Eurisca Enditaputri: Belajar Sambil Melestarikan Budaya Indonesia di Hangzhou

September 27, 2020hellodiasporia

Eurisca Enditaputri atau biasa di panggil Icha adalah mahasiswi Zhejiang University of Technology Hangzhou, China (浙江工业大学).  Sebagai perempuan dari kota kecil dengan mimpi besar, perjalanan Icha untuk sampai ke negeri Cina tentunya tidak mudah. Di artikel ini, Icha berbagi pengalaman kuliah di Cina, mengatasi culture shock, hingga kegiatannya melestarikan budaya Indonesia di perantauan. 

Teks dan gambar oleh Eurisca Enditaputri. 

Hai, kenalin nama aku Eurisca Enditaputri, teman- teman sering panggil Icha. Tahun ini usia aku genap 20 tahun. Asal aku dari Kalimantan Tengah, tepatnya dikota kecil bernama Muarateweh. Saat ini aku adalah mahasiswi program International Economics and Trade (Chinese Business) di Zhejiang University of Technology di kota Hangzhou, Cina. Kegiatan aku saat ini yaitu kuliah, mengajar, dan aku adalah salah satu ketua dari organisasi Indonesian dance & music community yang bernama Sanggar Wayang di Hangzhou, Cina.

Dari Muarateweh ke Hangzhou: Proses Pendaftaran Kuliah di Cina

Aku sudah mempunyai ketertarikan tinggi terhadap dunia bisnis sejak aku masih SMP. Lewat bisnis, aku belajar manajemen waktu, lebih awas menghadapi kesempatan yang datang, dan dapat banyak ilmu lainnya. Saat sedang mempersiapkan diri untuk kuliah, aku tertarik banget untuk melanjutkan kuliah ke Cina, karena aku lihat Cina sedang berkembang pesat dari segi bisnis dan ekonomi. Rasanya, pilihan tepat untuk kuliah bisnis di Cina, karena aku ingin menjadi pengusaha yang sukses di Cina dan Indonesia nantinya.

Tapi, perjalanan aku untuk bisa sampai kuliah di Cina tuh cukup rumit. Apalagi, aku berasa dari kota kecil. Rasanya untuk kuliah di luar negeri itu sangat sulit untuk dicapai, karena kurangnya akses informasi. Untungnya, aku dapat informasi dari salah satu saudara yang memberi tahu soal program foundation di salah satu lembaga bahasa internasional di kota Surabaya. Lembaga ini juga menyediakan beasiswa dan bisa membantu untuk pendaftaran universitas di Cina dan Taiwan.

Awalnya aku tidak terlalu serius untuk daftar, karena aku merasa insecure. Akhirnya aku juga mengikuti proses ujian masuk universitas di Indonesia, tapi tidak diterima. Mungkin sudah jalannya untuk aku pergi ke Cina, akhirnya aku memutuskan untuk fokus belajar bahasa Mandarin di lembaga bahasa tersebut. Proses belajar bahasa Mandarin buatku susah banget, walaupun aku berusaha semaksimal mungkin, setiap hari rasanya ada pressure. Tapi karena aku sudah bertekad bulat untuk kuliah ke Cina, aku nggak putus asa dan selalu semangat. Akhirnya, aku diterima di universitas tempatku kuliah sekarang dan bisa berangkat ke Cina.

Suka – Duka Hidup di Cina Sebagai Mahasiswi Indonesia

Proses adaptasi di Cina bisa dibilang cukup mudah untuk aku, karena di Hangzhou cukup banyak orang Indonesia. Aku beruntung bisa merasakan kebersamaan bareng teman – teman yang sama – sama merantau. Kami saling rangkul dan membantu sesama orang Indonesia. Selain itu, aku juga senang dapat pengalaman hidup baru dari segi bergaul dengan teman – teman dari berbagai negara.

Walaupun begitu, aku juga merasakan berbagai tantangan, mulai dari kangen masakan Indonesia, sampai kendala di bahasa dan juga kegiatan beribadah. Untuk mengatasinya, aku sering berbagi pengalaman dengan kakak senior di universitasku. Selain itu, aku juga banyak nonton film atau serial drama Cina dan mendengarkan musik Cina untuk melatih kemampuan mendengarkan, membaca, dan menulis bahasa Mandarin. Soal beribadah, Puji Tuhan gereja aku punya kegiatan online jadi aku tetap bisa beribadah lewat live streaming.

Culture Shock Terhadap Gaya Hidup di Cina

Gaya hidup di Cina cukup unik menurut aku. Ada hal – hal yang aku rasa cukup menarik, misalnya orang lokal lebih suka berjalan kaki dan nyaman menggunakan transportasi umum. Kota Hangzhou sendiri adalah kota metropolitan, banyak gedung dan fasilitas yang rasanya belum ada di Indonesia. Tapi, kota Hangzhou juga punya tempat wisata alam yang beragam, seperti West Lake, gedung Tianmu, dan juga banyak taman dan kuil yang indah. Uniknya lagi, kota Hangzhou juga dikenal sebagai kota romantis dan terkenal dengan mitologi kisah cinta siluman ular putih.

Ngomong – ngomong soal gaya hidup di Cina, aku sempat merasakan culture shock waktu awal pindah, terutama soal cara orang lokal berbicara. Orang lokal kalau berbicara selalu menggunakan nada yang tinggi, seakan – akan sedang marah. Awalnya kaget, tapi lama – lama sudah mulai terbiasa.

Selain itu, salah satu culture shock yang aku rasakan di sini adalah soal alat pembayaran. Disini orang lokal jarang sekali membawa uang tunai. Hampir semua orang menggunakan alat pembayaran elektronik seperti Alipay dan WeChatpay ketika bepergian atau belanja. Hanya dengan membawa HP, kita sudah bisa bertransaksi dimana – mana. Hal ini beda banget waktu aku di Indonesia yang masih membawa dompet dan uang tunai ketika keluar rumah.

Satu lagi culture shock yang aku rasakan, yaitu soal selera berpakaian orang lokal, terutama bagi perempuan. Aku lihat disini perempuannya sangat stylish dan fashionable. Bahkan, pergi ke pasar aja mereka sangat memperhatikan gaya berpakaian loh. Sebagai orang yang juga punya ketertarikan sendiri terhadap fashion, untuk hal ini sih aku malah senang banget dan nggak butuh waktu lama untuk adaptasi.

Melestarikan Budaya Indonesia Lewat Sanggar Wayang

Sanggar Wayang adalah sebuah wadah untuk menuangkan ide dan kreativitas anak bangsa yang sedang menetap di Hangzhou, terutama di bidang tarian dan musik tradisional. Bisa dibilang Sanggar Wayang adalah komunitas tarian dan musik Indonesia di kota Hangzhou.

Kegiatan Sanggar Wayang cukup beragam, dimulai dari menyelenggarakan festival budaya, Indonesian Day di kampus, berpartisipasi dalam International Cultural Exhibition, sampai membuat acara penyambutan mahasiswa baru dari Indonesia.

Sejak pertama kali didirikan, respon warga lokal dan juga komunitas Indonesia di Hangzhou sangat positif. Kami menerima banyak apresiasi terhadap kegiatan kami. Orang lokal juga sangat mendukung dan menghargai kegiatan mahasiswa Indonesia dengan bakatnya yang luar biasa.

Harapanku untuk Sanggar Wayang, semoga organisasi ini bisa semakin memperkenalkan dan melestarikan budaya Indonesia yang begitu beragam. Aku ingin sekali lihat kebudayaan Indonesia, terutama tarian dan musiknya, tetap menjadi warisan Indonesia pada dunia. Karena, kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?


Jika ingin tau lebih banyak tentang Icha dan Sanggar Wayang, silakan berkunjung ke

Instagram Pribadi Icha: @euriscaep

Instagram Sanggar Wayang: @sanggar_wayang

*semua foto disediakan oleh Eurisca Enditaputri dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Hanna Marbun: Adaptasi Sebagai Lawyer di Jerman

September 20, 2020

Next Post

Abigail Tessa: Tinggal di Jerman Melalui Program Kerja Sosial

October 4, 2020