Meity Purwaningrum: Dari Perbankan, Asuransi, ke Bisnis Kuliner: Perjalanan Bangun Start-Up di Belanda

November 29, 2020hellodiasporia

Meity adalah founder sebuah food start-up di Amsterdam. Sebelumnya, Meity adalah pekerja kantoran di Jakarta dengan pengalaman hampir 10 tahun di bidang product development untuk industri perbankan dan asuransi. Pada kesempatan kali ini, Meity berbagi cerita tentang perjalanannya bangun start-up, proses adaptasi, dan juga tips bagi kamu yang kepikiran ingin buka bisnis ketika pindah ke luar negeri. 

Teks dan foto oleh Meity Purwaningrum. 

Pengalaman Adaptasi di Belanda

Saya pindah ke Amsterdam secara resmi sekitar hampir 2 tahun yang lalu karena mengikuti suami. Saat ini, saya sedang sibuk untuk mencoba mengembangkan food start-up yang memproduksi beragam snack Asia secara wholesale di Amsterdam. Selain itu, saya juga sedang sibuk mengikuti program start-up incubator yang khusus untuk para food entrepreneur

Secara umum, proses adaptasi tidak terlalu susah karena sebelum memutuskan untuk pindah, saya beberapa kali trial untuk tinggal selama maksimum 3 bulan (memanfaatkan batas maksimum tinggal visa turis). Baru setelah yakin (sampai dengan 3 kali trial), saya dan suami mengajukan proses visa untuk tinggal sebagai spouse

Hubungan Indonesia-Belanda sangatlah kuat dan komunitas Indonesia di Belanda sangatlah besar sehingga mudah sekali menemukan hal-hal terkait Indonesia di sini, terutama bahan makanan. Kalau kangen sekali dengan makanan Indonesia yang autentik tapi jenuh masak sendiri, saya akan main ke Den Haag, surganya resto-resto Indonesia autentik. 

Saat ini saya masih terus belajar Bahasa Belanda. Saya tinggal di Amsterdam yang sangat expat-friendly sehingga hampir semua orang berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Ini menjadi tantangan karena malah jadi sulit untuk praktek berbahasa Belanda. Jadi harus terus dipaksakan untuk belajar dan berani praktek. 

Salah satu cara mendapatkan ide dan inspirasi untuk produk baru

Di Belanda (dan sepertinya juga di negara Eropa Barat lain), work life balance sangatlah diutamakan, bahkan jadi terkesan terlalu santai. Kalau hari sedang cerah, taman-taman di Amsterdam pasti selalu penuh meskipun di jam kerja. Saya juga sangat jarang melihat orang lembur kerja di sini, apalagi bekerja di saat weekend (kebetulan kami tinggal dekat dengan pusat perkantoran di Amsterdam). 

Surprisingly, hubungan dengan tetangga di sini sangatlah dekat. Kami saling mengecek satu sama lain, bahkan kami biasa menitipkan kunci rumah ke tetangga ketika kami liburan panjang agar tanaman kami disiram secara rutin ketika kami tidak di rumah.

Selain itu, sepertinya tinggal di Belanda juga lambat laun menjadikan saya menjadi lebih maskulin :). Sepeda merupakan alat transportasi utama, sehingga cara berpakaian pun harus praktis dan menyesuaikan. Tidak ada lagi cerita datang ke tempat meeting dengan high heels, full make up, dan dress rapi :). 

Proses Melepaskan Karir di Jakarta dan Memutuskan Jadi Entrepreneur di Amsterdam

Pastinya keputusan untuk meninggalkan karir saya sebagai Head of Product & Proposition di suatu perusahaan asuransi multinasional di Jakarta sangatlah berat. Saya sadar, jika saya ingin melanjutkan karir korporasi saya di Belanda, saya harus memulai dari level yang jauh lebih rendah atau bahkan dari nol. 

Kebetulan pada saat proses awal kepindahan saya ke Belanda, saya banyak bertemu dengan beragam entrepreneur wanita di Amsterdam dan sempat kerja sama di beberapa project dengan mereka. Kolaborasi ini pada akhirnya menginspirasi dan mendorong saya untuk berani memantapkan hati menjadi entrepreneur

Recipe development day

Pandemi COVID-19 cukup berimbas ke bisnis saya karena mayoritas klien adalah restoran (istilah Belanda-nya horeca), apalagi dengan adanya lockdown saat ini. Order produk dari restoran menurun tajam sehingga harus pintar-pintar mencari revenue stream lain agar bisnis dapat bertahan di masa challenging ini. 

Belanda adalah negara yang sangat entrepreneur-friendly. Terdapat lebih dari 2 juta bisnis terdaftar di Belanda (data Januari 2020). Untuk urusan registrasi perusahaan sangatlah mudah. Saya cukup datang ke Chamber of Commerce (istilah Belanda-nya KvK), interview mengenai business plan, dan membayar 50 euro. Setelah itu, barulah the real hustle begins :). 

Di fase awal memang banyak sekali checklist yang harus dikerjakan sendiri, mulai dari memahami aturan food hygiene, research & development, proses produksi, logistik, delivery, marketing, business development, keuangan, pembukuan sampai dengan pajak. Saya banyak dibantu oleh suami terkait keuangan, pembukuan, dan pajak. Manpower di Belanda sangatlah mahal per jam-nya sehingga pemilik bisnis akan sangat penuh pertimbangan sebelum merekrut staf untuk membantu.

Tips Bagi Pembaca yang Ingin Buka Bisnis di Perantauan

Berdasarkan pengalaman saya, networking pastinya sangatlah penting untuk kelangsungan bisnis. Saya selalu berusaha untuk terkoneksi atau bergabung dengan komunitas like-minded entrepreneurs, karena dari mereka lah saya banyak mendapatkan informasi, tips & trick, support, bahkan coaching. 

Entrepreneur Starter Kit pada saat registrasi perusahaan di Chamber of Commerce Amsterdam

Jika tabungan pribadi tidak cukup untuk mulai membuka usaha sendiri, pertimbangkan berbagai sumber modal lain, seperti crowdfunding, pinjaman bank, atau suntikan dana dari investor. Investor juga bisa dimulai dari suami, teman, atau keluarga sendiri. Terakhir, jangan lupa persiapkan dan latih terus elevator pitch kamu dengan baik. Good luck! 


Jika ingin tau lebih banyak tentang Meity, silakan berkunjung ke Instagram pribadinya, @ms_meity atau UMAMI by Meity.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Astari Marthaningtyas: Pengalaman Kerja dan Cerita Kehidupan di Bangkok

November 8, 2020

Next Post

Tradisi Natal di Swedia

December 13, 2020