Ayesa Syenina: Pengalaman Karir di Singapura, dari Research Assistant Sampai Menjadi Research Fellow

August 30, 2020hellodiasporia

Nina adalah Research Fellow yang saat ini bekerja di Singapura. Di artikel ini, Nina berbagi pengalamannya mengenai karirnya di Singapura, serta beberapa tips untuk yang tertarik mencari kesempatan di bidang akademik.

Teks dan gambar oleh Ayesa Syenina.

Hai, nama saya Ayesa, bisa juga dipanggil Nina (kependekan dari nama belakang saya, Syenina). Saat ini saya bekerja sebagai Research Fellow di Viral Research and Experimental Medicine, Singhealth Duke-NUS di Singapura.

Perjalanan karir di Singapura: Dari Research Assistant sampai menjadi Research Fellow

Perjalanan saya di Singapura dimulai 8 tahun yang lalu. Saya baru saja lulus dari gelar sarjana saya di Farmasi di Yogyakarta, ketika saya mencoba melamar pekerjaan sebagai Research Assistant di Duke-NUS Medical School. Yang mengejutkan, saya diterima untuk pekerjaan itu. Jadi pada dasarnya proses ‘adulting’ saya alami di Singapura!

Datang ke Singapura membuat saya harus menavigasi tinggal sendirian di negara asing. Di tempat kerja, saya terpaksa melangkah keluar dari zona nyaman saya. Saya bergabung dengan laboratorium penelitian kecil, hanya ada satu Research Assistant lain ketika saya tiba. Orang ini mengundurkan diri dua bulan setelahnya. Karena hal ini, saya diserahkan peran sebagai Lab Officer hanya dua bulan dalam pekerjaan pertama saya!

Peran ini mencakup menjadi penanggung jawab keamanan laboratorium di antara hal-hal lain, dan ini mengharuskan saya untuk berkomunikasi dan bekerja dengan orang-orang dari departemen lain. Sebenarnya, saya adalah seseorang yang introvert, dan saya tidak terlalu menikmati berinteraksi dengan begitu banyak orang baru – I like to stay inside my little shell! I was terrified, I was thrown in the deep end, and I had to choose either to sink or swim. Well I learnt to swim and dive! Kalau dipikir-pikir, saya merasa itu adalah latihan yang bagus banget, dan saya mendapat pelajaran paling berharga dalam karir saya selama masa itu.

Di konferensi lokal, di mana saya menang ‘best abstract’ award (it was a strange category!).

Setelah 3 tahun menjadi Research Assistant, saya memutuskan untuk mendaftar PhD di Saw Swee Hock School of Public Health (SSHSPH), NUS. Untuk mendaftar program PhD ini, salah satu persyaratannya adalah sudah memiliki proyek dan supervisor. Di sinilah saya merasa bersyukur karena telah bekerja lebih dulu. Salah satu profesor di departemen saya adalah Adjunct Professor di SSHSPH, jadi bos saya menyarankan agar saya berbicara dengannya. Saya pikir, karena dia melihat saya berkeliling dan mungkin bahkan melihat saya mempresentasikan pekerjaan saya di seminar departemen, dia dengan senang hati setuju untuk menjadi supervisor saya. Dia juga setuju untuk mempekerjakan saya sebagai Research Assistant di labnya jika saya tidak bisa mendapatkan beasiswa dari sekolah. Yah, saya tidak mendapatkan beasiswa dari NUS, dan karena inilah saya menjadi full-time Research Assistant dan mahasiswa PhD paruh waktu.

Biaya sekolah yang terjangkau dengan staff concession dan subsidi dari Service Obligation Scheme

Mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana saya membayar biaya sekolah saya, dan apakah biaya sekolahnya terjangkau. Karena sekolah kedokteran Duke-NUS adalah bagian dari NUS, saya menerima staff concession. Selain itu, saya juga mengajukan permohonan untuk Service Obligation Scheme, yang merupakan subsidi dari pemerintah Singapura, dengan persyaratan untuk menjalani 3 tahun ikatan kerja di perusahaan atau lembaga mana pun yang berbasis di Singapura.

Jadi, dengan staff concession dan subsidi Service Obligation Scheme, biaya sekolah yang harus saya bayar per semester sangat terjangkau. Bahkan, ternyata lebih baik daripada jika saya mendapat beasiswa dari sekolah. Kenapa bisa begitu? Yah, sebagai permulaan, gaji yang saya dapatkan lebih tinggi daripada upah dari beasiswa, bahkan setelah memperhitungkan biaya sekolah yang harus saya bayar. Bukan itu saja, penerima beasiswa asing harus melayani 400 jam atau lebih dari Graduate Assistantship Programme, seperti menjadi asisten pengajar dan sebagainya. Saya punya teman yang harus melakukan ini, dan ini merupakan beban ketika kita bekerja di lab untuk menyelesaikan pekerjaan, dan pada saat yang bersamaan berusaha menyelesaikan 400 jam ini. Karena saya membayar biaya sekolah sendiri, saya tidak perlu melakukan ini.

Saran untuk yang ingin menjalankan PhD

Seperti yang dikatakan orang yang pernah melaluinya, butuh kesabaran dan ketekunan dalam menjalani PhD. Saran saya untuk yang tertarik melamar PhD adalah, supervisor kamu benar-benar penting! Lebih baik memiliki proyek yang tidak kamu sukai dengan atasan yang hebat daripada sebaliknya. Lakukan riset terlebih dahulu. Sebelum mendekati supervisor saya untuk PhD, saya tahu dia memiliki reputasi sebagai mentor yang baik. Memang benar, dia benar-benar membimbing saya, dan saya belajar banyak darinya. Dia juga mendorong murid-muridnya untuk pergi ke konferensi internasional untuk mempresentasikan pekerjaan kami dan bertemu orang-orang. Dalam 4,5 tahun PhD saya, saya diberi kesempatan untuk pergi ke konferensi internasional di Glasgow, Skotlandia; Galvestone, Texas, AS; dan Queenstown, Australia. Setelah menyelesaikan PhD saya, dia menawari saya posisi Research Fellow. Saya menerima tawaran itu dan saat ini, saya masih bekerja untuknya.

Mampir di Bibury, Cotswolds setelah menghadiri konferensi di Glasgow, Skotlandia.

Happy face di Houston, Texas, setelah menghadiri konferensi di Galvestone, Texas.

Pengalaman dengan Singlish

Sekarang, saya akan berbagi sedikit pengalaman dengan Singlish! Ya, orang-orang di Singapura memang berbicara dengan bahasa Inggris, tetapi bukan sembarang bahasa Inggris – mereka menggunakan Singlish. Awalnya, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengadopsi gaya bahasa Singlish saat berbicara dengan bahasa Inggris. Tetapi kemudian saya mulai berteman dengan orang Singapura, dan ini jadi tidak bisa dihindari. Saya mulai mengadopsi Singlish dalam percakapan sehari-hari. Dan ketika saya menggunakan Singlish, saya menyadari orang menjadi lebih ramah!

Singlish juga sangat efisien untuk menyampaikan kebutuhan kita! Mungkin istilah Singlish paling populer adalah penggunaan “lah”, tetapi sebenarnya penggunaannya jauh lebih dari itu. Singlish biasanya merupakan pemendekan kalimat, misalnya: “sure you can do this?” jadi “can ah?”; “I can do that” jadi “can!”; dan “really? They have that?” jadi “got meh?”. Ini hanya beberapa contoh penggunaan Singlish.

Saran saya, ketika kamu di sini, jangan menggunakan bahasa Inggris yang sempurna saat membeli makanan. Simpan bahasa Inggris kamu yang sempurna untuk bos dan kolega di tempat kerja! 😉

Kalau kamu tertarik untuk mengejar karir atau belajar di luar negeri, saran saya adalah untuk selalu bersikap terbuka dan fleksibel. Setelah di luar negeri, nikmati saja proses untuk mengenal negara baru itu!


If you want to get to know me more, you can find me painting at @ninaslittlecanvas (Instagram) or ourlittlecanvas.com!

Comments (1)

  • Rahmi Netri

    September 17, 2020 at 2:19 pm

    Dari bachelor bisa langsung PhD ya?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Ayu Widya: Aktualisasi Diri dan Adaptasi di Jerman 

August 23, 2020

Next Post

Septi Rahmawati: Pengalaman Menjadi Ibu Bekerja di Tokyo

September 6, 2020