Karina Indrasari: Karir dan Kehidupan Sebagai Grad Student di Amerika Serikat

October 11, 2020hellodiasporia

Karina Indrasari adalah mahasiswa PhD Political Science di University of Albany, SUNY, dengan beasiswa dari Fulbright-DIKTI. Jurusannya adalah International Relations dengan jurusan minor Comparative Politics. Untuk risetnya, Karina fokus pada motivasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Asia Tenggara yang terlibat untuk menjadi teroris dan lingkungan yang membuat mereka rawan untuk di-brainwash untuk melakukan tindakan yang kejam dan tidak manusiawi. Sebelum menjadi mahasiswa doktoral, beliau mengajar International Relations di Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Karina menyelesaikan studi S1-nya di bidang Ilmu Politik di Universitas Seattle. Setelah lulus dari Universitas Seattle, beliau pindah ke Inggris untuk mengejar gelar S2 di bidang International Political Economy.

Hai Karina, boleh ceritain sedikit soal background kamu ngga, bagaimana awal awalnya bisa tinggal di Amerika, asalnya dari mana, dan sekarang kesibukannya apa? 

Halo, nama saya Karina, sekarang sedang tinggal di Amerika Serikat (AS) tepatnya di kota Albany di negara bagian New York. Saya sedang menempuh pendidikan doktoral Ilmu Politik di University of Albany, SUNY, jurusan utama Hubungan Internasional dan jurusan minor Politik Komparatif. Fokus research saya adalah mengenai motivasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Asia Tenggara yang terlibat untuk menjadi teroris dan penyandang dana teroris.

Untuk asal saya sendiri agak sedikit rumit ya, tapi saya akan coba jelaskan. Silakan teman Diasporia saja yang menyimpulkan saya asalnya dari mana. Hehehe. Orang tua saya berasal dari Jogja dan Solo, sedangkan saya lahir di Jakarta, namun sejak SD hingga SMA besar di Malang. Jadi mungkin, bisa dibilang saya aslinya dari Pulau Jawa 😀

Mengenai kesibukan sendiri, sebagai 2nd year graduate student, keseharian saya diisi dengan membaca, membuat catatan untuk persiapan major dan minor comprehensive exams, melakukan riset dan menulis.

Awal bisa tinggal di AS itu karena memang mau kuliah di sini. Jadi dulu ketika saya kelas 2 SMA, saya pergi ke pameran edukasi luar negeri di Malang dan sangat tertarik untuk belajar di AS atau Kanada. Lalu kemudian saat kelas 3 SMA akhirnya orang tua saya mengijinkan dan membiayai saya untuk kuliah S1 di AS, tepatnya saat itu saya memilih belajar di kota Seattle. Jadi saya tidak menyelesaikan Pendidikan SMA saya di Indonesia dan langsung terbang ke AS untuk menyelesaikan high school melalui community college di Seattle. Selepas lulus kuliah S1, saya pindah ke Birmingham, Inggris untuk melanjutkan pendidikan Master. Lalu kemudian, saya bekerja sebagai dosen sejak 2014, kemudian di tahun 2019 mendapatkan kesempatan untuk kembali belajar di AS melalui program beasiswa Fulbright-DIKTI.

Gimana perjalanan karir Karina hingga sekarang bisa menjalani program PhD di Amerika?

Saya jujur tidak pernah bercita-cita mau sekolah sampai PhD. Dipikiran saya, paling tidak saya sekolah hingga S2 lalu bekerja kantoran (9 to 5) di perusahaan multinasional atau menjadi politisi. Tidak pernah terbesit sekalipun bahwa saya akan jadi dosen. Saya merasa saya tidak layak jadi dosen karena pembawaan diri saya yang terkadang terlalu playful dan cuek dengan sekitar. Namun, awal karir saya dimulai Ketika baru pulang dari Inggris tahun 2013. Saya mulai bekerja di Lembaga riset politik PolMark Indonesia asuhan Bapak Eep Saefulloh Fatah. Di mata saya, melakukan riset politik untuk mengetahui peta pemenangan politik seorang kandidiat gubernur, walikota, dan anggota DPR adalah impian rata-rata semua mahasiswa politik. Namun, ternyata itu bukan jalan karir saya. Saya merasa kurang cocok dengan lingkungan politik Indonesia, sehingga saya memutuskan untuk berhenti bekerja di PolMark dan membantu bisnis orang tua saya sambil mencari opsi pekerjaan yang lain.

Sambil membantu orang tua, saya juga sempat membantu mengajar Bahasa Inggris pada Bapak dan Ibu Polisi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Di situlah pertama kalinya saya mengajar. Sangat tegang dan gemetaran tentunya, hingga saya tidak bisa bicara lancar dan suara saya bergetar. Bayangkan, mengajar polisi yang rata-rata lebih tua dari saya. Saya waktu itu masih berusia 23 tahun, sedangkan mereka rata-rata 30-35 tahun.

Saya mengajar di PTIK tidak lama, hanya 2 hingga 3 bulan. Setelah itu, saya mendaftarkan diri ke perusahaan oil and gas di Kalimantan Timur dan juga ke Universitas Brawijaya. Saya diterima di keduanya, namun akhirnya saya memilih untuk menjadi dosen HI di Universitas Brawijaya (UB) tahun 2014. Awalnya saya masih kurang percaya diri mengajar mahasiswa. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyukainya, bahkan saya jatuh cinta dengan mengajar. Mengajar itu tidak hanya sekedar membagi ilmu dan pengalaman, tapi juga belajar dari mahasiswa yang kita ajar. Banyak pengalaman dan ilmu yang justru saya dapatkan dari mahasiswa. Mengajar itu juga belajar sabra dan belajar memahami kondisi orang lain. Tidak semua orang bisa belajar dengan cara yang sama dan memiliki kemampuan yang sama. Jadi, sebagai dosen harus punya compassion dan understanding yang lebih untuk mahasiswanya supaya proses transfer ilmu bisa berjalan dengan baik.

Setelah meninggalkan UB tahun 2017, saya memulai mengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH) Tangerang. Jauh sebelum saya bekerja di UPH, saya sendiri ingin mengambil studi doctoral. Entah mengapa saya suka belajar. Aneh memang, tapi jika orang bertanya apa hobi saya, Saya pasti akan jawab hobi saya belajar. Karena inilah, saya mencoba mendaftar berbagai universitas di AS sejak tahun 2016. Namun tidak ada yang lolos dari semua aplikasi yang saya daftarkan. Hingga akhirnya, di 2018, saya beranikan diri mendaftar beasiswa Fulbright-DIKTI. Hal ini membuahkan hasil dan saya berhasil berangkat tahun 2019 ke AS.

Apa sih suka-dukanya menjalani karir pilihan Karina sekarang dan juga program PhD di Amerika? 

Jadi dosen itu, sukanya banyak, dukanya juga ada. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, jadi dosen itu belajar banyak. Belajar memahami individu, belajar memahami lingkungan, public speaking, menulis, dan belajar riset. Selain itu, melihat mahasiswa saya sukses itu bagian dari sukanya. Misalnya, beberapa mahasiswa bimbingan saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk S2 atau beberapa lainnya diterima di instansi-instansi bergengsi seperti Kemenlu, Kemenkumham, dan lain-lain. Lebih senang lagi ketika mahasiswa masih ingat kita dan menghubungi kita hanya sekedar untuk menanyakan kabar.

Dukanya sendiri mungkin lebih ke beban mengoreksi dan membimbing, ya. Don’t get me wrong, I love supervising students. Tapi kadang membimbing mahasiswa itu banyak tantangannya apa lagi kalua mahasiswanya perferksionis dan susah untuk diberi masukan. Itu sedikit berat untuk membawanya ke titik terang penyelesaian skripsi. Mengoreksi sendiri juga ada suka-dukanya. Sukanya ketika mahasiswa paham yang kita ajarkan dan bisa menjawab pertanyaan, dukanya adalah ketika saya tidak bisa baca tulisan mereka. Kadang saya suka takjub, ada lho mahasiswa yang tulisannya seperti hieroglyph, gak bisa dibaca. Saat seperti itu sepertinya saya berharap kami diberi asuransi kesehatan mata. HAHAHA. Tapi selebihnya menyenangkan kok jadi dosen.

Untuk suka dukanya jadi grad student, tiap hari membaca, membaca, dan membaca. Sukanya ya dapat ilmu, tapi kadang overwhelmed juga dengan bacaan tiga buku atau lebih (masing-masing bisa 300-400 halaman) dalam  seminggu di satu mata kuliah. Tapi yang menyenangkan ya belajar riset dari orang-orang hebat. Kemarin saya baru saja mengikuti kelas yang mana mengadirkan dosen tamu dari universitas ternama dan menjelaskan perjalanan proses riset beliau ketika menulis disertasi dan buku. Ini yang saya suka dari grad school, belajar dari orang-orang hebat.

Bisa diceritain ngga tipikal hari-hari Karina sebagai mahasiswa PhD di Amerika? 

Kebetulan semester ini saya ambil 4 mata kuliah, jadi bebannya lumayan banyak. Normalnya grad student hanya mengambil 3 mata kuliah per semester di kampus saya. Biasa saya bangun pagi, lalu memulai hari dengan kopi. Ini penting karena kadang I don’t function well without coffee.

Keseharian saya sama sih ya, setelah kopi dan sarapan, saya memulai dengan membaca dan persiapan kelas, seperti mempersiapkan pertanyaan dan kritik mengenai bacaan untuk memancing diskusi). Kemudian rata-rata kelas saya dimulai pukul 6 sore hingga jam 9 malam. Itu berjalan dari hari Senin hingga Rabu. Hari Kamis hingga Minggu saya isi dengan membaca dan persiapan kelas di hari berikutnya. Selain itu saya juga sedang membenahi dataset yang akan saya gunakan untuk riset kedepannya.

Di sela weekend, saya juga menyempatkan bersosialisasi dengan teman-teman inti (mengingat COVID-19, tidak bisa kumpul sering-sering) seperti misalnya picnic bersama atau belajar bersama di library dengan mengutamakan social distancing tentunya.

Ngomong – ngomong soal tinggal di luar negeri, Karina kan sudah pernah tinggal di Amerika dan juga Inggris selama sekolah. Apa perbedaan kedua negara dan kira – kira ada hal menarik apa yang bisa di share ke pembaca Diasporia?

Wah ini pertanyaan menarik karena saya banyak punya cerita lucu yang membedakan kedua negara.

Sistem pendidikan kedua negara berbeda ya, seperti misalnya sistem penilaian. Kalau di AS system GPA (Grade Point Average) kan skalanya 0-4. Di Inggris, mereka memiliki sistem berbeda. Mereka menggunakan sistem pass, merit, dan distinctions. Masing-masing universitas pun berbeda dalam hal bobot penilaian. Dulu di kampus saya, nilai di atas 70 itu sudah distinction. Dibawah itu, merit dan pass. Agak berbeda dan rumit, tapi ya itu bagian dari perbedaan keduanya.

Gaya hidup juga berbeda di Inggris dan di AS. Di AS, jarang ada momen di mana dosen dan mahasiswa pergi ke bar atau pub selepas kuliah dan melanjutkan diskusi. Ada boundaries yang jelas anatara dosen dan mahasiswa. Namun, di Inggris, kami selalu punya acara sosial dengan dosen dan mahasiswa. Kami ke pub dan berbincang diskusi selepas kelas. Selain itu, di Inggris itu biaya hidup sangatlah mahal dibandingkan dengan AS. Jadi, harus sangat berhemat di Inggris.

Kemudian, kisah menarik dan lucunya terjadi ketika saya di Inggris dan sedang ada di bookstore kampus. Saat itu saya mau membeli paku papan tulis yang warna warni. Di AS, kita menyebutnya pushpins. Saya berusaha mencari pushpin ini di bookstore. Karena kesulitan menemukannya, saya bertanya pada kasir apakah mereka punya pushpins. Kemudian kasirnya kebingungan dan tidak paham apa yang saya katakan. Akhirnya saya coba jelaskan kembali dengan menjelaskan apa itu pushpin. Saya bilang saya mencari paku yang ditancapkan di papan tulis yang warna warni. Lalu seorang customer yang mengantri di belakang saya bilang, “Oh, she’s looking for the drawing pins.” Lalu kemudian kasir dan customer tersebut tertawa dan menanyakan apakah saya berasal dari AS. Saya malu dan sedikit kesal. I feel like I was a fool. Lalu saya jawab, saya sekolah di sana sebelumnya. Lalu mereka bilang, kami British tidak pernah menyebut drawing pins dengan sebutan pushpins. Di situlah saya belajar bahwa bukan hanya budaya, gaya hidup saja berbeda, tapi bahasa memiliki makna yang berbeda dan dapat mengubah makna kultural sebuah negara.

Salah satu tantangan buat diaspora adalah mencari teman dan membangun support system di tempat yang baru. Gimana pengalaman Karina, apa tantangan yang kamu hadapi dan gimana mengatasinya?

Jujur di awal pertama kali saya ke AS tahun 2007 silam, saya kurang percaya diri dengan kemampuan Bahasa Inggris saya, sehingga di awal perlu adaptasi bahkan untuk mencari teman. Namun, seiring berjalannya waktu, saya sadar orang lokal AS itu tidak peduli kok kemampuan bahasa Inggris kita bagaimana ataukah grammar kita belepotan, selama kita bisa menyampaikan pesan kita, mereka sangat terbuka dengan hal itu. Selain itu, kita juga harus memahami kultur mereka untuk bisa beradaptasi dan memiliki teman lokal. Kadang kita orang Asia, datang berkunjung ke rumah teman, mungkin membawa buah-buahan atau makanan misalnya. Tapi bagi orang lokal, kalau diundang untuk makan di rumah mereka, biasanya kita bawa wine. Simple cultural understanding yang seperti itu juga diperlukan supaya tidak ada kesalahan komunikasi satu sama lain. Itu untuk support system orang lokal, ya.

Namun, selain memiliki teman lokal, ada pentingnya juga memiliki teman yang berasal dari negara atau regional yang sama. Ini mungkin tantangannya tidak sesulit memiliki support system orang lokal. Karena biasanya ketika kita ke negara lain, bermigrasi sendiri, we are drawn to the community that shares similarities with us. Karena kita merasa sendirian, teman di lingkungan baru serasa seperti menjadi saudara kita. Jadi, ini justru bukan tantangan, tapi sesuatu yang bisa memudahkan kita ketika tinggal di negara lain atau istilahnya support system tadi. Saya pun juga begitu, setibanya saya di Seattle, I was drawn to the Indonesian community dulu, baru kemudian mulai melebarkan sayap untuk berkenalan dan berteman dengan orang lokal.

Pertanyaan terakhir nih, banyak perempuan Indonesia yang kadang merasa ragu untuk mengambil PhD. Apa saran Karina untuk sesama perempuan Indonesia yang tertarik untuk mengambil PhD? 

Jangan pernah ragu untuk sekolah lagi dan mengambil program doktoral. Menjadi Doktor itu bukan tentang siapa yang pintar atau jadi yang terpintar, tapi prosesnya yang seharusnya membuat kita menjadi lebih humble. Terkadang, teman-teman perempuan di Indonesia takut mengambil S3 karena nanti takut telat menikah, atau nanti sulit dapat jodoh, jadi omongan orang, atau terkesan ambisius. Atau bahkan ada teman-teman yang berpikir, gimana mau ambil s3, saya sudah menikah, punya suami dan anak dan harus mengurusnya?

Menurut saya, hal yang terpenting dalam hidup ini itu adalah mencapai kebahagiaan dan mencoba hal baru. Mengapa? Karena kita hanya hidup satu kali. Kesempatan tidak akan datang 2 kali. Hal yang menghambat kita untuk maju itu biasanya dari diri kita sendiri dan pikiran-pikiran negative yang muncul dari keputusan yang akan kita ambil. Jangan pernah takut omongan orang atau tidak akan mendapatkan jodoh. Hal itu akan mengikuti dengan sendirinya, kamu mungkin akan menemukan jodoh di grad school. Jadi, jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan cita-cita untuk sekolah lebih tinggi lagi. Yang memiliki suami dan anak, selama suami mengijinkan dan menghargai cita-cita kamu, lanjutkan dan wujudkan terus keinginan kamu untuk sekolah. Mengurus anak mungkin akan lebih berat, namun hal ini akan menjadi mudah kalau kamu bahagia. Karena ketika kamu bahagia, hal-hal lain yang menjadi worry kamu akan hilang dengan sendirinya.

Selamat berjuang para wanita Indonesia!


Kredit foto: Karina Indrasari

Di media sosial, Karina dapat ditemui lewat Twitter dan Instagram, @superkaranova.

Comments (2)

  • Angienovitaeff

    October 11, 2020 at 10:17 pm

    Imma proud sista😍

  • Romulo

    October 12, 2020 at 10:19 am

    Nice story!

    Ditutup dengan ending yang menguatkan para pejuang doktoroal, terutama kelompok wanita yg sering bersinggungan dengan pandangan sosial dan kehidupan private mereka. Semangat terus studi nya Mbak Karina. Kiranya pencapaian mu kelak dapst menjadi inspirasi bagi para wanita-wanita lainnya di luar sana. Tuhan memberkati.

Comment Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Abigail Tessa: Tinggal di Jerman Melalui Program Kerja Sosial

October 4, 2020

Next Post

Kartika Arifin: Pengalaman Hidup di Sydney Bersama Keluarga

October 18, 2020