Adien Galuh: Hidup di Kota Kecil dan Menjadi Wiraswasta di Amerika

August 9, 2020hellodiasporia

Adien Galuh kini menetap di South Boston, Virginia. Menikah dan pindah ke Amerika tahun 2018, saat ini Adien membagi waktunya sebagai seorang istri, ibu sambung 2 anak, dan juga food photographer. Pada kesempatan ini Adien bercerita mengenai tantangan adaptasi, memulai karir baru sebagai wiraswasta, dan pengalaman hidup di kota kecil setelah pindah dari Jakarta. 

Pindah dari Jakarta ke South Boston: Kegiatan, tantangan dan mengatasi homesick

Hai Adien, boleh ceritain sedikit soal background kamu ngga, sekarang tinggal dimana, asalnya dari mana, dan kesibukannya apa aja?

Haii.. boleh dong.  Aku tinggal di South Boston, Virginia. Aku pindah dari Jakarta tahun 2018 ke sini karena menikah dengan suamiku yg warga negara sini, jadi sekarang tepat 2 tahun sudah tinggal di Amerika. Kesibukanku di sini selain menjadi istri dan ibu sambung 2 anak, aku juga bekerja freelance sebagai food photographer dan kadang-kadang juga terima orderan custom cakes, pokoknya kerja dari rumah deh. 

Pindah dari Jakarta ke Amerika pasti banyak tantangannya ya, apalagi sekarang Adien tinggalnya di kota kecil. Apa aja tantangan terberat waktu baru pindah, dan gimana cara kamu mengatasinya?

Tantangan terberat awal aku pindah itu rasa kesepian! Dulu di Jakarta rumah selalu ramai, selalu ada keluarga atau teman-teman yang datang. Rumah sahabatku juga pas di sebelah rumahku, jadi benar-benar nggak pernah kesepian. Pas pindah ke sini, harus adaptasi sama jam kerja suamiku yang panjang (12 siang-12 malam), dan kalau anak-anak lagi di rumah Mamanya, aku sendirian di rumah selama 12 jam itu. Waktu awal baru pindah juga aku belum punya greencard dan izin kerja, jadi benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain.

Tantangan lain yang berat waktu itu (sampai sekarang juga masih sih), yaitu adaptasi dari kehidupan di Jakarta yang super fast paced, metropolitan dan modern, ke kota kecil yang konservatif, old school, dan sepi! Tough banget rasanya pindah ke kota ini yang kasarnya ‘nggak ada apa-apa’. Mall nggak ada, kafe-kafe yang buat ‘duduk cantik’ juga nggak ada, intinya jomplang banget kotanya haha.. Di Jakarta mau nyari apa aja ada, pergi kemana aja bisa, selalu ada restaurant dan tempat hangout baru setiap bulan. Di sini nggak begitu. Hiburan tuh minim sekali, cuma ada bioskop kecil, roller skate rink, sama kafe-kafe lokal. Jadi kalau mau ke mall, harus nyetir dulu 1 jam. 

Cara mengatasinya tentunya jangan terlalu fokus sama tantangan itu, jangan dibawa susah dan dibawa happy aja. Bagaimanapun, aku yang memutuskan untuk pindah ke sini supaya bisa sama-sama suamiku. Hikmahnya tinggal di sini, aku jadi lebih dekat dengan nature, dan jadi sangat mensyukuri hal itu. Kebiasaan nge-mall tergantikan dengan sepedaan di jalanan yang udaranya sejuk, duduk cantik di cafe tergantikan dengan roasting marshmallow di backyard, karaoke time tergantikan dengan belajar berkebun. Jadi sebenarnya aku nggak kehilangan momen apapun, hanya tergantikan dengan aktivitas yang benar-benar jauh berbeda dari hidup aku di Jakarta sebelumnya. 

Kalau untuk mengatasi rasa kesepian, aku coba melakukan banyak aktivitas, mulai dari buat vlog, main ke rumah mertua. Terus karena aku senang masak, aku isi waktuku untuk coba resep-resep yang sudah lama ingin aku coba. Pokoknya sebisa mungkin hindari datangnya rasa sedih dengan melakukan kegiatan yang aku suka dan enjoy aja.

Menikmati indahnya suasana musim gugur di tahun 2018

Pernah merasa homesick ngga, kalau iya, ada tips mengatasi homesick?

Wah pernah banget. Sampai sekarang pun masih sering homesick hehe.. Tips mengatasinya kalau aku dengan video call. Telfon keluarga dan teman-teman untuk catch up dan mengurangi rindu! Cara lain sih jujur aja dengan masak dan makan makanan Indonesia, hehehe. Lumayan loh untuk obat rindu! Terus aku juga sering pergi ke kota besar yang mengingatkan aku akan kampung halamanku, kota Jakarta. 

Intinya sih menurutku homesick itu nggak akan pernah bisa dihindari, akan selalu datang dan pergi. Tapi yang penting, homesick bisa jadi pengingat diri bahwa dimanapun kita berada, sejauh apapun kita pergi, kita nggak lupa darimana kita berasal. Jadi menurutku, homesick tuh hal yang positif juga sih.

A day well spent, jalan – jalan ke Downtown South Boston, 2018

Menjadi food photographer setelah pindah ke South Boston

Ngomong-ngomong soal kerjaan, apa yang menyebabkan Adien memilih untuk bekerja jadi food photographer setelah pindah?

Dulu aku kuliah nya di bidang culinary, jadi I’ve always worked with food. Di Jakarta aku pernah jadi koki di dapur restoran, katering, dan juga pernah bekerja juga sebagai recipe developer untuk portal berita online dan beberapa media lain.  Setelah aku dapat izin kerja di sini, jujur aku masih belum yakin untuk masuk ke dunia restoran lagi. Lalu aku iseng belajar food photography pakai smartphone dan ternyata aku enjoy banget. Aku dalami pelan-pelan dunia fotografi ini sampai akhirnya aku dihadapkan pada sebuah kesempatan untuk menjadi professional photographer and I took that opportunity. Lalu langsung dibeliin DSLR sama suamiku, hahaha.

 I love my job because it doesn’t feel like a job, more like a hobby. Plus, karena aku punya 2 anak sambung yang masih pada sekolah dan dengan jam kerja Daddy-nya yang panjang, aku merasa kerja dari rumah sebagai food photographer adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Aku bisa kerja dengan me-manage waktu kerjaku sendiri, tanpa mengganggu waktu untuk mengurus anak-anak, suami, dan rumah. 

Apa sih tantangan memulai pekerjaan atau bisnis baru bagi Adien, terutama sebagai perempuan pendatang yang bisa dibilang nggak kenal banyak orang? Ada tips yang bisa di share?

Aku dapat kesempatan menjadi food photographer ini karena aku mengiklankan diri di Fiverr. Fiverr is an official marketplace untuk freelancers yang mau menawarkan digital service. Lingkup kerjanya di seluruh negara. Aku join Fiverr dan membuat profil menawarkan jasa food photography dan recipe development, jadi semua order dan clientku datang dari sana. 

Waktu baru pindah ke Amerika, aku belum banyak kenal orang dan nggak banyak koneksi. Makanya, gabung dengan platform seperti ini menurutku bagus banget. Hasilnya, setelah setahun lebih, aku sudah bekerja sama dengan klien-klien besar dari berbagai negara seperti Amerika, UK, Hongkong, Jerman, bahkan Rusia. Dari situ juga aku bertemu klien yang meminta aku untuk datang ke restaurant mereka untuk menu dan social media photography

Tantangan memulai pekerjaan baru ini tentunya bertemu dengan klien yang personality dan gaya komunikasinya beraneka ragam. Setiap hari aku ‘bertemu’ via texting dengan klien baru, ada yang sopan, ada yang galak, ada yang sombong, ada yang ‘mau banyak nggak mau bayar’ hahaha. Mau nggak mau aku harus sabar dan tetap profesional dalam berkomunikasi dengan klien. Banyak dari mereka juga yang sangat detail dalam mengevaluasi pekerjaan, jadi itu membuat aku jadi lebih teliti dalam bekerja. But most of them are actually really nice, appreciative, and big tippers hahaha!

Tips dan saranku, kalau memang sudah mantap mau bekerja di luar negeri boleh coba bergabung di platform semacam Fiverr atau Upwork, mungkin harus start dari rumah dulu, tapi platform tersebut bagus sekali sebagai batu loncatan untuk bertemu klien potensial. Jangan lupa untuk persiapkan modal skill ‘Business Communication’ kamu juga ya. Menurutku, penting banget untuk bisa menggunakan bahasa Inggris yang formal dan baik dalam bekerja. Dan satu lagi, persiapkan mental. People here are highly outspoken, jadi harus tahan banting ketika dikasih kritik dan saran yang ‘ceplas ceplos’ dari mereka. 

Jalan – jalan ke Biltmore, Asheville VA tahun 2019

Boleh diceritain ngga, tipikal hari-hari Adien sebagai istri, ibu, dan juga wiraswasta? Gimana sih cara bagi waktunya?

Tipikal hari-hariku kebanyakan intense haha. Kalau lagi banyak pekerjaan aku bangun lebih pagi untuk siapkan kopi dan sarapan suamiku (anak-anak sarapannya di sekolah), bersih-bersih rumah, balas email klien, submit foto, dll. Setelah suami pergi kerja (jam 12 siang), aku mulai photoshoot di rumah. Photoshoot disini artinya aku mulai dari masak, styling, dan terakhir baru deh sesi fotonya. Selesai dari situ aku bersih-bersih lagi dan siap menyambut anak-anak pulang sekolah, lalu masak makan malam, spend time sama anak-anak; main, bantu bikin PR, ngobrol, dll. Terus selesai makan malam, aku bersih-bersih lagi (hahaha), mandi, lalu edit foto dan ngetik resep sampai suamiku pulang (jam 12:30 malam), lalu setelah suamiku pulang baru lah aku bisa relax dan quality time berdua. Jadi kalau lagi banyak pekerjaan itu hampir nggak ada waktu leyeh-leyeh.

Cara bagi waktunya yang penting sebisa mungkin kalau anak-anak dan suami ada di rumah, aku akan fokuskan waktu untuk mereka. Ketika mereka kerja/sekolah/tidur, aku baru mengerjakan pekerjaanku. Jadi ketika menerima pekerjaan dari klienku, aku sudah menentukan hari dan jam untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, dan yang penting aku nggak menerima pekerjaan lebih daripada yang aku sanggup, sampai-sampai nggak masakin keluargaku, atau nggak ngurusin rumah. I’m not gonna lie, I love my job but I love my family more.

Liburan ke Florida tahun 2020 bareng keluarga, Matthew, Trinity, dan Ethan

Kehidupan di South Boston, Virginia

Kalau ngebayangin Amerika, mungkin banyak orang yang familiar sama gaya hidup di kota besar seperti NYC atau LA. Gimana sih gaya hidup di South Boston, kota tempat kamu tinggal sekarang?

South Boston kotanya sangat kecil, lebih kecil dari kota Bogor. Penduduknya cuma 8000an, beda banget sama Jakarta yang penduduknya 9 juta ya? Haha.. Jadi otomatis disini sepi, sejuk, bersih, banyak pepohonan dan ladang. Tipikal pedesaan ya. Nggak ada gedung tinggi disini, kecuali rumah sakit yang cuma 5 lantai. Orang-orang di sini damai dan sejahtera, semua orang punya pekerjaan dan punya mobil, sehingga taxi service itu cuma 2 mobil untuk 1 kota. Tingkat kriminalitas di sini juga rendah sekali. Jarak dari rumah ke rumah juga jauh, jadi kebanyakan orang punya halaman belakang yang gede banget. Asiknya di sini, nggak ada macet dan penduduknya melek hukum.

Gaya hidup disini slow-paced banget, orang-orangnya santai dan sopan banget. Mereka juga ramah. 29 tahun tinggal di Jakarta, nggak pernah ada stranger yang randomly bilang ‘hi, I really like your hair’ atau ‘wow, nice shoes!’. Tapi selama di sini sudah lebih dari 10 kali aku dikasih random compliment dari orang yang nggak aku kenal. Jadi hal itu juga membuat aku belajar untuk menyapa ke strangers yang lagi berpapasan, atau sekedar ‘dadah’ aja walaupun nggak kenal hehe.

Mereka juga konservatif, disini kata-kata kasar lumayan tabu. Lalu, mereka sangat memegang teguh agama Kristen. Di sini ada gereja setiap 500 meter, dan most people here go to church. Jadi, setiap hari Minggu kota ekstra sepi karena semua orang beribadah di gereja. Cuma ada 1 bar di kota ini, dan nggak begitu laku karena orang sini jarang banget minum alkohol. 

Sisi negatif kota kecil seperti South Boston ini, salah satunya adalah gosip yang gampang menyebar! It seems like people would want to know your business, so you have to learn to keep your mouth shut most of the time. Aku pernah dihampiri oleh seseorang di Walmart, yang menanyakan apakah benar aku orang Indonesia yang baru datang ke kota ini. Aku nggak tahu dia siapa, aku tanya suamiku juga nggak tahu dia siapa, but she recognized me for some reason. Aneh kan, hahaha.

Main salju di pekarangan depan rumah, 2018

Selanjutnya, apa sih rencana Adien ke depan? Ada ngga cita – cita Adien yang masih belum kesampaian di Amerika?

Ada dong! Aku ingin banget melebarkan sayap menjadi Food Photographer yang dipanggil dari resto ke resto keliling Amerika , jadi nggak kerja jarak jauh lagi. Mungkin nanti yaa setelah anak-anak sudah lebih besar. Aku juga ingin punya bisnis wedding cake suatu hari nanti. Sementara ini, aku jalani dan syukuri apa yang aku punya aja sampai kesempatan lain datang.

Aku juga pengen banget jalan – jalan ke 50 negara bagian, ya pokoknya sebanyak-banyaknya. Rencana lain jugaa.. mungkin punya bayi.. Masih mungkin yaaaa :p


Jika ingin tau lebih banyak tentang Adien, silakan berkunjung ke kanal pribadinya:

Instagram: @adiengaluh

*semua foto disediakan oleh Adien Galuh dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Ika Olsen: Hidup Berlayar Sambil Bekerja Jarak Jauh di Norwegia

August 2, 2020

Next Post

Mariska Parsons: Berintegrasi dan Membangun Kehidupan Sosial di Selandia Baru

August 16, 2020