Hesti Maharini: Perjalanan Emosi dan Mental Sebagai Imigran di Belanda

June 6, 2021hellodiasporia

Ini bukan cerita tentang romantisnya menyusuri kanal Oudegracht di Utrecht atau ramainya perayaan King’s Day di bulan April. Bukan pula gambaran indahnya bunga tulip di musim semi berlatar belakang kincir angin. Ini merupakan catatan perjalanan imigrasiku yang sayangnya tidak seindah yang dibayangkan, atau diidam-idamkan orang-orang. Aku tidak pernah bermimpi menetap di luar negeri dan meninggalkan Indonesia selamanya. Sangat berbeda rasanya ketika membeli one way ticket tanpa ada tiket kembali ke tanah air. Aku yakin pula bahwa aku tidak sendirian mengalami ini, dan mungkin dengan berbagi aku bisa memberikan pemahaman ke sesama imigran (cinta) yang sedang memperjuangkan atau mempersiapkan kepindahannya ke negara baru dan memulai hidup dengan yang terkasih.

Perjalanan Emosi dan Mental Sebagai Imigran di Belanda
Indahnya kincir angin (molen) di Oud Zuilen di dekat rumah kala senja

Migratory Grief

Musim panas tahun ini akan menjadi tahun keempat aku tinggal dan menetap di Belanda. Aku bermigrasi ke Belanda karena aku dan suami  bersepakat untuk membangun hidup serta keluarga di sini, setelah melalui diskusi yang alot dengan mempertimbangkan segala aspek yang ada.

Bulan-bulan pertama hidup di Belanda merupakan bulan-bulan terberat dalam hidupku. Aku mengalami kesedihan yang luar biasa walaupun cuaca waktu itu lumayan tidak sekejam kalau di musim dingin. Aku bahkan sampai tidak mengenali diriku sendiri karena biasanya aku cukup bisa mengontrol diri dan emosi. 

Tentu saja banyak hal dalam kegiatan sehari-hari yang berubah. Aku terbiasa bekerja 40 jam kadang 50 jam per minggu lalu tiba di Belanda aku bengong nggak ada kegiatan. Aku merindukan kantor lama, kolega-kolega yang menyenangkan dan teman-teman nongkrong sepulang kerja. Aku meromantisasi indahnya dan enaknya hidup dan bekerja di Bali. Kadang terbersit pemikiran bahwa hidupku tidak berguna karena tidak bekerja/tidak melakukan apa-apa, kadang pula mempertanyakan takdir kenapa aku harus bertemu dengan suamiku dan memilih jalan hidup yang penuh tantangan ini. Ternyata hal tersebut merupakan bagian dari “migratory grief” atau kesedihan bermigrasi yang istilah ini baru kuketahui di akhir tahun kepindahanku. 

Layaknya berduka karena ditinggal oleh orang yang kita sayangi, berduka karena imigrasi ini juga menimbulkan efek yang sama. Ketika kita bermigrasi ke negara lain kita mengalami kehilangan. Kita kehilangan kebiasaan sehari-hari, bahasa, jauh dari keluarga dan teman-teman, kehilangan pekerjaan yang artinya juga kehilangan kemandirian finansial, dan mungkin juga status sosial. Kita lalu harus memulai semuanya dari nol di negara yang semuanya asing bagi kita. Maka dari itu adalah hal yang wajar jika kita sebagai imigran diawal-awal sering ‘melihat ke masa lalu’ untuk bernostalgia enaknya hidup di Indonesia karena itu bagian dari berduka.

Kehilangan-kehilangan tersebut sifatnya intangible, lain halnya jika kita kehilangan seseorang yang kita cintai, orang-orang akan lebih mudah memahami dan memaklumi mengapa kita bersedih. Karena bentuk kehilangan dari bermigrasi ini sifatnya abstrak, terkadang sulit bagi orang lain, keluarga atau teman dekat di tanah air untuk memahami sehingga membuat aku merasa semakin terasing. Aku pernah disuruh untuk bersyukur karena tinggal di Belanda yang notabene negara maju ketika aku mencoba menjelaskan tentang kesedihan yang kurasakan. Itu bukan respon yang ingin kudengar saat itu karena jadinya aku merasa tidak didengar dan tidak dimengerti.

Seperti normalnya berduka, berduka karena imigrasi ini juga ada beberapa tahapan berduka: penyangkalan (denial), marah (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi, dan penerimaan (acceptance). Proses berduka setiap orang berbeda-beda dan tidak pasti juga melewati tahapan yang serupa. Jika kita, para imigran, memahami hal ini, mungkin bisa membantu diri kita sendiri akan proses yang musti dilewati dan membantu pasangan kita/orang di sekitar kita juga untuk tahu dukungan dan reaksi seperti apa yang musti diberikan jika kita berada di tahap-tahap tertentu dalam fase berduka. Namun, tidak semua imigran mengalami hal ini dari jurnal studi yang kubaca, hal itu tergantung juga dari resilience masing-masing individu. Jikalau pun mengalami migratory grief, perjalanan ‘berduka’ setiap orang akan berbeda-beda pula. 

Pencarian Identitas Baru di Negara Asing

Bahasa, kebiasaan, budaya, keluarga, teman-teman dan pekerjaan merupakan bagian dari identitas kita. Identitasku telah terbentuk selama puluhan tahun di tanah air lalu ketika aku bermigrasi ke Belanda identitas ini hilang dan aku harus membentuk dan mencari identitas baru agar aku dapat berasimilasi di budaya baru ini. 

Hal pertama yang bisa kulakukan dalam kendali kontrolku untuk membentuk identitas baru ini adalah belajar bahasa Belanda dan mencoba mencari pekerjaan sesuai bidang kerjaku di Indonesia yaitu di NGO. Namun sayangnya penolakan demi penolakan yang datang bertubi-tubi lumayan bikin self esteem ini merosot juga sampai ke magma bumi, hehe. Merasa seperti ‘tersesat’, hilang arah dan kebingungan itu juga aku alami dalam masa pencarian identitas baru ini. 

Untungnya aku diterima sebagai relawan di NGO yang melindungi dan memperjuangkan pembela hak asasi manusia di tahun keduaku hidup di Belanda. Hal ini lumayan memberikan rasa memiliki tujuan kolektif, memberikan kontak sosial juga dengan relawan lain, dan ada struktur mingguan dibandingkan hari-hari kosong tanpa tahu mau ngapain hari itu. Sebetulnya itulah fungsi laten positif pekerjaan, memaksakan struktur waktu dan kontak sosial. Pekerjaan relawanku lumayan menggantikan fungsi itu tapi masih merindukan juga pekerjaan berbayar untuk mengisi rekening hehe. Ada sih kerjaan ceperan sebagai konsultan jarak jauh, lumayan ada pemasukan. Namun sayangnya sejak pandemi sama sekali tidak ada tawaran pekerjaan lepas. 

Perjalanan Emosi dan Mental Sebagai Imigran di Belanda
Mendampingi pembela HAM dalam workshop di Brussel sekaligus sebagai penterjemah

Di akhir tahun ketiga anakku lahir, dan aku juga terlahir menjadi ibu. Menjadi ibu dimanapun merupakan pengalaman yang benar-benar mengubah hidup dan pasti mengalami kewalahan yang luar biasa, lalu ditambah pula menjadi ibu di negara baru dan sedang mencari ‘stable ground’. Tidak mudah tapi menjadi ibu memberikanku identitas baru, memberiku tujuan baru dan membuka pintu untuk berinteraksi dengan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalku. Anakku saat ini yang mampu pull me to the here and now dan bisa untuk sementara tidak mengkhawatirkan bagaimana prospek masa depanku di negeri asing ini.

Belajar dari pengalamanku 

Beri waktu dirimu untuk berduka karena kehilangan hal-hal yang tidak tampak setelah bermigrasi. Menangislah jika itu membuatmu lega. Beri tahu orang terkasih bagaimana cara terbaik untuk mendukungmu melewati hari-hari berat dan yang paling penting, be kind to yourself. Hal yang masih terus aku pelajari karena aku (kita) terbiasa harus selalu merasa mempunyai “pencapaian” sehingga jatuhnya memberi tekanan yang besar ke diri sendiri. Hal ini mungkin tidak asing bagi kita yang selalu ditakar dengan angka semenjak kecil agar berprestasi.

Merujuk pada struktur waktu untuk memecah minggu yang kosong dan perlunya kontak sosial, maka sangat penting untuk mempunyai kegiatan sendiri yang terstruktur. Kegiatan itu bisa berupa belajar bahasa di negara baru, sekolah lagi, bekerja apa saja atau bekerja sebagai relawan. 

Bersama ‘rekan kerja’ sesama relawan di summer borrel.

Hal penting lainnya mungkin ‘lower your expectation’ ketika tiba di negara baru. Dari jurnal yang aku baca, tingginya tingkat pendidikan yang berasosiasi dengan standar hidup, gaya hidup dan status ekonomi sedikit banyak mempengaruhi tingkat ekspektasi. Jika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi di negara baru maka hal tersebut dapat menyebabkan stres dan dapat berujung depresi. 

Aku sudah menerima kenyataan dan bertekad untuk membangun hidup di Belanda. Namun apakah proses pencarian identitas baruku selesai? Sepertinya belum juga karena ada momen-momen tertentu aku kadang berada di fase dan siklus penyangkalan lalu merasa frustasi dan kemarahan itu bisa muncul lagi. Sepertinya hal ini juga wajar karena ada ‘sesuatu’ yang selalu hilang ketika kita bermigrasi. Maybe time can ease it, I don’t know, sounds so cliche

Jika kamu imigran yang sedang struggling beradaptasi dengan negara baru, I feel you, I understand you and I’m with you. All you can do is just keep on trying and keep on going, tomorrow again, one baby step at the time 🙂. Jika depresi berkepanjangan janganlah segan untuk mencari pertolongan ahli karena banyak sekali studi tentang migrasi dan depresi yang artinya para ahli punya cara-cara penanganan yang tepat. 


Teks dan foto oleh Hesti Maharini, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Jika ingin mengikuti Hesti di media sosial, kunjungi Instagram dan Blog Hesti.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Diaspora Indonesia di Faroe Islands

Reni Heimustovu: Slow Living di Belahan Bumi Utara

May 23, 2021