Alicia Nevriana: Pengalaman PhD di Swedia dan Tips Lancar Berbahasa Swedia

July 26, 2020hellodiasporia

Alicia Nevriana adalah mahasiswa S3 di bidang epidemiologi/kesehatan masyarakat di Karolinska Institutet, Swedia. Saat ini tengah meneliti tentang pengaruh kesehatan mental orang tua terhadap kesehatan fisik anak-anak dan remaja. Alice yang sudah beberapa tahun tinggal di negara ini sudah lancar berbahasa Swedia, bahkan ada beberapa tulisan ilmiahnya yang diterbitkan oleh media dan jurnal di sini. Di kesempatan kali ini, Alicia berbagi pengalaman PhD di Swedia dan tips supaya lancar berbahasa Swedia.

Kehidupan PhD di Swedia: Tantangan, lingkungan, dan menjalani PhD di Karolinska Institutet, Swedia

Hi Alice, bisa ga ceritain gimana awalnya pindah ke Swedia, dan kenapa akhirnya milih PhD di Swedia?

Sebenernya dari kecil aku emang punya cita-cita untuk sekolah ke luar negeri karena terinspirasi dari orang tua dan emang sempet kepikiran pengen jadi dosen juga. Kebetulan pas tahun terakhir S1 (aku kuliah jurusan kesehatan masyarakat di UI), salah satu dosenku nunjukin videonya Profesor Hans Rosling (almarhum). Nah pas itu aku yang ngambil peminatan biostatistik takjub banget sama cara beliau menyajikan statistik dengan cara-cara yang interaktif dan menarik. Saat itu aku langsung kepikiran,”Wah pokoknya aku mesti belajar sama beliau!” Aku cari lah beliau base-nya di mana. Ternyata beliau profesor di Karolinska Institutet, Swedia. Jadi lah aku meniatkan untuk lanjut S2 ke sana. Kebetulan di KI ada jurusan kesehatan masyarakat juga, jadi cocok lah.

Awalnya pas dateng S2 ke sini belum kepikiran untuk lanjut S3 di sini juga, meski aku tau aku emang pengen lanjut S3 pada saatnya. Cuma setelah tau sistem S3 di sini (yang mana bentuknya employment dan kita sebagai mahasiswa S3 bakal digaji), akhirnya ku semangat nyari-nyari lowongan S3 di sini. Cuma memang tidak semudah itu mendapat posisi S3 di sini, karena kebanyakan posisinya memang berbasis proyek/riset, jadi kalau tidak ada funding ya tidak ada lowongan. Buatku perlu waktu 1,5 tahun sampai akhirnya aku mendapat posisi ini.

Gimana lingkungan PhD di Swedia?

Saat ini aku tergabung dalam grup riset Epidemiology of Psychiatric Conditions, Substance Use, and Social Environment di Department of Global Public Health, Karolinska Institutet (KI). Grup riset aku termasuk yang paling besar di departemen, anggotanya ada sekitar 40 orang lebih, dan 12 di antaranya mahasiswa S3. Sebagian besar waktu mahasiswa S3 di KI biasanya didedikasikan untuk penelitian, namun kami juga harus mengambil mata kuliah dengan besaran SKS tertentu, walaupun biasanya tidak banyak. Satu mata kuliah pun biasanya hanya 1 minggu/semester. Jadi aku biasanya ambil 3-4 mata kuliah per semester. Mahasiswa S3 juga diharuskan mengikuti konferensi/journal club/presentasi di forum ilmiah lainnya karena ada SKS yang hanya dapat dipenuhi dari kegiatan tersebut. Untuk di KI sendiri mahasiswa S3 tidak diwajibkan untuk mengajar, meski tentunya itu merupakan pengalaman yang sangat baik jika ada kesempatan dan ada SKS tersendiri untuk itu.

Di grup riset aku sendiri banyak penelitinya yang memiliki afiliasi ganda dengan Pusat Epidemiologi Wilayah Stockholm, termasuk supervisorku. Jadi aku pun belajar banyak bagaimana hasil penelitian yang dilakukan di grup digunakan untuk menginformasi publik/politikus untuk mempengaruhi kebijakan kesehatan ke depannya. Biasanya kami ada rapat grup riset setiap minggu, berselang-seling antara rapat adminstratif dan presentasi penelitian dari salah satu anggota grup. Kami juga suka melakukan fika setiap hari Jumat pagi, bahkan di masa pandemi ini (via Zoom). Setiap semester pun kami suka melakukan aktivitas akhir semester bersama. Salah satu yang paling berkesan ialah ketika kami pergi bermain ice skating bersama di salah satu taman di Kota Stockholm (Vasaparken). Bahkan termasuk profesor-profesornya loh! Untuk semester ini, berhubung kami tidak dapat berkumpul bersama secara langsung, kami mengadakan end-of-term meeting via Zoom di mana kami diinstruksikan untuk menyediakan stroberi di rumah masing-masing dan kami pun makan bersama secara virtual.

Bermain ice skating bersama anggota grup riset di Vasaparken.

Apa tantangan menjalani PhD buat kamu?

Menulis, terutama menulis artikel ilmiah. Terdengar aneh sih memang, apalagi karena di sini syarat kelulusannya ialah memiliki setidaknya 2 artikel ilmiah yang sudah terpublikasi dan 2 (atau lebih) artikel lainnya dalam bentuk manuskrip (tidak harus terpublikasi). Tetapi aku termasuk tipe orang yang lebih senang menganalisis data daripada menuliskan hasilnya.

Tantangan lainnya ialah mengatur waktu agar semua target penelitian tercapai. Kebetulan supervisorku membebaskan aku untuk mengatur target studiku sendiri, jadi akunya yang betul-betul harus keep track sama semua progress penelitianku sendiri. Satu lagi tantangan yang sering tidak disadari: membanding-bandingkan progress diri sendiri dengan orang lain yang mana seringkali menimbulkan rasa waswas karena orang lain kok udah maju aku masih segini-gini aja. Padahal tanpa disadari mungkin orang tersebut juga berpikiran yang sama terhadap kita 😂 jadi ya… harus dikurang-kurangi lah kebiasaan membanding-bandingkan.

Banyak yang merasa kesepian saat menjalani PhD, karena keadaan dan circle yang jauh berbeda dibanding S2. Gimana pengalaman pribadi kamu?

Alhamdulillah sejauh ini aku ga gitu merasa kesepian, mungkin karena bidangku pun bukan yang mengharuskan aku kerja sendirian di lab berjam-jam dan juga karena ada cukup banyak mahasiswa S3 di grup risetku dan di luar grup riset yang memang aku sudah kenal pribadi. Namun kalau memang ada yang merasa kesepian saat menjalani S3, salah satu saranku ialah coba untuk mengikuti kegiatan kemahasiswaan di kampus. Kebetulan tahun ini aku menjadi salah satu student representative untuk Doctoral Student Association di KI mewakili departemenku dan program studi epidemiologi. Biasanya kami memiliki pertemuan rutin setiap bulannya dan kadang kami pun mengadakan aktivitas sosial bagi mahasiswa S3, seperti pub quiz. Di departemenku sendiri, aku dan teman sesama student representative lainnya biasanya mengadakan aktivitas tersendiri untuk sesama teman-teman S3, misalnya di semester ini kami rutin mengadakan online fika (red: coffee break) untuk sekadar bertukar cerita selama masa pandemi ini.

Menjalani PhD sering berhadapan dengan stress dan jenuh, gimana cara kamu refreshing, dan gimana cara memotivasi diri kalo lagi ga semangat?

Kalau aku lagi stress dan jenuh dengan studi PhD biasanya aku curcol: ke supervisor, keluarga, ke temen-temen. Pokoknya sampe lega. Tapi jawaban seriusnya sebenernya beristirahatlah. Take a break. Biasanya itu sih yang bakal disaranin supervisorku. Kalau udah begitu biasanya aku dan supervisor juga bakal duduk bersama dan evaluasi, ada target yang bisa diadaptasi ga nih selama menghadapi momen-momen seperti ini?

Kalau untuk refreshing, kebetulan dari dulu aku emang seneng ikut banyak kegiatan ekstrakurikuler, jadi sekarang pun aku ikut ngambil les viola dan Bahasa Yunani. Kedengeran random ya? Tapi aku emang seneng aja sih jadi ketemu temen-temen baru di luar lingkungan kampus juga.

Konser akhir tahun bersama teman-teman sekolah musik.

Apa pengalaman paling berkesan selama kamu PhD?

Kalo yang baru-baru ini paling berkesan selama PhD itu waktu studi pertama aku (dari 4 studi) akhirnya dipublikasi. Kebetulan alhamdulillah publikasinya di jurnal yang lumayan berpengaruh, jadi sempet diliput beberapa media juga. Rasanya surreal sih karena beberapa wawancaranya pake Bahasa Swedia, termasuk untuk Swedish Radio dan Dagens Medicin. Itu tegangnya ga ketulungan deh! Selain itu berkat publikasi ini pula ku jadi diundang nulis artikel buat majalahnya Asosiasi Perawat Anak Swedia (pake bahasa Swedia juga). Buat aku ini pengalaman berharga sekali karena bisa diseminasi hasil penelitian aku ke masyarakat luas, bukan hanya ke sesama peneliti saja.

Artikel Alicia yang dimuat di Asosiasi Perawat Anak Swedia, Riksföreningen för Barnsjuksköterskor (kiri) dan Medicinsk Vetenskap, majalah sains Karolinska Institutet (kanan).

Belajar bahasa Swedia: Tantangan dan tips

Kamu kan udah lancar bahasa Swedia, apa yang memotivasi kamu dan gimana menjaga motivasi itu?

Jujur awalnya aku ga kepikiran belajar bahasa Swedia sama sekali. Aku bahkan ga tau kalo kita bisa belajar Bahasa Swedia gratis di sini. Jadi kebetulan aku diajak temen waktu itu buat masuk SFI (red: Svenska för invandrare, kursus Bahasa Swedia untuk Imigran) ya udah jadi keterusan sampe lulus SAS 3 (red: Svenska som andraspråk, Bahasa Swedia sebagai bahasa kedua, setara SMA) 😂 Kalo buatku, punya temen yang sama-sama belajar itu memang sedikit banyak membantu menjaga motivasi sih. Jadi bisa sama-sama belajar dan ngingetin kalo lagi males. Hehe.

Apa aja tantangan belajar bahasa Swedia buat kamu?

Apa ya? Buatku tantangan belajar bahasa Swedia (dan bahasa lain secara umum) itu listening sih. Pernah suatu kali pas awal-awal aku dan temen-temen nonton acara Swedia (Melodifestivalen) terus mereka pada ketawa aja gitu sama jokes-nya sedangkan aku ga ngerti pembawa acaranya pada ngomong apa. Itu setelah hampir setahun aku belajar sih.

Ada ga tips-tips belajar bahasa Swedia dari pengalaman kamu?

Rutin baca koran Metro. Dulu pas awal-awal, targetku belajar bahasa Swedia tu cuma pengen bisa ngerti isi koran Metro yang suka ada di stasiun kereta. Jadi pas awal-awal aku suka ngambilin koran itu, terus mulai dari baca komiknya. Terus lanjut baca ke kolom-kolom pendek macam surat pembaca, baru deh lama-lama bisa ngerti artikel utamanya.

Pinjem buku anak-anak di perpus. Selain bacain koran Metro, dulu ku juga seneng pinjem buku anak-anak di perpustakaan. Beneran buku anak-anak yang banyakan gambarnya daripada teksnya. Tapi enaknya di perpustakan umum di sini biasanya ada indikatornya ini buku untuk anak berapa tahun. Jadi ya pelan-pelan naik lah, dari bacain buku untuk anak 0-6 tahun, 6-9 tahun, 9-12 tahun, sampe novel untuk remaja dan orang dewasa.

Dengerin lagu-lagu Swedia. Berhubung aku anaknya seneng musik ya, jadi ku juga kadang suka dengerin lagu-lagu dari penyanyi Swedia juga. Kadang ada lah beberapa yang ku suka banget sampe aku cari liriknya biar bisa dinyanyiin. Bukan berarti ku nyanyinya bagus ya, tapi seengganya ku jadi tau gimana cara ngucapin kata-katanya.

Kasih tau kolega kalo kita lagi belajar. Selain itu bisa juga sih bilang ke bos/supervisor/rekan kerja kalo kita lagi belajar Bahasa Swedia. Dulu aku bilang ke supervisorku kalo aku lagi belajar, jadi awalnya aku pake bahasa Swedia kalo ngirim e-mail. Lama-lama pas meeting juga mulai ngomong bahasa Swedia, meski kalo di kantor sebenernya ga ada requirement untuk pake bahasa Swedia.

Piknik dekat rumah saat midsummer. Rasanya sayang kalau tidak keluar rumah saat ada matahari.

Ada ga kebiasaan unik orang Swedia yang udah nular ke kamu/udah jadi kebiasaan?

Aku jadi seneng keluar rumah kalo ada matahari, rasanya sayang banget kalo lagi cerah terus ga keluar rumah. Ga usah jauh-jauh, kadang keluar buang sampah aja udah cukup. Saking jarangnya ada matahari.

Terus ku juga jadi kebiasaan bikin mahkota bunga sendiri pas midsummer (gatau sih ini masuk itungan apa ngga). Sebenernya bentuknya biasa aja sih, ga heboh (aku juga belom bisa bikin yang heboh), tapi aku seneng aja… kayanya kalo pake mahkota bunga itu cantiknya nambah 100%.


Jika ingin tau lebih banyak tentang Alice, silakan berkunjung ke kanal blog dan kanal pribadinya:

Blog: http://10000kmstockholm.wordpress.com
Twitter/Instagram: @princessviolin

*semua foto disediakan oleh Alicia dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Pitri Muaja: Perjalanan Adaptasi dari Batu ke Los Angeles

July 19, 2020

Next Post

Ika Olsen: Hidup Berlayar Sambil Bekerja Jarak Jauh di Norwegia

August 2, 2020