Mariska Parsons: Berintegrasi dan Membangun Kehidupan Sosial di Selandia Baru

August 16, 2020hellodiasporia

Bermula dari kebingungan dengan masa depan setelah lulus kuliah, Mariska Parsons mengambil diploma di Selandia Baru untuk menambah ilmu dan pengalaman. Tinggal di sana selama setahun membuat Mariska yakin bahwa Selandia Baru adalah tempat yang cocok untuknya, dan saat ini terhitung sudah hampir 10 tahun Mariska tinggal di negara yang sering dijuluki Kiwi ini. Saat awal-awal pindah, Mariska mengalami tantangan yang dialami semua diaspora: merasa kesepian, out of place, dan kadang ga nyambung saat berkomunikasi. Saat ini, keadaannya sudah jauh berbeda dari masa-masa di awal kepindahan itu. Selama satu dekade ini, Mariska sukses membangun kehidupan sosial dan support system di Selandia Baru, dan di wawancara ini Mariska berbagi pengalaman dan tips untuk berintegrasi di sana.

Awal pindah ke Selandia Baru

Hai Mariska, boleh ga ceritain sedikit tentang background kamu dan gimana awalnya bisa pindah ke Selandia Baru? 

Awalnya aku lulus kuliah tahun 2010 dan saat itu aku mengalami masa galau tentang masa depan, dan ngobrol dengan salah satu sahabat yang tinggal di Auckland. Saat itu aku lagi hobi belajar masak dan baking, jadi dia mencetuskan ide untuk ambil diploma cookery yang durasinya hanya setahun. Lumayan untuk menambah ilmu dan pengalaman sambil memikirkan langkah selanjutnya. Aku sendiri sudah lama bercita-cita ingin tinggal di luar Indonesia karena sebagai perempuan minoritas aku merasa gerak-gerikku terbatas di tanah air. Setelah hamper setahun di sini aku yakin New Zealand is where I want to be. Setamat diploma aku mulai bekerja full-time dengan tujuan untuk membangun karir dan kehidupan di sini.

Beradaptasi dan berintegrasi di Selandia Baru

Seberapa gampang/sulit buat kamu untuk adaptasi dengan kehidupan di Selandia Baru? 

Aku berangkat sendiri. Tahun pertama dan kedua adalah tahun yang berat untuk beradaptasi, tapi walaupun agak berat aku menikmati masa-masa adaptasinya. Perasaan kesepian dan out of place mendominasi saat itu, apalagi setelah 6 bulan pertama aku memutuskan untuk tinggal sendirian tanpa flatmate. Pelan-pelan aku bertemu teman-teman Kiwi yang include aku di social circle mereka, kalau mereka undang ke acara aku akan usahakan untuk datang supaya aku nggak stuck hanya bergaul dengan orang Indonesia saja.

Aku juga suka dengan beberapa genre musik dan mengusahakan untuk datang ke acara-acara yang diadakan untuk genre musik itu. Nah, berkat ini lama-lama aku makin kenal banyak orang baik sesama imigran dan orang lokal. Hal unik yang aku alami ketika masa adaptasi, tentunya masalah istilah dan bahasa. Aku sering menyalahartikan kata-kata mereka misalnya. Aku pernah diundang untuk “spa” di rumah teman Kiwi-ku, dan akupun bersiap-siap untung datang pijit… nggak tahunya, di sini spa adalah sebutan mereka untuk kolam jacuzzi outdoors. Jadi, spa itu ya nyemplung ke bak untuk berendam, bukannya untuk dipijit.

Gimana cara kamu berintegrasi ke budaya dan komunitas yang baru atau mungkin asing sebelumnya?

Menurutku rasa percaya diri berbahasa Inggris dan being open minded is very important to adapt to a new culture. Pede saja! Dan sering latihan bercakap-cakap supaya makin lancar mengobrol. Ini adalah kunci berintegrasi dengan komunitas lokal. Gimana mau ngobrol nyambung kalau belum lancar berkomunikasi? Dan juga tentang sudut pandang yang baru. Open minded bukan berarti setuju dengan segala hal baru/ide baru walaupun kamu nggak setuju, ya. Dalam hal ini maksudku adalah mau mendengarkan, mau berdiskusi bersama (tentunya di waktu senggang juga membaca tentang berita lokal, sudut pandang yang berbeda dari budaya kita, dan sebagainya), nggak ngeyel atau memaksa, dan nggak menghakimi orang lain yang punya beda pendapat. Saling menghormati dan bertoleransi, terutama untuk yang terbiasa menjadi mayoritas di Indonesia, ketika menjadi minoritas di negara lain saya bayangkan pasti akan kena culture shock yang lumayan mengagetkan.

Salah satu tantangan buat diaspora adalah mencari teman dan membangun support system di tempat yang baru. Gimana pengalaman kamu, apa tantangan yang kamu hadapi dan gimana mengatasinya?

Menurutku, tantangan yang paling utama adalah perbedaan budaya dan bahasa. Apalagi kalau sudah menyangkut guyonan! Awal di sini aku sering tidak mengerti kalau mereka bercanda dengan istilah khas mereka. Candaan dalam bahasa Indonesia pun tidak lucu ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Pelan-pelan aku belajar selera humor orang lokal, rajin membaca koran dan situs tentang kehidupan di sini. Lama-lama bisa bercanda dengan mereka serta ngobrol-ngobrol a la “banter”. Sering mengobrol dengan orang lokal juga akan memudahkan untuk mengerti aksen mereka yang kadang-kadang sangat kental. Situs seperti Meetup.com juga bagus karena bisa jadi ajang bertemu orang-orang baru baik orang lokal atau sesama imigran.

Bisa share ga kalau ada pengalaman dengan rasa kesepian atau homesick, apa yang kamu lakukan buat mengatasi itu?

Awal-awal tinggal di sini aku lumayan merasa sepi dan homesick (sekarang sudah jarang) – yang aku lakukan untuk mengatasi biasanya dengan memasak dan makan makanan Indonesia favoritku, hang out dengan komunitas/teman-teman sesama Indonesia (jadi bisa puas bercanda ala Indonesia!), nonton acara TV atau film Indonesia dan gabung di Facebook groups sesame perantau.

Tips membangun kehidupan sosial dan support system di Selandia Baru

Dari pengalaman kamu, ada ga tips untuk diaspora Indonesia yang ingin membangun kehidupan sosial dan support system Selandia Baru?

Tips-tipsku sepertinya sudah aku sebutkan di jawaban pertanyaan di atas tanpa sadar, hahaha.

Sekedar rangkuman:

  • Melancarkan skill berkomunikasi dalam Bahasa Inggris (termasuk mencoba mengerti gaya humor mereka)
  • Bersikap terbuka dengan budaya lain
  • Jangan malu bertanya, kalau tidak mengerti istilah yang asing buatku, aku akan minta untuk dijelaskan
  • Gabung dengan komunitas yang selaras dengan minat dan hobimu.
  • Up to date dengan keadaan umum di sekitar, supaya nyambung kalau ngobrol.
  • Bisa juga mencoba volunteering – beberapa temanku ada yang dapat teman dari kegiatan volunteering, tapi aku sendiri belum sempat mencoba

Ada ga kebiasaan orang Kiwi yang udah nular ke kamu?

  • Aku santai banget (laidback) dan nggak merasa dikejar waktu dan harus hustle terus, menikmati work-life balance.
  • Tepat waktu dengan janji, aku nggak suka banget dengan jam karet!
  • Porsi makanku sekarang lebih banyak lauknya daripada nasinya.
  • Sering menggunakan-istilah mereka sehari-hari seperti misalnya ‘nek minit’, ‘yeah, nah’, ‘mate’ dan sebagainya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Adien Galuh: Hidup di Kota Kecil dan Menjadi Wiraswasta di Amerika

August 9, 2020

Next Post

Ayu Widya: Aktualisasi Diri dan Adaptasi di Jerman 

August 23, 2020