Hanna Marbun: Adaptasi Sebagai Lawyer di Jerman

September 20, 2020hellodiasporia

Hanna Marbun lahir dan besar di salah satu kota administratif terkecil di pantai barat Indonesia, Sibolga. Saat ini Hanna sedang bekerja sebagai seorang associate di salah satu kantor hukum di Jerman, setelah sebelumnya kuliah di Norwegia serta bekerja dan berlibur di Australia. Melalui artikel di bawah ini, Hanna ingin berbagi tentang pengalamannya beradaptasi sebagai pekerja kantoran di Jerman yang masih berlanjut sampai sekarang.

Bermula dari semester terakhir saya selama menjadi mahasiswa program master di Oslo, Norwegia yang dikhususkan hanya untuk menulis tesis. Karena tidak ada lagi kuliah yang perlu saya hadiri, saya putuskan untuk menulis tesis sambil bekerja sebagai paralegal selama enam bulan di salah satu kantor hukum yang menyediakan jasa di bidang pelayaran dan pembiayaan kapal di Hamburg, Jerman, mulai dari Juni 2018.

Hamburg Townhall

Ada beberapa teman yang bertanya, kenapa harus jadi paralegal padahal saya sudah punya pengalaman bekerja sebagai pengacara sekitar lima tahun di Jakarta. Saya pikir kenapa tidak? Menulis tesis rasanya sudah berat. Jika ditambah dengan pekerjaan sebagai lawyer (itupun kalau dapat!), makin berat lagi tentunya. Ya sudah, saya jadi paralegal dulu saja. Hitung-hitung menambah pengalaman dan siapa tahu bisa jadi batu loncatan. Singkat cerita posisi saya sebagai paralegal beralih menjadi associate dengan satu tahun kontrak kerja sampai akhirnya sekarang beralih menjadi associate tetap.

Banyak hal-hal yang saya nikmati dari tinggal dan bekerja di kota kedua terbesar di Jerman ini, termasuk sistem transportasi (nggak ada tuh yang namanya macet-macetan sebelum dan sepulang kantor) dan sistem perawatan kesehatan yang baik. Tingkat kepuasan hidup bagi saya naik secara signifikan dibandingkan ketika bekerja di Indonesia.

Piala Dunia FIFA 2018

Tentu dalam dua tahun ini kehidupan isinya tidak melulu rainbows and unicorn. Justru sebaliknya, ada banyak kendala terutama dari sebelum dan di awal kepindahan.

Homesick? Kadang, namun jarang. Terutama kalau sedang rindu keluarga atau ingat betapa nikmatnya hidup di tanah air. Kalau pulang kantor larut malam dan lapar, tinggal jalan ke persimpangan cari sate/nasi goreng abang-abang yang kadang bahkan lewat dari depan rumah. Kalau dokumen kantor ada yang ketinggalan di rumah tinggal pesan ojol. Apa-apa juga jauh lebih terjangkau.

Proses adaptasi bagi saya untuk tinggal di tanah penyair dan pemikir ini masih berlanjut terus meski sekarang sedikit lebih mudah rasanya. Saya ingin membagikan pengalaman tentang proses adaptasi saya sebagai pekerja kantoran di Jerman. Saya sengaja tidak membahas tentang betapa pentingnya untuk belajar bahasa lokal, mengingat poin yang satu ini sudah dicakup oleh banyak kontributor di Diasporia.

No compliments means everything is OK

Orang Jerman memang terkenal sangat berani untuk mengekspresikan isi kepala mereka. Akan tetapi, mereka bukanlah orang yang suka mengumbar kata-kata manis dengan mudah.

Setelah bekerja bersama dengan mereka selama ini, saya dituntut untuk tidak berkecil hati kalau tidak menerima pujian atau pengakuan dari mereka atas upaya dan usaha saya sehari-hari di kantor. Jangan salah sangka, orang Jerman selalu mengucapkan terima kasih kalau kita melakukan sesuatu untuk mereka. Namun, selain dengan orang Indonesia, sebelumnya saya terbiasa bekerja dengan kolega-kolega dari Inggris atau Australia yang kelihatannya selangkah lebih jauh dan selalu menunjukkan apresiasi atas hal-hal kecil sehari-hari yang kita lakukan dengan baik melalui ucapan sederhana. Meski se-simpel “Good job!” or “Nice effort!” atau “Well done!” tapi bisa menambah semangat.

Saya sempat merasa tak dianggap oleh bos-bos Jerman di kantor saya karena hal ini. Namun, beberapa teman dan kolega selalu mengingatkan untuk santai saja. Kendati tidak menerima pujian, yakinlah bahwa semua baik-baik saja. Kalau tidak baik-baik saja, saya akan jadi orang pertama yang mendengar komplain dari atasan, kok!

Danau buatan Binnenalster di seberang kantor

Lebih berani dan stop nggak-enak-an

Seperti banyak anak Indonesia lainnya, saya pun paling takut (re: malu) salah dalam berpendapat. Namun, terutama di profesi yang saya sedang tekuni, kritis dan mampu berpikir secara independen itu sudah menjadi keharusan. Kalau tidak setuju atau berpendapat lain, harus bilang. Terlebih lagi di Jerman, saya justru sangat diapresiasi ketika tidak nggeh-nggeh saja, meskipun posisi saya adalah yang paling junior di kantor.

Bos saya juga berkali-kali mengingatkan untuk tidak mengetuk pintu ruangan beliau sebelum masuk, kecuali pintunya memang ditutup. Kata beliau, masuk mah masuk saja. Kalau dia sibuk, palingan saya akan disuruh datang lain kali. Saya belajar untuk lebih direct dan tidak sungkan untuk mengutarakan apa yang saya inginkan. Bersamaan pula saya belajar untuk berani ditolak.

Batas yang tegas antara pergaulan sehari-hari dengan orang di kantor

Kolega-kolega (millennials) di kantor dan saya cukup “dekat”. Sebelum pandemik hampir setiap siang kami makan bersama. Kadang kami juga janji bertemu di luar kantor, termasuk nongkrong bersama sepulang kerja sebelum akhir pekan. Akan tetapi, saya tidak lantas bergantung pada mereka untuk urusan pergaulan. Demikian sebaliknya.

Ada batasan yang jelas. Kami dekat namun tidak semua kolega saya adalah teman saya. Lagi pula memang kantor sejatinya bukan untuk mencari teman. Kalau dapat, ya bonus.

Semakin ke sini pembatasan ini menurut saya banyak sekali sisi positifnya. Selain privasi yang tetap terjaga, masalah yang tidak terkait pekerjaan di kantor antar kolega juga hampir tidak ada.

Di reruntuhan Church of St. Nicholas, Hamburg

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana ranting dipatah, di situ air disauk. Begitu kata pepatah Indonesia yang tentu sudah tidak asing lagi bagi teman-teman pembaca diasporia.

Saya pun yakin salah satu kunci sukses tinggal di negeri orang adalah kemampuan dan kemauan untuk beradaptasi. Tidak nyaman memang, namun hal yang sama jugalah yang membuat kita berkembang. Yang penting percaya diri dan tetap semangat!

Teks dan gambar oleh Hanna Marbun.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Clarissa Boediarto: Membangun Karir di Bidang Farmasi di Amerika

September 13, 2020

Next Post

Eurisca Enditaputri: Belajar Sambil Melestarikan Budaya Indonesia di Hangzhou

September 27, 2020