Clarissa Boediarto: Membangun Karir di Bidang Farmasi di Amerika

September 13, 2020hellodiasporia

Clarissa Boediarto mempunyai latar belakang pendidikan di bidang Biologi dan kini bekerja di bidang Farmasi di San Francisco, Amerika Serikat. Setelah lulus kuliah S1, Clarissa sempat kembali ke Indonesia selama beberapa tahun, sebelum akhirnya menetap di San Francisco. Pada kesempatan ini, Clarissa berbagi pengalaman soal dunia kerja di Amerika, termasuk gaya hidup di California dan juga tips untuk kamu yang ingin coba membangun karir di luar negeri. 

Pengalaman Bekerja di Bidang Farmasi di Amerika Serikat

Hai Clarissa, bisa certain sedikit ngga backgound kamu, sekarang tinggal dimana dan kegiatannya apa aja?

Hai Diasporia, aku sekarang tinggal di San Francisco Bay Area, California bagian utara. Saat ini aku bekerja sebagai Drug Safety Associate di sebuah perusahaan farmasi disini. Kerjaku sehari – hari banyak berhubungan dengan pelaporan efek samping obat  kepada badan pengawasan obat (seperti POM di Indonesia), juga analisa data.

Aku pindah ke California tahun 2019, tapi sebelumnya aku sempat tinggal di negara bagian Washington selama kurang lebih 7 tahun, dimulai dari sekolah S1 di bidang Biologi, lalu lanjut kerja selama beberapa tahun, sebelum aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Nggak tahunya, perjalanan hidupku membawa aku kembali ke Amerika Serikat, tapi kali ini di California. Waktu pindah kembali, aku sempat tinggal di Los Angeles, tapi sekarang aku menetap di San Francisco Bay Area.

Ngomongin soal kerjaan, apa sih suka – duka bekerja di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai perempuan dari Indonesia? Ada tantangan nya nggak?

Kalau soal tantangan kerja sih pasti ada aja, tapi kalau spesifik tentang perempuan di dunia STEM, malah ngga ada tuh. Mungkin banyak orang yang keburu jiper duluan kalau denger bidang STEM, kayaknya kan it’s a man’s world banget yah.

Aku pilih jurusan Biologi waktu kuliah dulu karena aku pengen tau how things work in this world. Aku mikir harus pilih subjek yang benar – benar aku suka, karena aku harus pelajari selama 4 tahun ke depan kan. Yah, lucky for me di jurusan aku banyak perempuan. Mungkin beda kalau ambil bidang engineering/computer science.. Tapi intinya lebih ke follow what you love/your your passion, despite what people say.

Sebagai orang yang udah pernah punya pengalaman bekerja di Amerika dan Indonesia, Apa sih beda suasana kerja di 2 negara tersebut?

Jujur aja awalnya aku malah lebih merasa culture shock waktu aku pulang ke Indonesia dan bekerja di sana sehabis lulus kuliah. Di Indonesia, tepatnya di Jakarta tempat aku tinggal dan kerja dulu, mungkin karena macet ya, aku lihat rekan kerja banyak yang datang ke kantor pagi banget, dari jam 6:30 sudah sampai di kantor. Terus mereka bisa stay di kantor sampai malam banget, mungkin sekalian nunggu macetnya reda. Dengan begitu, jam kerja juga jadi lebih panjang dan kegiatan kerja sering terpotong sama kegiatan sosialisasi, misalnya makan siang bareng kolega, atau ngobrol – ngobrol sambil kerja.

Yang aku alami di kantor yang sekarang, orang datang benar – benar untuk kerja. Datang tepat waktu, pulang juga tepat waktu. Ngga ada orang yang kerja sambil ngobrol – ngobrol. Waktu istirahat adanya cuma waktu makan siang dan break 15 menit. Itu juga ngga ada makan bareng kolega, paling sama – sama manasin makanan di dapur kantor, tapi habis itu balik lagi ke meja masing – masing untuk makan sendiri – sendiri.

Setelah melihat suasana kerja begitu, aku jadi kangen suasana kerja di Indonesia. Looking back, sebenernya bagus juga lho kerja sambil bersosialisasi, karena kita kan di kantor bisa menghabiskan waktu hampir setengah dari hari kita, jangan sampai cuma kerja aja dan ngga kenal sama kolega di tempat kita bekerja.

Ada tips ngga untuk perempuan Indonesia yang ingin cari kerja di Amerika, atau secara general, tips mencari kerja di luar negeri?

Pertama, resume harus disesuaikan. Di Indonesia kita mungkin lebih terbiasa dengan sistem CV, yang panjangnya bisa sampai berhalaman – halaman. Kalau disini resume sebaiknya jangan sampai lebih dari 1 halaman, karena biasanya recruiting manager ngga punya waktu untuk baca resume yang panjang. Mereka bakalan cuma lihat halaman ke-1 aja. Jadi, harus belajar gimana cara menceritakan pengalaman kita di resume dengan cara yang singkat, jelas, dan padat, hehe.

Kedua, perbanyak networking. Ini penting banget, apalagi sebagai imigran yang ngga kenal siapa – siapa. Usahain jangan merasa ngga enak untuk cari koneksi di perusahaan atau industri yang kamu tuju. Awalnya memang berat, karena aku juga sempat merasa ngga enakan, malu, atau takut untuk minta koneksi ketika aku cari kerja. Tapi aku beranikan diri, aku coba tanya mantan kolega di Indonesia yang kebetulan punya koneksi di Amerika. Aku juga pakai Linkedin dan beranikan diri untuk kontak orang – orang yang aku nggak kenal di Linkedin. Pada akhirnya, kalau kita niatnya baik, jujur, dan tau apa yang kita mau, orang disini juga baik – baik kok dan akan mau menolong kita, walaupun hanya kenal lewat Linkedin.

Ketiga, jangan merasa malu atau ngga enakan. Jujur ini juga aku rasakan sebagai orang Indonesia, aku dulu sering merasa ngga enakan atau malu buat mengutarakan pendapat. Hal ini sempat menghambatku waktu kuliah. Karena merasa Bahasa Inggrisku nggak lancar, aku jadi jarang ikut diskusi dan kurang aktif di kelas. Padahal sebenarnya orang sini sangat open kok asal kita bisa mengutarakan pendapat kita, atau apa yang kita mau, dengan baik.

Antara San Francisco dan Los Angeles: Gaya Hidup di California 

Soal gaya hidup, gimana sih gaya hidup di daerah San Francisco Bay Area?

Kalau ada yang nanya soal hidup di Amerika, aku selalu bilang kalau Amerika itu besar sekali. California aja, walaupun itungannya masih 1 negara bagian, tapi dari San Diego di ujung selatan, sampai ke Bay Area di California utara tempat aku tinggal, bisa memakan waktu 9,5 jam menyetir.

Otomatis kita kan nggak bisa selalu generalisasi berita yang kita baca soal Amerika, karena pada kenyataannya sangat beragam dan tergantung daerah masing – masing. Contohnya, walau sama – sama di California, menurut aku gaya hidup di Los Angeles juga agak berbeda dengan San Francisco.

Di San Francisco, aku merasa orang – orangnya lebih bebas , santai, dan liberal. Banyak awal mula movement sosial munculnya dari daerah ini. Sementara itu, aku merasa Los Angeles tuh lebih mirip Jakarta. Kemana – mana orang bawa mobil dan seakan – akan ada tuntutan untuk tampil keren kalau mau keluar rumah. Mungkin karena ada Hollywood kali ya, hehehe.

Apa sih hal – hal penting yang sudah Clarissa pelajari sejak merantau? Ada yang bisa di-share ke pembaca Diasporia ngga?

Sejak pindah ke Amerika, aku merasa jadi lebih mindful soal keuangan dan menjalani gaya hidup yang lebih minimalis. Ketika aku merasa butuh sesuatu, aku selalu cek dulu, apakah aku benar – benar butuh, dan apakah aku bisa pakai barang yang sudah ada. Disini orang lain tuh nggak peduli sama barang – barang yang kamu pakai. Jadi nggak perlu lah barang – barang bermerek untuk nambah gengsi. Orang juga nggak bakal menganggap kamu enteng kalau misalnya kamu nggak punya barang merek tertentu. Jadi aku belajar untuk beli barang yang memang perlu aja.

Aku juga belajar untuk menghilangkan perasaan nggak enakan dan malu – malu dalam kegiatan sehari – hari. Begitu juga soal Bahasa. Jangan malu kalau misalnya merasa Bahasa Inggrismu kurang lancar, justru malah kamu harus mikir, itu berarti kamu punya kemampuan Bahasa lain di luar Bahasa Inggris yang mungkin lawan bicara kamu nggak punya. Jadi mindset nya dibalik aja, daripada minder, coba give yourself credit karena bisa Bahasa lain selain Bahasa Inggris. Dengan begitu kita lebih bisa merasa percaya diri kan!

Terakhir nih, apa sih hal Indonesia banget yang masih melekat di diri Clarissa?

Budaya Indonesia yg masih melekat: Budaya kekeluargaan. Karena aku mengalami sendiri gimana rasanya jadi imigran di negara baru, yang kadang tidak ada kenalan/teman. Jadi, aku merasa lebih open/receptive, lebih punya empati terhadap sesama imigran, dan try to treat them as family. Contohnya, bantu mereka sebisa mungkin dalam memulai hidup baru di negara ini, mungkin dengan kenalin mereka ke teman2 aku, inviting them to my home and serve them food, because nothing brings people together like food 🙂


Jika ingin tau lebih banyak tentang Clarissa, silakan berkunjung ke kanal pribadinya:

Instagram: @clartsyfartsy

*semua foto disediakan oleh Clarissa Boediarto dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Septi Rahmawati: Pengalaman Menjadi Ibu Bekerja di Tokyo

September 6, 2020

Next Post

Hanna Marbun: Adaptasi Sebagai Lawyer di Jerman

September 20, 2020