Lorraine Riva: Membangun Karir dan Kehidupan di Belanda

July 5, 2020hellodiasporia

Perkenalan kami dengan Lorraine Riva, atau yang lebih sering disapa Yoyen, bermula dari blognya, “Chez Lorraine“. Selain di blog, beliau juga aktif berbagi info dan pengetahuan di Twitter mengenai makanan, sejarah, seni, bahasa, dan budaya di Belanda. Mbak Yoyen pindah ke Belanda di tahun 1995 karena mengikuti suami, dan di sini beliau berbagi cerita tentang membangun karir di Belanda, bersosialisasi, dan tantangan hidup di sana sebagai seorang imigran.

Ceritain sedikit tentang Mbak Yoyen dong (gimana awal pindah ke Belanda, dan sekarang kegiatannya apa aja).

Pindah ke Belanda dari Jakarta sejak September 1995 ikut suami. Setelah kursus bahasa Belanda setahun, saya mulai bekerja sampai sekarang.

Apa tantangan terbesar di tahun-tahun awal pindah ke Belanda? Bagaimana cara menghadapinya?

Belajar bahasa Belanda, cuaca, culture shock dan adaptasi dengan budaya lokal.

Tentang bahasa: setelah 3 bulan di Belanda saya selalu meminta keluarga dan teman untuk bicara dengan bahasa Belanda supaya saya cepat bisa.

Cuaca: berbaju tebal di saat musim gugur dan semi.

Culture shock & adaptasi budaya lokal: menerima memang perbedaan itu ada. Saya banyak tanya ke suami, keluarga ipar dan teman-teman tentang budaya lokal (misalnya: telpon untuk janjian ketemu, bawa bingkisan kecil/bunga kalau diundang ke rumah orang pertama kalinya dll).

Banyak yang ngerasa kesepian di awal-awal kepindahan karena belum ada teman atau support group di tempat baru. Ada tips ga untuk bersosialisasi di negara baru, khususnya Belanda?

Kesepian itu wajar. Cari teman di kampung sendiri aja susah apalagi di negeri orang. Awal di sini, selain keluarga ipar dan teman sekelas kursus bahasa, kontak saya dengan pacar/istrinya teman-teman suami. Saya punya teman sendiri setelah punya kegiatan sendiri yang ngga sama suami, contohnya saya ikut koor. Di situ saya punya kenalan sendiri. Ngga lama setelah kerja saya punya beberapa rekan kerja yang klik dan sering janjian setelah kerja.

Tip sosialisasi dengan orang lokal: harus aktif usaha kontak dari ikut kegiatan tertentu dan setelah itu basa-basi. Bahasa dan pengetahuan tentang budaya lokal itu penting. Beberapa bulan pertama di sini saya kenalan dengan sejumlah orang Indonesia yang akhirnya dikenalkan dengan orang Indonesia lainnya. Prinsip saya tentang pergaulan sesama orang Indonesia di Belanda (baca: di luar negri): kalau klik akan ada kontak lebih lanjut, kalau ngga saya ngga paksain diri bergaul dengan mereka hanya karena kami sesama orang Indonesia.

Salah satu hal yang paling sulit setelah pindah adalah memulai karir di tempat yang semuanya berbeda. Boleh ga ceritain pengalaman Mbak Yoyen, gimana ngebangun karir di negara baru dengan bahasa baru?

Jangan gengsi untuk mulai dari bawah untuk bekerja di negara baru sebagai imigran. Pekerjaan pertama saya di sini setelah beberapa bulan pindah jadi inventaris di gudang chain besar yang jual peralatan untuk bangun rumah. Tugasnya mencatat jumlah barang di gudang (tahun 1995 masih manual pekerjaan ini 🙂 ). Lumayan saya bisa latihan bahasa Belanda.

Setelah selesai kursus bahasa Belanda saya petakan kemampuan saya, kans dapat pekerjaan dan jenis pekerjaan yang saya minati. Saya berusaha serealistis mungkin melihat ini. Saya rajin lihat lowongan di koran dan beberapa kali saya ikut tes di agen pekerjaan. Akhirnya saya memutuskan sekolah lagi di akademi sekretaris dengan modal saya fasih berbahasa Inggris dan Perancis. Belum selesai sekolah, saya akhirnya mendapat pekerjaan tetap sebagai office manager di satu institut bahasa asing dengan klien dari perusahaan-perusahaan besar. Dari situ mulai saya membangun karir dan network, dan semakin mengenal lebih dalam kultur bekerja di sini, contoh: bisa diskusi tentang suatu hal dalam rapat sampai emosi, setelah selesai sikap biasa. Hargai waktu. Juga dalam kultur bekerja di Belanda harus assertive, klaim achievement kamu, kalau ngga orang lain akan serobot.

Sebagai imigran dari Asia saya sempat merasakan tekanan untuk perfom lebih dari rekan kerja lokal, semakin tinggi jabatan pekerjaan saya, semakin saya percaya ini memang penting, untuk selalu tunjukkan kemampuan kita apa, bukan hanya knowledge bidang pekerjaan tapi juga skills lainnya. Setelah beberapa tahun bekerja sebagai Office Manager saya kuliah lagi jurusan komunikasi, belum lulus sudah dapat pekerjaan yang saya mau.

Riwayat bekerja saya sejak mulai kerja tahun 1996 bervariasi: inventaris gudang, mbak-mbak toko H&M, sekretaris, office manager, sekretaris direksi, pembimbing imigran, PR, online communication advisor. Sekarang pekerjaan saya web analyst.

Strategi saya kalau ingin cari pekerjaan lain: sebar dan tanya info di network dan di keluarga/teman. Jangan gengsi untuk mulai dari bawah walau kamu di Indonesia mungkin sudah ada karir lumayan bagus. Advis terakhir saya juga umum dan bisa dipakai di mana pun: kenali peluang kamu, ada goal untuk pekerjaan tertentu jangan ragu untuk belajar/kuliah lagi.

Mbak Yoyen kan punya anak yang lahir dan besar di Belanda. Gimana pengalaman Mbak Yoyen ngebesarin anak dengan budaya yang berbeda-beda?

Saya dan suami membesarkan anak dengan memadukan hal-hal terbaik dari dua budaya. Dari Indonesia: sopan dan hormat ke orang yang lebih tua, rendah hati, hospitable. Dari Belanda: tepat waktu, assertive/direct, kerja keras, budaya menabung, stimulate dia untuk melakukan pilihannya secara maksimal tanpa kami paksa.

Apa tantangan terbesar sebagai imigran dari Indonesia di Belanda, dan gimana mengatasinya?

Mematahkan stereotype bahwa wanita dari Asia itu tipe yang submissive, penurut, tidak (berani) beropini, hanya bisa dandan, masak dan urus rumah tangga dan bahasa Belandanya tidak bagus. Mengatasi ini saya tunjukkan saya tidak termasuk stereotype tersebut, selain saya banyak kok wanita Indonesia lainnya yang fully-integrated di sini sayangnya stereotype di atas ini sangat kuat.

Gimana pandangan Mbak Yoyen tentang Indonesia, setelah tinggal di Belanda selama lebih dari 20 tahun?

Bangga karena Indonesia maju sekali sekarang. Yang saya alami sih sejak tahun 2000an semakin sering teman dan keluarga bisa berlibur ke Belanda dan jalan-jalan di Eropa. Sebelumnya (akhir tahun 1990an) paling hanya satu atau dua orang yang ke sini dalam setahun. Sekarang bisa sebulan 1 atau 2 orang datang ke sini. Ini saya artikan sebagai kemajuan ekonomi di Indonesia. Walau ekonominya maju tapi beberapa tahun terakhir khawatir dengan perkembangan radikalisme agama di sana. Stop sampai sini aja ya, saya ngga bahas politik 🙂

Tips untuk wanita Indonesia yang ingin tetap produktif ketika pindah ke luar negeri?

Cari kegiatan sendiri. Belajar bahasa lokal itu penting supaya bisa perluas pergaulan.

Untuk yang punya anak: bisa ikut aktif jadi bantu dalam kegiatan di sekolah anak. Yang tidak punya anak, bisa jadi sukarelawan di beberapa yayasan lokal.

Apa hal tentang Indonesia yang masih melekat di Mbak Yoyen sampai sekarang?

Hmmm apa ya yang khas Indonesia? Selalu bertelanjang kaki di rumah sendiri walaupun musim dingin, selalu senyum, zen dan kalem, senang (menjamu orang) makan baik di rumah sendiri maupun di luar.

*semua foto disediakan oleh Lorraine dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan

Comments (2)

  • Diwawancara teman | Chez Lorraine

    July 20, 2020 at 3:54 am

    […] dan disambi dengan kesibukan rutin mereka, akhirnya Diasporia live awal bulan ini. Sila baca pos tentang gw di situ. Untuk yang malas baca blog panjang lebar, bisa follow IG: diasporiablog. Di situ ada quote, […]

  • Diwawancara teman | Chez Lorraine

    August 11, 2020 at 9:18 pm

    […] dan disambi dengan kesibukan rutin mereka, akhirnya Diasporia live awal Juli lalu. Sila baca pos tentang gw di situ. Untuk yang malas baca blog panjang lebar, bisa follow IG: diasporiablog. Di situ ada quote, […]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Dita Anggraeni: Cerita Kehidupan dan Tips Berkarir di New York

July 5, 2020

Next Post

Pitri Muaja: Perjalanan Adaptasi dari Batu ke Los Angeles

July 19, 2020