Astari Marthaningtyas: Pengalaman Kerja dan Cerita Kehidupan di Bangkok

November 8, 2020hellodiasporia

Astari Marthaningtyas atau biasa dipanggil Astari pertama kali mengunjungi Bangkok tahun 2013. Siapa sangka, Tahun 2015 Astari ditugaskan oleh perusahaan tempatnya bekerja untuk kembali ke Bangkok selama 2 tahun. Ternyata, perjalanan Astari di Bangkok tidak selesai disitu. Awal tahun 2020 ini Astari kembali lagi ke Bangkok dan kini bekerja sebagai Regional Business Development di sebuah perusahaan multinasional. Simak pengalaman kerja Astari di Bangkok, dan juga sekilas tentang kehidupan sosialisasi di Bangkok. 

Pengalaman Kerja di Bangkok Sebagai Perempuan Indonesia

Hai Astari, bisa cerita tentang background kamu dan bagaimana awalnya bisa sampai pindah ke Bangkok? 

Awal cerita aku pindah ke Bangkok itu sekitar tahun 2013. Saat itu aku bekerja di divisi internasional salah satu FMCG Indonesia yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Aku bertanggung jawab untuk mengembangkan bisnis di Filipina, tapi masih tinggal di Indonesia, biasanya 2-3 bulan sekali aku visit Filipina. 

Di tahun 2015 ada tawaran untuk handle Thailand tapi aku harus pindah kesana paling nggak 1 tahun. Aku ambil kesempatan itu, karena kebetulan market Thailand juga lebih berkembang jadi aku bisa banyak belajar, dan orang tua aku pun membebaskan aku. Ga terasa aku di Thailand sampai sekitar 2 tahun, lalu kembali ke Indonesia karena kebutuhan organisasi yang berkembang.

Setelah 2 tahun di Indonesia, ternyata aku merasa karir kurang menantang dan ga berkembang, lalu aku cari kesempatan lain. Berhubung aku sudah punya pengalaman handle beberapa negara di Asia Tenggara, aku coba cari lowongan di negara-negara yang pernah aku handle. Kebetulan ada lowongan dari perusahaan tempat aku bekerja sekarang, sebuah FMCG multinasional, untuk kantor cabang Bangkok. Aku memang suka dengan perusahaannya, aku coba lamar, dan ternyata keterima. Setelah 2 bulan proses recruitment dan relokasi, akhirnya Januari 2020 kemarin aku pindah lagi ke Bangkok. Ternyata memang jodohnya sama Bangkok, hehe. 

Sekarang sudah jalan bulan ke 10 tinggal di Bangkok untuk kedua kalinya. Kegiatanku sehari-hari kerja sebagai regional business development. Baru 2 bulan kerja normal, ternyata pandemi dan kami semua diwajibkan untuk bekerja dari rumah sampai bulan Juli. Bulan Juli situasi di Thailand sudah sangat membaik dan sejak saat itu mulai kembali kerja ke kantor seminggu sekali. Selain kerja, di waktu luang biasanya aku explore sekitar Bangkok dan Thailand bersama beberapa teman Indonesia. Rasanya cukup beruntung Thailand situasinya sudah hampir normal, jadi kita sudah bisa traveling domestik. 

Kuil Wat Arun di tengah kota Bangkok

Apa hal yang paling challenging sebagai imigran perempuan asal Indonesia di Bangkok, dan gimana cara kamu mengatasinya? 

Sebenernya untuk aku sebagai imigran di Bangkok cukup nyaman ya, mungkin karena banyak orang asing dan kebetulan perawakan dan paras orang Indonesia dan Thailand tuh mirip, jadi aku cukup nyaman tinggal di sini. Alhamdulillah sampai sekarang juga ga pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan karena Bangkok itu cukup aman untuk perempuan. 

Tapi belakangan sejak pandemi orang Thailand terutama yang tinggal di luar Bangkok agak berjaga jaga terhadap orang asing. Bulan Agustus lalu aku sempat road trip ke luar kota dan beberapa kali kita lihat beberapa orang lokal agak menghindar saat dengar orang berbicara dengan bahasa asing. Saat kami check in  di hotel juga sempat ditanya, sudah berapa lama di Thailand. Orang Thai memang sangat takut dengan virus COVID-19 ini dan beranggapan bahwa orang asing yang membawa virus masuk ke Thailand. 

Astari kan punya pengalaman bekerja di Indonesia dan Thailand, menurut kamu apa tantangan yang berbeda dari pengalaman kerja di kedua negara tersebut?

Tantangan utama sih bahasa ya, kebanyakan orang Thailand bahasa inggrisnya terbatas. Kalaupun mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris, logat dan pronunciation mereka cukup membingungkan. Seperti huruf berakhiran L bisa dibaca seperti N atau W, untuk huruf S mereka juga kesulitan dan biasa jadi T. Jadi awal-awal sulit juga memahami maksud mereka, tapi lama kelamaan setelah paham, malah nada bicara aku kalau berbicara bahasa inggris jadi mengikuti nada bicara orang Thai hehehe.

Oya bahasa Thailand itu mirip dengan mandarin yang memiliki nada. Beda nada beda arti, dan aku sering zonk kalau coba berbicara dalam bahasa Thai. Maksud hati bilang cantik tapi selalu dikoreksi teman, “Astari itu artinya unlucky bukan cantik”.  Untungnya, kebetulan di tim aku sekarang kebanyakan expat juga, dan ada beberapa orang Thai yang bahasa inggrisnya bagus yang sangat membantu kalau kita lost in translation

Last but not least, orang Thai juga memiliki gengsi yang tinggi, jadi harus hati hati kalau berbicara dengan mereka, karena bisa menyinggung gengsinya yang tinggi. 

Gimana soal persamaan budaya kerja di Thailand dan Indonesia, ada pengalaman menarik nggak? 

Dari pengalaman aku, ada beberapa kesamaan budaya kerja orang Thailand dan Indonesia, yaitu sama-sama birokratis dan menghargai senioritas. Karena senioritas ini jadi kita diharapkan untuk memanggil orang yg lebih tua atau yang baru kenal dengan awalan khun, sama seperti panggilan ibu atau bapak di Indonesia.

Ada tips untuk perempuan Indonesia yang ingin meniti karir di luar negeri seperti Astari?

Tips untuk mencari kerja di luar negeri dari aku mungkin ga banyak ya, tapi yang pasti perlu bisa berbahasa inggris atau bahasa lokal dengan cukup baik, dan berani untuk mencoba hal baru. Untuk lowongan pekerjaan di luar negeri biasanya aku cari di Jobstreet, tinggal ubah setting ke negara yang aku mau. Ada juga beberapa tawaran dari Linkedin, jadi coba perbaiki profil Linkedin karena banyak rekruter akan cek profil Linkedin kamu untuk seleksi awal.

Bekerja di luar negeri itu kita harus mau membuka pikiran, karena kita akan bertemu banyak hal yang mungkin ga sesuai dengan jalan pikiran kita, atau norma yang kita anut selama ini. Observasi dulu, coba untuk membuka pikiran dan menerima hal – hal budaya yang ada tanpa memaksakan budaya kita. Karena yang musti diingat, bagaimanapun juga kita statusnya pendatang. 

Cerita Kehidupan di Bangkok 

Seperti apa sih kehidupan sosialisasi di Bangkok? 

Ikut kegiatan salah satu komunitas expat di Bangkok dan mencoba hal baru, wall climbing, seru!

 

Di Bangkok dan sekitarnya tuh banyak hal yang bisa kita explore. Misalnya, dengan 2-3 jam berkendara ke luar Bangkok kita sudah bisa hiking di taman nasional, atau sudah bisa ke pulau di pesisir Pattaya. Di Bangkok sendiri juga banyak aktivitas menarik, karena Bangkok merupakan salah satu tujuan wisata dunia, dan banyak expat juga. 

Awal kepindahan ke Bangkok aku merasa cukup sulit menemukan komunitas Indonesia, karena kebanyakan perusahaan memiliki lebih dari 10 karyawan Indonesia, bahkan ada yang ratusan, jadi masing – masing punya komunitas sendiri. Awal – awal aku sering ikutan acara komunitas expat di aplikasi meet up untuk mencoba hal baru seperti wall climbing, nonton rooftop cinema, dan karaoke. Jalan tahun kedua, kebetulan ada teman yang pindah ke Bangkok karena pekerjaannya, dan aku dikenalkan ke komunitas Indonesia di perusahaan tempat dia bekerja. Kami biasa kumpul waktu weekend atau traveling keliling Thailand. Kalau komunitas di KBRI sendiri dulu nggak begitu banyak kegiatan, tapi setahun belakangan aku lihat sudah cukup menarik sih. Aku saat ini ikut kegiatan belajar gamelan, ternyata nggak terlalu sulit juga, seru!

Apa hal favorit Astari tentang Bangkok? 

Salah satu taman di pusat kota Bangkok

Waktu pertama kali mengunjungi Bangkok 7 tahun lalu, aku sudah suka dengan suasana Bangkok yang seperti melting pot antara pusat bisnis, budaya dan hiburan. Buat aku, Thailand terutama Bangkok itu ga ngebosenin. Mau hiburan banyak pilihan, mau kegiatan outdoor juga banyak, makanannya enak-enak dan budayanya juga menarik. Di Bangkok juga banyak taman yang terawat dan nyaman untuk berolahraga atau sekedar duduk duduk santai, hal ini yang sulit aku dapatkan di Jakarta. 

Oya satu lagi hal favorit aku di Thailand: 7/11! Makanan di 7/11 Thailand itu seru seru! Fun fact: Thailand punya 7/11 terbanyak kedua di dunia setelah Jepang, sekitar 11.800 toko, jadi benar – benar ada 7/11 in every corner. Yang terpenting jarak Thailand ga terlalu jauh dengan Indonesia, jadi kalau homesick bisa pulang di weekend tanpa perlu ambil cuti. Tapi mungkin ga di masa pandemi ini ya hehehe. 

2 jam perjalanan dari Bangkok kita bisa hiking di taman nasional dan ketemu gajah liar (kalau beruntung chance nya 50%)

Setelah sekian tahun merantau dari Indonesia, apa hal tentang Indonesia yang masih melekat di diri Astari sampai sekarang?

Wah aku sih masih Indonesia banget, terutama makanan ya, aku ga bisa jauh dari tempe. Dulu di Thailand susah cari tempe jadi aku bekel dari Indonesia dan aku simpan di freezer. Sekarang sudah cukup banyak frozen tempe di Thailand, jadi lebih tenang deh. Teman – teman di kantor juga pada suka tempe dan sambal, senang rasanya bisa kasih mereka cobain tempe dan sambel. 

Makanan lain yang harus selalu aku stok itu indomie, aku jaraang bgt makan mie instan tapi once in a while kalo kangen Indonesia, makan indomie itu mengobati rindu. 

Aku juga selalu bawa cobek atau ulekan dari Indonesia supaya bisa nyambel 😀


Kredit foto: Astari Marthaningtyas

Di media sosial, Astari dapat ditemui lewat Instagram dan Twitter, @astarimartha

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Rahma Balci: Sekilas Cerita Tentang Kehidupan dan Budaya Turki

October 25, 2020

Next Post

Meity Purwaningrum: Dari Perbankan, Asuransi, ke Bisnis Kuliner: Perjalanan Bangun Start-Up di Belanda

November 29, 2020