Septi Rahmawati: Pengalaman Menjadi Ibu Bekerja di Tokyo

September 6, 2020hellodiasporia

Septi Rahmawati sudah menetap di Tokyo, ibukota Jepang selama 11 tahun bersama suami dan dua orang putri kecilnya. Selain sibuk mengurus keluarga, Septi juga bekerja di sebuah perusahaan remittance. Di waktu luang, Septi sering berbagi cerita keseharian keluarganya di akun IG @septirahmawaw_. Pada kesempatan ini Septi berbagi cerita tentang tantangan adaptasi di Jepang, suka-duka membangun karir di Jepang, hingga kegiatan keluarga yang sering dilakukan bersama kedua putrinya. 

Awal Pindah dan Tantangan Adaptasi di Jepang 

Hai Septi, boleh ceritain sedikit soal background kamu ngga, sekarang tinggal dimana, asalnya dari mana, dan kesibukannya apa aja?

Hello pembaca Diasporia, salam kenal. Senang sekali aku diberikan kesempatan untuk menuliskan ceritaku disini, dan sekaligus memiliki teman-teman lintas negara. Namaku Septi Rahmawati. Aku lahir di selatan Jakarta. Almarhum papaku turunan Betawi asli yang cukup keras didikannya, dan ibuku orang Kalimantan-Sunda. Perpaduan ini sering membuatku bingung ketika ditanya “orang mana Mba Septi?” jawabanku adalah “Saya orang Bekasi” karena ketika masuk SD, kami sekeluarga pindah ke Bekasi, dan di kota itulah aku tumbuh dan besar.

Tahun 2009 aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Tokyo, Jepang. Saat menulis ini, aku sudah tinggal di Jepang selama 11 tahun, memiliki dua orang putri dan menikah dengan laki-laki kelahiran Jawa Timur. Kesibukanku saat ini adalah mengurus keluarga dan bekerja di sebuah perusahaan remittance

Waktu baru pindah ke Jepang, apa sih tantangan terbesar yang kamu hadapi soal beradaptasi, dan gimana cara mengatasinya? 

Awal – awal hidup di Jepang, tantang terbesar adalah membiasakan diri untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang. Aku lulusan S1 sastra Jepang, tapi ketika aku tiba di Jepang, kemampuan listening ku buruk sekali. Karena tidak terbiasa mendengar percakapan dalam bahasa Jepang, aku mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang Jepang. Saat itu, masih sedikit sekali orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris. Bayangin, untuk mencari restoran McDonalds saja rasanya susah banget! Ternyata, orang Jepang menyebut McDonalds dengan sebutan Ma-Ku-Do-Na-Ru-To. Ya Tuhan, aku mau menangis rasanya saat itu.   Setelah itu, aku mulai mendisiplinkan diriku, belajar lebih keras lagi bahasa Jepang. Setiap malam aku habiskan untuk menghapal Kanji dan setiap saat aku menguping semua perbincangan orang Jepang di sekitar ku, hingga akhirnya dalam waktu 6 bulan aku bisa berkomunikasi jauh lebih baik. 

Budaya Kerja di Jepang dan Pengalaman Menjadi Ibu Bekerja

Ngomongin soal kerjaan, gimana pengalaman Septi bekerja di Jepang, terutama sebagai perempuan dari Indonesia. Apa sih suka-duka nya? 

Aku memiliki pengalaman pahit dalam soal pekerjaan. Aku pernah di kecewakan oleh atasanku yang akhirnya menjadi rekan kerjaku. Waktu itu kami sepakat membangun perusahaan bersama, tapi aku di depak ditengah jalan. Kecewa rasanya, padahal kami sama-sama orang Indonesia. Aku tuliskan kisah ku ini di blog pribadiku. 

Selain hal tersebut, sebenarnya secara umum aku tidak pernah merasakan duka sebagai perempuan Indonesia yang bekerja di Jepang. Malah aku merasa bahagia menjadi ibu bekerja di negara ini, karena Jepang mengizinkan para Ibu untuk cuti maksimal 3 tahun setelah melahirkan. Jam kerjanya juga bisa lebih pendek kalau aku harus mengantar atau menjemput anak. Aku tidak pernah merasakan diskriminasi apapun selama aku bekerja di Jepang. Selama kamu disiplin waktu, mengerjakan semua sesuai deadline, bisa mengikuti ritme pekerjaan dengan baik, semua tidak akan ada masalah. 

Apa perbedaan pengalaman bekerja di Jepang dan Indonesia? 

Di Jepang dan mungkin di beberapa negara maju lainnya, urusan disiplin soal waktu pasti sangat dijaga, sehingga kecil kemungkinan adanya terlambat meeting.  Materi meeting selalu rapi disiapkan terlebih dahulu, jadi waktu meeting bisa sangat singkat dan juga padat. Satu hal yang aku perhatikan, untuk menentukan satu project, pembahasannya bisa lama sekali, karena semua harus diperhitungkan secara matang. Pokoknya tidak ada istilah “asal jadi”, semua harus matang perhitungannya.

Di Jepang, laporan perjalanan dinas dan dana yang dikeluarkan harus ada kwitansi. Aku pernah punya pengalaman membuat project dengan tim di Indonesia. Saat itu ada tagihan “buat uang rokoknya aja bu..” aku bingung sekali untuk membuat pengeluaran tak berdasar, dan juga mereka tertawa ketika aku minta untuk dibuatkan kwitansi. Akhirnya aku memutuskan untuk membatalkan project dengan tim tersebut dan mencari tim baru yang bisa bekerja sesuai dengan standar operasional perusahaan Jepang. 

Yang menarik, disini ada budaya nomikai (minum bersama), biasanya untuk mempererat hubungan antar rekan kerja dan atasan. Biasanya nomikai ini dilaksanakan minimal 1 bulan sekali, tapi ada juga yang seminggu sekali. Dulu waktu masih belum ada anak, aku pasti selalu ikut nomikai, tapi setelah punya anak, hanya beberapa kali saja aku bisa ikut, kalau jadwalku dan suami pas, barulah aku bisa ikutan nomikai dan suami yang jaga anak-anak di rumah.

Foto saat nomikai dengan kawan kantor didalam yakatabune (kapal feri yang didesign menjadi restaurant)

Sebagai Ibu bekerja, gimana cara Septi mengatur waktu antara mengurus keluarga dan juga berkarya di pekerjaan? 

Aku dan suami memiliki pemahaman yang sama bahwa kami adalah tim, urusan mencari nafkah dan membesarkan anak-anak adalah tanggung jawab kami berdua. Maka semua pekerjaan rumah tangga selalu kami bagi bersama. Saat ini suamiku bekerja di rumah, mengerjakan project digital marketing dan membuat animasi, sedangkan aku bekerja di kantor dengan jam kerja dari jam 9 pagi sampai 6 sore.

Tugasku memasak makanan untuk suami dan anak-anakku, dan suamiku mengurus rumah, mengantar-jemput anakku ke sekolah. Dengan memasak, aku merasa bonding dengan anak dan suamiku lebih kuat,  aku bisa mencurahkan rasa cintaku untuk mereka lewat masakanku. 

Kami selalu berdiskusi soal apapun dengan anak-anak, terlebih lagi soal pekerjaan kami. Aku selalu yakin bahwa anak sekecil apapun pasti sudah bisa memahami ketika diajak berdiskusi, bedanya mungkin belum bisa menanggapi. Jadi apabila aku ada urusan pekerjaan, pasti aku berdiskusi dengan anak-anakku dan suami. Mereka adalah team hore dalam hidupku. Dan satu lagi, aku selalu menyempatkan waktu untuk mengajak anak-anak ke taman, minimal seminggu sekali kami main di alam bebas bersama. 

Ada tips yang bisa di bagi ke pembaca Diasporia ngga, soal membangun karir di Jepang, terutama sebagai Ibu bekerja dari Indonesia? 

Tidak ada tips khusus yang bisa aku bagikan. Tapi, sejauh ini menurut pengalamanku, untuk membangun karir di Jepang, modal utama adalah bisa berbahasa Jepang (membaca dan menulis), karena bahasa Inggris saja tidak cukup disini. Selain itu yang pasti sudah sangat mendasar adalah disiplin, kerja keras, dan juga mandiri. Karena disini semua harus dikerjakan sendiri. 

Kebiasaan Keluarga di Jepang

Gimana sih kehidupan keluarga di Jepang pada umumnya? 

Disini, kebanyakan orang tua pasti bekerja. Jadi, anak – anak biasa di titipkan di daycare. Begitu juga dengan anakku yang pertama, sudah kami masukkan di daycare sejak umur 18 bulan. Buatku, hal itu sangat berat di awal, tapi sekarang kami merasa itu adalah keputusan yang tepat karena ikatan hati kami jadi sangat dekat. Rasanya, setiap waktu yang kami habiskan bersama selalu jadi momen berharga. 

Salah satu kebiasaan keluarga Jepang adalah selalu menyempatkan untuk bermain dan piknik di taman bersama anak – anaknya. Aku pun terbawa kebiasaan ini, aku hampir nggak pernah ajak anak – anakku ke mall, tapi selalu tur dari taman ke taman di area apartemen kami.

Gimana pengalaman Septi sebagai Ibu yang membesarkan anak dengan dua budaya (Jepang dan Indonesia), ada hal menarik nggak yang bisa di share ke pembaca Diasporia? 

Banyak pengalaman membesarkan anak-anakku yang rasanya cukup berbeda dengan cara aku dibesarkan di Indonesia. Seingat Aku, almarhum papa sering berkata bahwa “ya namanya juga anak kecil, mau gimana”. Ini kalimat yang selalu papaku ucapkan untuk selalu memaklumi segala tingkah laku aku, adik-adikku ataupun keponakanku.  

Tapi disini, aku mendapatkan pelajaran berharga. 

Orang Jepang, terutama orang tua teman-teman anakku memperlakukan anak-anak mereka berbeda, bagi mereka “justru karena masih kecil, harus diajarkan disiplin sejak dini”. Hampir tidak pernah aku melihat anak-anak berebut mainan, menyelak antrian ataupun tidak membereskan bekas mainan mereka. Semua patuh, disiplin. Ketika ada satu anak yang melanggar, orang tua mereka dengan tegas langsung memperingati anak-anaknya. Tidak pernah aku dengar kalimat minta dimaklumi karena anak mereka masih kecil, yang ada pasti ucapan permintaan maaf karena anak-anak mereka melanggar aturan. 

Betapa bersyukurnya aku berada disini, bisa merasakan langsung cara mendidik anak dengan disiplin lingkungan yang bagus. 


Jika ingin tau lebih banyak tentang Septi, silakan berkunjung ke kanal pribadinya:

Instagram: @septirahmawaw_

Blog: Septi.id

*semua foto disediakan oleh Septi Rahmawati dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Ayesa Syenina: Pengalaman Karir di Singapura, dari Research Assistant Sampai Menjadi Research Fellow

August 30, 2020

Next Post

Clarissa Boediarto: Membangun Karir di Bidang Farmasi di Amerika

September 13, 2020