Livia Marcha: Pengalaman Menjadi Au Pair di Desa Kecil Austria

February 28, 2021