Efi Yanuar: Lima Hal yang Seharusnya Saya Ketahui Sebelum Pindah ke Kolombia

April 11, 2021hellodiasporia

Kaki saya menginjak dataran Amerika Selatan pertama kali pada Juni 2016. Artinya hampir lima tahun saya menjadikan Kolombia sebagai “rumah”. Apakah, saya sudah merasa kerasan di negara ini? Seandainya saja saya tahu lima hal di bawah ini sebelum pindah ke Kolombia (mungkin) cerita hidup saya akan berbeda.

Perkenalkan nama saya Efi, seorang anak Jakarta yang kini tinggal di Kolombia. Alasan saya pindah karena ajakan pasangan saya untuk mencoba peruntungan baru di negara terjauh dari Indonesia ini. Sebelumnya saya tidak pernah tinggal di Kolombia maupun negara Amerika Latin yang lain. Sudah dapat dipastikan gegar budaya pun saya alami, ya memang hal itu tidak bisa dihindari.

Berbekal pengalaman merantau sebelumnya, saya berpikir kalau saya akan baik-baik saja memulai hidup baru di Kolombia. Namun, kenyataannya tidak semudah itu bund, gegar budaya itu selalu menghantui.

1. Bahasa Spanyol ternyata rumit

Saya tahu kalau masyarakat Kolombia berbahasa Spanyol. Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya pernah kursus bahasa ini, saya pun jumawa, “ah, gampanglah pasti bisa mengerti”.

Nyatanya zonk!

Bahasa Spanyol saya masih jauh dari cukup untuk menghidupkan percakapan. Pernah saya lihat meme yang membandingkan kelas bahasa asing dengan bertemu penutur asli bahasa tersebut di negaranya.

Gambarannya seperti ini: Belajar bahasa asing di negara kita itu serupa minum air dari keran. Aliran airnya tidak terlalu deras dan kita tidak akan tersedak. Sementara saat kita berada di negara asing kita akan seperti disemprot air berkuatan tinggi. Kebayang dong?

Masalah saya makin pelik karena tinggal di desa, penggunaan bahasa Spanyolnya tuh jauh dari kata baku dan banyak slang yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

“Kenapa enggak pake bahasa Inggris?”

Buat apa juga, toh bahasa resmi di sini bahasa Spanyol. Ya, sebenarnya sih emang saya aja yang lambat dalam menguasai bahasa Spanyol.

Berpose di depan Casa Narino, Istana Presiden Kolombia di Bogota

2. Keamanan yang tidak terlalu kondusif

Kolombia dikenal dengan cerita kelam masa lalu, namun berangsur-angsur kondisi keamanan negara ini mulai membaik. Tidak mengherankan kalau pemerintah Kolombia gencar mempromosikan pariwisatanya. Jumlah pelancong pun terus meningkat, bahkan negara yang satu ini menjadi salah satu destinasi pilihan para ekspatriat untuk pensiun.

Apakah hal tersebut bisa dijadikan patokan bahwa Kolombia benar-benar aman?

Enggak bisa hyung!

Saya tidak bermaksud untuk membuat kalian paranoid, namun kejahatan di Indonesia tuh bisa dianggap enggak ada apa-apanya dibanding Kolombia. Berselisih paham dengan orang lain bisa berujung dengan hilangnya nyawa.

Pernah saya bercakap-cakap dengan seorang WNI yang mengaku tidak pernah mengalami hal buruk di Kolombia. Kepadanya saya bilang bahwa nasibnya saja membuatnya tidak bersinggungan dengan kesialan. Menurut saya sih, selain nasib baik, yang menentukan selamat atau tidaknya kita di Kolombia adalah di mana kita tinggal. Semakin tinggi strata sosial domisili semakin aman lingkungannya.

Pernah juga saya bercakap-cakap dengan  orang Kolombia yang tinggal di Indonesia, menurutnya hal yang akan dirindukan dari Indonesia jika tiba waktunya kembali ke Kolombia adalah rasa aman.

La Comuna 13 yang sempat menjadi tempat paling tidak disarankan dikunjungi di Kolombia. Medellin, Kolombia.

La Comuna 13, distrik yang dulunya dikenal sarang kriminal kini bertransformasi menjadi lebih artistik dengan hiasan mural. Medellin, Kolombia.

3. Keberadaan fasilitas umum sampai ke pelosok

Saya lahir dan besar di Jakarta dan selalu beranggapan kehidupan di luar Jakarta secara khusus atau luar Jawa secara umum tidaklah sebaik ibukota. Maksudnya begini, fasilitas hidup di Jakarta seperti kendaraan umum, layanan kesehatan, jalanan mulus, listrik yang selalu ada lebih mudah didapat di ibu kota ketimbang di daerah terlebih di daerah pelosok.

Hal tersebut tidak terlalu saya alami di Kolombia. Saat ini saya tinggal di daerah pegunungan yang jarak dengan kampung terdekat sekitar 7 kilometer. Meski demikian saya masih mendapat akses kendaraan umum tiap hari, pusat kesehatan pun ada walaupun dokter hanya datang dua kali dalam seminggu. Koreksi saya kalau hal seperti ini sudah bisa didapat oleh orang Indonesia yang tinggal di daerah rural.

4. Penduduk Kolombia sangat relijius

Saya  pernah berpikir kalau negara-negara barat akan lebih liberal ketimbang Indonesia. Nyatanya tidak demikian di Kolombia. Negara yang  satu ini tidak berbeda jauh dengan Indonesia untuk urusan agama, mereka tergolong relijius.

Kalau baca di Wikipedia, rupanya sampai tahun 1991 Kolombia merupakan negara Katolik. Agama yang satu itu sudah menjadi bagian dari negara Kolombia sejak kedatangan penjajah Spanyol. Barulah pada 1991, setelah referendum konstitusi, Kolombia tidak lagi menjadi negara agama tertentu, semua penduduk Kolombia memiliki hak yang sama di mata negara.

Sekarang saya baru sadar mengapa sebagian besar hari libur di Kolombia tuh, berhubungan dengan perayaan keagamaan. Now I know!

Contoh lain soal betapa relijiusnya Kolombia adalah bagaimana penduduknya selalu menyebut “si dios quiere” yang artinya jika Tuhan mengizinkan. Persis ya seperti “Insya Allah” di Indonesia. Dan, tahukah kalian kalau reaksi saya terhadap kedua ekspresi di atas pun sama, yaitu saya yakin hal yang dijanjikan tidak akan terwujud.

Tipikal tata ruang desa & kota di Kolombia, ada gereja utama dengan alun-alun di sekitarnya. Guatape, Antioquia, Kolombia

5. Hak LGBT Dilindungi Negara

Meskipun banyak orang Kolombia yang relijius, itu tidak membuat negara kehilangan gigi untuk melindungi hak warga negaranya. Misal nih, Kolombia melindungi hak hidup para homoseksual. Mereka bisa menikah secara legal sampai diperbolehkan mengadopsi anak. Btw, hal ini bukan perkara kecil, loh. Soalnya hanya ada 27 negara yang memperbolehkan pasangan maupun lajang LGBT+ untuk mengadopsi anak.

Kolombia sendiri memperbolehkan masyarakat LGBT untuk mengadopsi anak sejak November 2015. Keputusan tersebut disahkan bahkan sebelum pemerintah melegalkan pernikahan sesama jenis pada April 2016.

Apakah penduduk Kolombia bisa menerima hal tersebut?

Sama aja seperti di Indonesia, kakak, banyak yang julid terhadap pilihan hidup orang lain.


Baiklah, sekarang kembali ke argumen saya di awal tulisan ini “seandainya saja saya tahu lima hal di bawah ini sebelum pindah ke Kolombia (mungkin) cerita hidup saya akan berbeda.” Apakah benar demikian?

Ya tentu saja tidak melulu benar, karena informasi yang kita dapat tentang suatu negara sebelum kita menjejakan kaki hanya sebatas bekal. Sebab kemungkinan besar pengalaman yang kita dapat akan sangat berbeda dengan apa yang kita ekspektasikan. Namun, di situlah kenikmatan merantau ke negeri orang. Siapa yang setuju dengan saya?

Teks dan foto oleh Efi Yanuar, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Jika ingin mengikuti cerita Efi di media sosial, kunjungi Instagram dan channel Youtube Efi. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Naz Majidah: Born and Raised in the Diaspora: What to Do and What to Expect About Living in the United States

March 28, 2021

Next Post

Karnia Adhasia Katampa: Pengalaman Merantau dan Melahirkan di Amerika Serikat

April 25, 2021