Fitria Sungkar: Dari Jakarta ke London – Migrasi di Masa Pandemi

January 31, 2021hellodiasporia

Fitria Sungkar adalah mantan wartawan CNN Indonesia TV yang belum lama ini bermigrasi ke London, Inggris. Tak mau skillnya berkarat, saat ini Fitria mencoba peruntungan dengan memproduksi konten video. Pada kesempatan ini, Fitria menceritakan lika-liku perjalanan mendapatkan visa dan perjuangan dalam mencari pekerjaan di tengah pandemi global. 

Saya tumbuh dan dewasa dengan kepercayaan bahwa wanita tidak boleh ngekor laki-laki. Ironisnya, setelah 30 tahun besar di Jakarta, saya bermigrasi ke London, Inggris untuk membangun hidup bersama suami. Walaupun kesempatan pindah ke luar negeri adalah mimpi banyak orang, saya tidak pernah punya keinginan untuk menetap. Kuliah satu atau dua tahun, boleh lah. Jangka panjang? Jakarta memang carut marut, tapi itu rumah saya. Sulit membayangkan saya bisa mempunyai perasaan seperti itu  di negeri orang.

Migrasi di masa pandemi

Sejak 2018 hingga awal 2020 bisa dibilang saya bolak-balik Jakarta – London. Hal itu yang membuat saya tidak begitu kesulitan beradaptasi dengan tata kota, budaya, kebiasaan, serta pola komunikasi warga lokal. Meskipun lahir dan besar di London, suami saya 100% berdarah Indonesia. Hal tersebut yang juga memudahkan saya berakulturasi. Alhamdulillah saya tidak merasakan culture shock.

Dari Jakarta ke London - Migrasi di Masa Pandemi
Keramaian Millenium bridge sebelum pandemi

 

Pada Maret 2020 saya mengajukan permohonan visa istri. Saat itu saya baru pulang setelah berkunjung selama dua bulan. Saya dan suami memprediksikan setidaknya setelah lebaran saya sudah di London lagi. Lalu pandemi datang. Proses yang harusnya memakan waktu 3 bulan, molor jadi 7 bulan. Selama 7 bulan itu lah saya hidup di limbo.

Sejak pertengahan 2019 saya sudah resign dari pekerjaan sebagai wartawan untuk mengurus Almarhumah ibu. Setelah beliau wafat di akhir 2019, saya sedikit kehilangan arah. Saya mau kerja lagi, tapi harus daftar di mana? Di Jakarta pekerjaan paruh waktu sangat sulit didapatkan. Kalau daftar kerja di London juga belum tau kapan visa keluar.

Sangking minimnya informasi tentang progress visa, beberapa kali saya harus kirim email ke Departemen Imigrasi Inggris. Namun Alhamdulillah pada September 2020 akhirnya saya bisa berangkat. Kali ini tanpa tiket pulang. Saya belum sepenuhnya ikhlas pergi dari Indonesia. Karena pandemi, saya tidak bisa pamit ke keluarga besar.

Saat itu Inggris baru keluar dari lockdown pertama. Saya masih sempat bertemu beberapa teman dan keluarga. Tak lama setelah itu, tingkat infeksi di seantero Inggris Raya tak terkontrol. Sejak Oktober 2020 pergerakan warga sudah dibatasi dengan berbagai macam restriksi.

Namun di saat yang sama, banyak kemudahan yang didapatkan di tempat tinggal baru saya ini. Hal-hal simpel seperti akses ke penjual makanan Asia dan produk halal bisa dijangkau dengan jalan kaki. Kami tinggal di daerah dengan tingkat keberagaman yang cukup tinggi. Mulai dari French bakery hingga Iranian shop ada di daerah tempat kami tinggal. Ini yang tak bisa saya dapatkan di Jakarta.

Mimpi membangun karir di negeri orang

Saat ini pekerjaan full time saya adalah mencari kerja. Mungkin sudah lebih dari 20 lamaran kerja yang saya kirim. Sejak bulan September baru satu kali saya tembus sampai tingkat wawancara. Memang 5 bulan bukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan, apalagi dengan status imigran. Namun, 5 bulan juga bukan waktu yang singkat. Yes, people that are close to me often said I’m extremely hard on myself. Dari awal saya sudah mengingatkan diri bahwa membangun karir di negara yang kompetitif bukan perkara mudah. Apalagi di masa pandemi. Kalau ada rezeki, saya juga ingin sekolah lagi.

Bermula dari “liputan” singkat tentang pengalaman traveling di masa pandemi, saya iseng bikin kanal YouTube . Tidak ada ruginya. Lalu sebagai imigran baru, saya ingin tau bagaimana perjuangan sesama orang Indonesia di perantauan. Saya ingin menghapus stigma kalau hidup di luar negeri pasti glamor. Memang ada yang begitu, tapi sebagian besar adalah pekerja keras.

Dari Jakarta ke London - Migrasi di Masa Pandemi
Hujan salju langka yang mengguyur London

 

Pucuk dicinta ulam tiba. Orang Indonesia pertama yang saya liput adalah penjual kopi yang berjualan tak jauh dari tempat saya tinggal. I was elated. Saya merasa jadi wartawan lagi. Namun seperti radio rusak, Inggris lockdown lagi. Semua perencanaan tertunda. Rasanya seperti maju satu langkah, mundur dua langkah. Tapi saya tahu, proses kreatif tidak boleh terhenti hanya karena lockdown.

Menjadi Bagian dari Komunitas

Dari Jakarta ke London - Migrasi di Masa Pandemi
Fitria di Museum Tate London pada Desember 2018

 

Kebanyakan orang Indonesia beranggapan bahwa masyarakat barat adalah masyarakat yang individualistis. Hal ini tak sepenuhnya benar. Sejak pertama kali berkunjung ke London, saya tidak pernah merasa sebagai pendatang. Dengan tingginya jumlah imigran di Inggris dan keberagaman orang yang penuh sesak di London, membuat saya secara instan merasa bagian dari komunitas yang besar.

Orang-orang sangatlah ramah, saling menyapa meski tak kenal. Orang Inggris sangat sopan dan taat aturan. Saya bisa berjalan kaki ke mana pun, banyak taman yang terbuka untuk umum, akses pelayanan kesehatan yang merata, bisa bebas bersuara, arsitektur yang kalau kata anak sekarang estetik dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut yang membuat saya merasa beruntung tinggal di Inggris. Oh iya. Meskipun sebagai wanita Muslim saya jadi minoritas, tapi ada rasa beruntung. Saya punya kacamata baru.

Banyak kemewahan di Indonesia yang tidak akan bisa saya dapatkan di Inggris. Tapi, hal-hal tersebut tergantikan dengan quality of life yang juga tak akan pernah bisa saya dapatkan di Indonesia. Kembali ke setiap individu untuk mengartikan “kemewahan” tersebut.

Meskipun masih terlalu dini untuk saya bisa berbagi saran, tapi bagi teman-teman Diasporia yang berencana atau bermimpi untuk tinggal di luar negeri pesan saya adalah perbanyak stok sabar dan turunkan ekspektasi. Di saat yang sama, sambut semua perbedaan, kultur dan kebiasaan dengan tangan terbuka. Kalo kata orang-orang bisa karena terbiasa. Jika sudah terbiasa, rasa asing itu akan hilang kok. Dan yang terpenting, jangan pernah merasa inferior di hadapan orang barat. Orang Indonesia itu hebat-hebat!

Foto dan teks oleh Fitria Sungkar, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.


Ingin mengikuti Fitria di media sosial?

Instagram : https://www.instagram.com/fmsungkar/

YouTube : https://www.youtube.com/channel/UCtin1GzfqvZOn5mFdM2l_5g

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Addina Faizati: Serba-Serbi Birokrasi dan Bahasa di Italia

January 10, 2021

Next Post

Faradyzka Aurora Kencana: Adaptasi dengan Budaya 'Ppalli Ppalli' di Korea Selatan

February 14, 2021