Addina Faizati: Serba-Serbi Birokrasi dan Bahasa di Italia

January 10, 2021hellodiasporia

Addina adalah seorang desainer dan ilustrator lepas yang memiliki hobi baking, seorang cat-lady, dan menyukai aktivitas outdoor. Beliau aktif membagikan opini, cerita, dan pengalaman pribadinya melalui blog dan twitter. Addina juga suka membagikan foto-foto kegiatan outdoor dan kucingnya melalui akun pribadinya di Instagram.

Menetap di luar negeri terdengar seperti sebuah fantasi yang penuh dengan hal-hal indah dan menyenangkan bagi kebanyakan orang. Namun sebenarnya, ada banyak sekali tantangan yang harus dihadapi seorang pendatang, dari adaptasi cuaca, budaya dan kebiasaan, urusan birokrasi, sampai pada hal yang kerap kali tidak kita sadari sangat vital dalam kehidupan sehari-hari: bahasa. Kedua hal terakhir yang saya sebutkan tadi adalah kedua hal yang cukup banyak menguras energi saya selama dua tahun terakhir tinggal di Italia. Bahasa dan birokrasi.

Awal pindah ke Italia sampai sekarang

Tahun 2020 ini adalah tahun keempat saya tinggal di Italia, negeri yang terkenal dengan kuliner, budaya, dan destinasi alam yang seolah tidak ada habisnya. Dua tahun pertama saya tinggal di Milan, kota yang sudah tidak asing lagi namanya, sebagai seorang pelajar. Saya harus mengakui bahwa kehidupan saya sebagai pelajar di Milan, despite all the struggles and the hard work, masih tergolong zona yang nyaman dan aman untuk seorang pendatang.

Berada di lingkungan akademis dan sekolah internasional mempermudah saya untuk berkomunikasi dengan dominasi Bahasa Inggris – akses informasi mengenai birokrasi yang disediakan kampus dalam Bahasa Inggris, dan bantuan dari teman-teman pelajar, baik teman internasional maupun sesama pelajar dari Indonesia. Batu-batu sandungan berupa bahasa dan birokrasi masih bisa saya lalui dengan fasilitas dan kemudahan informasi yang ada selama di Milan.

Hal tersebut mulai berubah sejak saya menyelesaikan masa studi saya terhitung akhir tahun 2018 lalu. Tidak lama kemudian, dua bulan setelahnya, saya memutuskan menikah dan ikut suami saya yang bekerja di salah satu kota di Italia yang relatif lebih kecil daripada Milan, yaitu di kota Brescia dari awal tahun 2019.

View kota Brescia

Proses mengurus izin tinggal di Italia

Jika ada pertanyaan: “Mengapa memutuskan cepat-cepat menikah?”, salah satu alasan utama kami adalah birokrasi. Alasannya, pada saat saya lulus, saya masih memiliki izin tinggal sebagai pelajar dan bebas bepergian keluar dari dan ke Italia selama satu tahun, dengan catatan saya tidak boleh berada di luar Italia berturut-turut selama lebih dari 3 bulan. Jika melewati batas waktu tersebut, maka izin tinggal saya dianggap hangus dan kalau saya berencana kembali ke Italia maka saya harus mengulang dari awal perizinan tersebut dimulai dari VISA. Dengan pertimbangan tersebut, kami memutuskan untuk segera menikah untuk lebih ‘mempermudah’ proses tersebut.

Selanjutnya setelah menikah dan pindah ke Brescia, ada dokumen lain yang harus kami urus. Kami harus mengganti status izin tinggal kami yang sebelumnya masing-masing sebagai pelajar menjadi izin tinggal kerja dan keluarga. Tentu saja tidak mudah, karena status pernikahan kami tercatat di KUA Indonesia dan dalam buku nikah yang tertulis dalam Bahasa Indonesia. Langkah pertamanya, kami harus memiliki akta nikah yang diakui oleh Italia.

Setelah kami telusuri, ternyata langkah-langkah yang harus dilakukan adalah melakukan legalisasi buku nikah kami dari KUA tempat dilangsungkan pernikahan di Indonesia, dilanjutkan dengan legalisasi Kementrian Agama, Kementrian Hukum dan HAM, kemudian semua dokumen tersebut harus melalui proses translasi ke dalam Bahasa Italia, dan harus diakui oleh Kedutaan Besar Italia di Indonesia. Kami terpaksa meminta bantuan jasa di Indonesia untuk membantu kami melengkapi dokumen yang kurang tersebut.

Setelah melalui proses kurang lebih 2-3 minggu, akhirnya dokumen-dokumen tersebut beres, dan kami bisa memiliki akta nikah yang diakui oleh Italia dan kami bisa membuat izin tinggal sebagai suami istri. Apakah kemudian prosedur birokrasional sudah beres? Oh, tidak semudah itu, Ferguso.

View di salah satu pegunungan di Italia tengah

Program sekolah bahasa sebagai salah satu persyaratan memiliki izin tinggal

Selanjutnya, sebagai seorang istri yang tidak memiliki pekerjaan tetap sebagai sponsor izin tinggal, saya harus mengikuti prosedur wajib selanjutnya sebagai pendatang, yaitu mengikuti program sekolah bahasa hingga selesai level dasar A2. Prosedur ini juga merupakan salah satu persyaratan agar saya bisa memiliki izin tinggal dengan jangka waktu yang lebih panjang dari sebelumnya.

Sekolah resmi dari pemerintah Italia ini biasa disebut sebagai pusat pendidikan untuk pendatang. Sekolah ini selain menyediakan pendidikan Bahasa Italia, juga ada program Bahasa Inggris, dan program-program yang bisa membantu pendatang untuk mencari pekerjaan di Italia seperti sekolah setara SMK.

Pada pertengahan tahun 2019 saya mengikuti sekolah tersebut dan saya ditempatkan langsung di level A2. Selama sekolah bahasa, yang diajarkan tidak hanya Bahasa Italia, namun juga serba-serbi pengetahuan dasar yang dirasa harus dimiliki selama tinggal di Italia seperti pengenalan terhadap budaya, geografis, sedikit tentang sistem pemerintahan, kesehatan, dan hingga sistem sekolah di Italia (terutama untuk keluarga yang diasumsikan anak-anaknya akan bersekolah di Italia).

Saya bersekolah dengan sekitar 15 orang teman-teman pendatang dari berbagai macam latar belakang dan asal negara. Sebagian besar dari mereka yang memiliki dasar Bahasa Perancis dan Spanyol mampu mengikuti kelas dengan lebih cepat. Pertengahan tahun 2020 ini saya sudah menyelesaikan program Bahasa Italia level A2 saya dan sekarang sedang menunggu proses perpanjangan izin tinggal.

Saya sendiri sekarang bisa berkomunikasi sedikit demi sedikit menggunakan Bahasa Italia meskipun untuk berdialog saya masih banyak grogi dan tegang. Saya juga mulai berkomunikasi dengan teman-teman Italia dengan Bahasa Italia, dan mereka selalu mendukung dan mengapresiasi usaha saya untuk belajar dan menggunakan bahasa mereka.

Addina di pegunungan di Italia utara

Kira-kira seperti itu serba-serbi dokumen dan birokrasi yang sudah dan sedang saya lalui selama di Italia. Saya juga pernah membagikan lebih lengkap gambarannya melalui blog pribadi saya di sini. Saya sendiri memahami benar mengapa proses-proses tersebut harus dilalui sebagai pendatang. Proses yang saya lalui sebagai pendatang juga sedikit banyak menginspirasi saya dan melahirkan sebuah ide untuk mempermudah pendatang di Italia, yang walaupun masih berupa proposal, saya berharap akan ada tim yang berwenang yang bersedia untuk membangun dan mengembangkannya bersama.

Sekarang saya berencana untuk melanjutkan sekolah bahasa ke jenjang menengah (B1) agar saya lebih memiliki kepercayaan diri dan keberanian berbahasa. Namun karena situasi pandemi, saat ini sekolah masih tutup dan belum tahu apakah akan dibuka kelas menengah tersebut. Pandemi ini juga berpengaruh pada proses perpanjangan izin tinggal saya terutama pada proses yang melibatkan tatap muka langsung (fingerprint). Harapan saya, semoga di tahun 2021 proses birokrasi dapat menjadi lebih baik dan nyaman lagi untuk pendatang seperti saya ke depannya.

Saya percaya tidak semua negara memiliki proses birokrasi yang rumit untuk pendatang, namun semoga cerita saya juga bisa memberikan gambaran pada teman-teman bahwa hidup sebagai pendatang juga berarti kesiapan untuk hal-hal yang ‘kurang indah’ yaitu berupa paperworks dan birokrasional.

Foto dan teks oleh Addina Faizati, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.


Ingin mengikuti Addina di media sosial?

Instagram: https://www.instagram.com/addinaf/

Blog: https://addinaf.blogspot.com/

Web: https://www.addinaf.com/

Youtube: https://www.youtube.com/c/AddinaFaizati/videos

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Tiga Tahun di Amerika

December 27, 2020