Berkenalan Dengan Christa

July 1, 2020hellodiasporia

Salah satu pendiri Diasporia, Christa, lahir dan besar di Jakarta. Sejak tahun 2017, Christa menetap di Amerika Serikat, tepatnya California bagian selatan. Christa saat ini baru saja menyelesaikan program sertifikat di bidang Marketing sambil bekerja freelance dan mengurus rumah tangga :). Yuk, kenalan lebih lanjut dengan Christa!

Hi Christa, bisa ga ceritain gimana awal-awal pas pindah? Tantangannya apa & gimana mengatasinya?

Jadi, aku pindah ke Amerika mengikuti suami yang memang kebetulan menetap di sini. Dari awal pacaran kami memang sudah sepakat kalau aku yang bakal pindah ke Amerika, tapi tetap aja lho waktu pas awal-awal pindah ternyata nggak segampang itu prosesnya. 2 tantangan terbesar menurut aku adalah soal imigrasi dan juga proses penerimaan diri dalam menghadapi perubahan.

Kalau soal imigrasi, khususnya di Amerika, kayaknya aku nggak bisa ngomong banyak selain harus sabar dan teliti dalam mengurus semua dokumen. Nah, kalau soal penerimaan diri, terus terang ini juga masih proses yang tiap hari aku hadapi. Susah banget di awal – awal untuk menerima kalau memang aku sudah menetap di Amerika dan harus (mau nggak mau) belajar adaptasi sama kehidupan di sini. Salah satu kesalahan aku adalah terus membandingkan berbagai hal di sini sama di Indonesia, akhirnya makin susah move on waktu itu hehe. Tapi setelah proses yang bertahap, aku sekarang sudah bisa lebih nerima dan proses asimilasinya juga lebih lancar 🙂

Pindah ke negara baru tentu semuanya mulai dari awal. Bagaimana Christa mencari kesibukan agar bisa enjoy?

Dekat rumah ada taman besar yang bisa jadi tempat piknik, olahraga, atau sekedar menikmati udara segar 🙂

Bener banget tuh semuanya mulai dari awal, tapi aku waktu itu nggak ngoyo sih. Kesibukan pertama aku adalah berusaha mengenal daerah tempat tinggal dengan baik. Jadi di minggu – minggu pertama aku sering jalan – jalan keliling daerah tempat aku tinggal (sendirian nih, pas suami lagi kerja), dan coba hapalin tempatnya supermarket, bakery, taman, dan juga toko – toko. Waktu belum bisa nyetir, aku banyak jalan kaki dan naik bus, akhirnya jadi tau jalan dan lebih familiar sama daerah baruku deh! Setelah merasa lebih nyaman dengan daerah tempat tinggal, aku mulai ikut kelas olahraga, gabung perpustakaan kota, sekalian cari kegiatan volunteer. Tipsnya sih jangan takut meng-eksplor daerah tempat tinggal baru dan coba ikut berbagai kegiatan di daerah setempat.

Christa kan pindah ke AS mengikuti suami yang udah cukup lama tinggal di sana, yang pastinya udah ada teman2 dan kegiatan2 (istilahnya udah settled lah). Gimana cara kamu untuk membangun kehidupan di sana biar tetap mandiri?

Sejak pindah ke California, aku jadi lebih suka eksplor kegiatan outdoor seperti naik gunung atau ke pantai. Foto ini di ambil di Mt.St.Jacinto, sekitar 2 jam perjalanan dari tempat tinggal

Menurutku, soal suami yang memang udah lama tinggal di sini tuh ada plus minusnya. Plus nya dia udah tau segalanya, udah punya komunitasnya, dan jadinya nggak susah untuk bantuin aku adaptasi dan settle sama kehidupan di sini. Minusnya, waktu awal-awal aku pindah, dia suka lupa kalau aku orang baru, jadinya malah aku suka “dipaksa” ngikutin ritme kehidupan dia yang emang udah settled… hahaha.

Cara aku bangun kehidupan baru di sini adalah dengan coba kenalan lebih lanjut sama teman2 suami, yang untungnya sama-sama cocok dan nyaman. Udah gitu aku coba ikut berbagai kegiatan sesuai minat, macem-macem deh udah aku cobain, sampai akhirnya ketemu yang benar2 aku suka. Terakhir, aku putusin buat sekolah lagi 🙂

Cerita dong gimana dan kenapa milih buat sekolah lagi di sana 🙂

Foto ini diambil waktu hari pertama kuliah, di depan gedung aula bernama Royce Hall, tempat wisudanya UCLA

Aku milih kembali ke sekolah karena merasa ilmu dan pengalaman yang aku punya dari Indonesia masih perlu diasah. Apalagi, bidang karir ku adalah Marketing yang emang cepat banget perkembangannya. Jadi, mau gak mau aku harus selalu update dan paham sama tren terbaru. Akhirnya aku putusin buat ambil program sertifikat yang memang ditujukan buat profesional di bidang Digital Marketing. Kelasnya isinya campuran mahasiswa internasional dan orang lokal yang mau pindah karir.  Lumayan sih, selain bisa ketemu teman senasib mahasiswa internasional, aku juga kenalan sama orang Amerika yang bisa kasih aku perspektif lokal mulai dari segi budaya, cara bergaul, sampai tips dunia kerja. Awalnya aku lumayan ragu untuk sekolah lagi, apalagi aku sudah 10 tahun lebih lulus kuliah. Tapi setelah menjalani programnya, aku merasa keputusan sekolah lagi tuh tepat banget buat aku, nggak nyesel sama sekali deh!

Apa rencana kamu habis sekolah?

Habis sekolah aku mau cari kerja dan kembali meniti karir di sini … hehehe. Rencana nya sih mau coba cari kerjaan di bidang Digital Marketing, di industri yang mirip-mirip sama kerjaan aku dulu di Indonesia.

Oh iya, gara-gara balik sekolah lagi ini, aku juga menemukan kepuasan tersendiri di bidang pendidikan dan malah kepikiran untuk balik sekolah lagi nantinya setelah beberapa tahun kerja. Mungkin ambil MBA, mungkin PhD, mungkin Master lainnya, atau program sertifikat lagi juga bisa.. hahaha. Pokoknya aku merasa kesempatan di sini terbuka lebar tergantung minat, asalkan mau kerja keras dan tetap semangat! 🙂

Bisa cerita ga alasan personal, atau latar belakang kamu mulai kepikiran membuat wadah untuk perempuan Indonesia di perantauan (aka Diasporia)?

Aku merasa waktu awal – awal pindah itu tantangannya banyak banget, dan begitu ngobrol sama sesama perantau (termasuk Dixie), rasanya tuh lega banget karena berasa dapat teman seperjuangan. Di satu sisi, karena aku baru menikah dan waktu itu masih mencari-cari kegiatan yang pas, aku nggak mau kehilangan suara dan jadi nggak produktif lagi. Akhirnya aku ngobrol-ngobrol sama Dixie dan ternyata kita punya pandangan yang sama, jadilah kita gabungin ide-ide dan mempersiapkan Diasporia ini sebagai wadah untuk perempuan Indonesia di perantauan supaya bisa saling support dan berbagi cerita.

Harapan-harapan untuk Diasporia?

Di Amerika ada gerakan yang cukup terkenal di internet namanya #WomenSupportWomen, dan rasanya ini tepat banget buat menggambarkan harapan aku buat Diasporia. Semoga Diasporia bisa jadi wadah untuk teman-teman perempuan di perantauan untuk saling berbagi dan mendukung satu sama lain.

Last but not least, semoga dengan adanya Diasporia kita bisa saling nunjukin kalau perempuan Indonesia tuh keren2, apapun status, peran, dan dimanapun lokasinya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Berkenalan Dengan Dixie

July 1, 2020