Lovira Ladieska: Menjalani Bulan Ramadan saat Pandemi di Perancis

May 9, 2021hellodiasporia

Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya akan tinggal di Perancis. Memang sih sedari kecil, saya selalu ingin menjadi “Citizen of The World”, namun sejujurnya Perancis tidak pernah termasuk ke daftar negara favorit saya untuk ditinggali. Saya lahir dan tumbuh besar di Jakarta. Walau sempat merantau ke beberapa kota di Indonesia saat kuliah, merantau kali ini terasa berbeda. Selain karena saya sudah menjadi seorang istri, suasana Ramadan tahun ini yang masih dalam situasi pandemi menjadi tantangan tersendiri. 

Awal pindah ke Perancis

Saya pindah ke Perancis bulan Januari 2021, tepat saat musim dingin. Sampai saat ini belum terhitung 6 bulan saya tinggal di negara yang terkenal akan Baguette nya ini.  Saat ini saya tinggal di Rennes, ibukota dari Region Bretagne yang berada di Barat Perancis, dapat ditempuh selama 1 jam dengan kereta dari Ibukota Paris. Berbekal sedikit Bahasa Perancis yang pernah saya pelajari di tahun 2015 karena iseng, saya tidak terpikirkan kemampuan saya ini akan berguna pada 6 tahun kemudian. Saya pindah ke Perancis karena saya berjodoh dengan seorang Diaspora Indonesia yang sudah menetap di Perancis sejak tahun 2013, sekaligus berencana untuk melanjutkan pendidikan saya di sini.  

Situasi Pandemi di Perancis 

Pindah ke Perancis bulan Januari, tentunya situasi masih dalam keadaan pandemi. Sudah 1 tahun terakhir pemerintah Perancis melakukan kebijakan berupa penggunaan masker di seluruh tempat, confinement (lockdown) dan couvre – feu (jam malam). Disaat semua orang mengira saya akan menjalani hidup bak seri film Emily in Paris, kenyatannya saat ini Perancis masih menerapkan sistem confinement, jadi saya ga bisa pergi kemana – mana deh, ha ha ha.

Toko – toko tutup, yang buka hanya swalayan, pasar tradisional, apotik, restoran, dan café. Itupun dibuka sesuai jam malam yang berlaku, maksimal buka hingga pukul 18.00 atau 19.00. Untuk restoran dan café yang buka, semua makanan dan minuman hanya boleh dibawa pulang. Artinya, tidak ada dine in sama sekali. Restriksi untuk pergi ke luar kota (antar region) di Perancis juga ada. Untuk pergi ke luar kota diperlukan surat – surat resmi karena akan dilakukan inspeksi di tiap perbatasan kota  Penerbangan ke luar dan dalam Perancis masih tetap ada namun harus didasari alasan tertentu seperti alasan diplomatik, bisnis, atau karena memiliki visa pelajar.

Suasana pasar tradisional yang tetap buka saat Pandemi

 

Untuk distribusi vaksinasi, hingga April 2021 pemerintah Perancis masih memberikan vaksinasi COVID – 19 secara bertahap untuk tenaga medis, lansia, dan warga yang memiliki penyakit – penyakit tertentu. Diharapkan pada awal musim panas atau sekitar juni 2021, warga dewasa yang sehat sudah dapat mulai di vaksinasi.

Ditengah situasi pandemi seperti ini, bila saya bosan dan ingin refreshing, biasanya saya berkumpul dengan teman kampus saya di taman sekitar kota. Walau tidak ada café atau restoran yang buka, hal ini lumayan cukup mengobati kekangenan saya akan interaksi langsung dengan orang lain yang sudah menurun drastis semenjak pandemi. 

Adaptasi merantau di Perancis

Mungkin pernah mendengar bahwa Perancis memiliki stereotip yang sudah terkenal mendunia, seperti orang Perancis tidak bisa berbahasa Inggris, kurang ramah, dan tidak toleran. Namun selama saya tinggal di Rennes, saya tidak merasa stereotip itu 100% benar. Memang benar sulit untuk mencari orang yang bisa berbahasa Inggris disini, namun saya merasa orang Perancis cukup ramah dan toleran selama kita mencoba untuk berbicara dengan bahasa Perancis, walaupun masih terbata – bata dan tidak lancar. 

Melepas penat dengan piknik di taman bersama teman – teman karena restaurant dan café tutup (masker di buka sementara untuk foto ☺)

 

Saya sendiri yang sudah pernah belajar bahasa Perancis di Indonesia lumayan shock ketika sampai disini, dikarenakan saya belum terbiasa dengan pelafalan dan aksen mereka yang cukup cepat dan kental. Walau sekarang saya sedang mengikuti sekolah bahasa sebelum S2 yang akan saya ambil, saya terkadang merasa kesulitan dan harus beradaptasi dengan cepat karena kebanyakan dari mereka tidak merespon bila diajak berbicara dengan bahasa Inggris. Terkadang saya juga rindu untuk berbicara bahasa ibu (selain dengan suami saya tentunya), untung saja disini ada komunitas orang Indonesia seperti Persatuan Pelajar Indonesia sehingga saya dapat mengenal sesama pelajar yang tinggal di Rennes. 

Menjalani bulan Ramadan di Perancis

Bulan Ramadan kali ini terasa berbeda, karena saya harus menjalani ibadah puasa pertama kalinya di negara lain. Di Perancis suasana Ramadannya tidak begitu terasa, karena secara statistik memang mayoritas penduduknya adalah Atheis. Namun bila dibandingkan dengan negara di Eropa lainnya, Perancis memiliki penganut agama Islam yang cukup tinggi, dikarenakan lokasi negara nya yang cukup dekat dengan negara – negara di Afrika bagian Utara (Aljazair, Tunisia, Mesir, Maroko). Banyak imigran dari negara tersebut yang beragama Islam, sehingga Masjid cukup banyak ditemukan. 

Bagian makanan Halal yang tersedia di supermarket besar di Perancis

 

Selain itu, banyak toko dan supermarket yang menyediakan bagian “Halal” untuk memfasilitasi para Muslim di Perancis dalam mencari sumber makanan seperti daging yang dipotong sesuai syariat Islam. Menurut warga muslim lainnya yang saya temui disini, setiap bulan Ramadan biasanya masjid akan mengadakan buka puasa gratis setiap harinya kepada warga yang ingin berbuka puasa sambil shalat maghrib. Makanan yang disediakan biasanya makanan khas Maroko, atau negara Afrika Utara lainnya. Namun karena pandemi, maka tradisi ini terpaksa ditiadakan terlebih dahulu. 

Untuk durasi puasanya sendiri, dikarenakan saat ini sedang peralihan dari musim dingin ke musim semi, maka matahari cukup lama. Subuh biasanya jatuh pada pukul enam pagi, untuk maghribnya sendiri berkisar antara pukul sembilan malam hingga stengah sepuluh malam. Saya belum terbiasa dengan durasi puasa yang cukup panjang ini. Apalagi harus buka puasa dengan jenis makanan yang cukup berbeda. Saya cukup rindu dengan suasana ramadan di Indonesia. Adanya acara buka puasa bersama, makan berbagai jenis takjil tradisional seperti kolak, bubur sumsum, gorengan, jajan pasar, dan lainnya. Untungnya ada Asian Market dekat rumah, walaupun bahannya tidak lengkap, setidaknya saya yang sebelum pindah ke Perancis tidak pernah memasak, “terpaksa” harus bisa memasak agar dapat mengobati kerinduan saya akan makanan Indonesia yang saya biasa makan untuk berbuka, hehehe. 

Menjadi perantau sebagai diaspora Indonesia (dimanapun) merupakan suatu pengalaman berharga yang tidak bisa didapatkan semua orang. Dibutuhkan kemandirian, kemampuan adaptasi, dan pola pikir yang terbuka untuk menghadapi perbedaan kultur, birokrasi, cuaca, dan budaya. Maka dari itu pesan saya untuk para diaspora lainnya, gunakan kesempatan berharga ini untuk belajar banyak hal, terutama bagaimana untuk tetap bertahan diluar zona nyaman. Walau tantangan pasti akan selalu ada, mais c’est la vie! ☺ 


Teks dan foto oleh Lovira Ladieska, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Jika ingin mengikuti cerita Dieska di media sosial, kunjungi Instagram dan Blog Dieska. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Karnia Adhasia Katampa: Pengalaman Merantau dan Melahirkan di Amerika Serikat

April 25, 2021

Next Post

Diaspora Indonesia di Faroe Islands

Reni Heimustovu: Slow Living di Belahan Bumi Utara

May 23, 2021