Karnia Adhasia Katampa: Pengalaman Merantau dan Melahirkan di Amerika Serikat

April 25, 2021hellodiasporia

Awal pindah ke Amerika

Aku  tumbuh di sebuah kota kecil di Provinsi Kalimantan Timur bernama kota Bontang, lalu mendapatkan pekerjaan di ibukota dan bekerja selama 2 tahun. Tak lama setelah itu, aku bertemu suamiku melalui sebuah situs online. Kemudian ia datang ke Jakarta dan melamarku, dan aku pun menerima tawarannya untuk menikah. Yang ada dipikiranku saat itu adalah keinginanku untuk menikah dan membangun keluarga kecilku sendiri.

Saat aku memberitahu perihal ini ke kedua orangtuaku, respon dari mamaku sungguh mengejutkan, namun untungnya suamiku tetap maju tak gentar dan tetap berniat menikahiku. Syukurlah akhirnya bapakku berhasil meyakinkan mamaku bahwa suamiku berniat baik, dan sebelum aku berangkat ke Amerika, aku mempertemukan suamiku dengan kedua orangtuaku dan keluarga besarku. Semua berjalan dengan baik, bahkan kami mendapat restu dan pamit secara baik-baik dengan keluargaku.

Pengalaman dan kesan pertama di Amerika

Setibanya aku di Amerika Agustus 2019, semua terlihat fenomenal! Baik itu suasana kota, gaya hidup, dan penampilan orang-orang disini. Jika di Indonesia kita memiliki Indomaret dan Alfamart hingga pelosok  gang, di Amerika, restauran cepat saji layaknya jamur. Sejauh mata memandang, kita akan menjumpai restauran cepat saji seperti McD dan Chick-fil-A.

Kekagumanku akan kehidupan di Amerika berlanjut, dan semakin menggebu terlebih setelah aku mengunjungi groceries store bernama Walmart. Aku terpesona melihat lorong-lorong berisi cemilan manis seperti sereal, cokelat dan biskuit yang jenisnya tak terhingga. Selain itu ukuran sayuran serta buah-buahan di sini sangat abnormal. Suatu kali saat mendekati halloween, aku melihat labu yang ukurannya sangat besar. Juga, harga telor dan susu sangatlah murah di Amerika.

Aku sempat berkelakar dengan suamiku, dan mengatakan jika aku balik ke Indonesia aku akan membawa telor dan susu sebagai oleh-oleh karena harganya yang sangat murah.

Namun sangat disayangkan setelah tinggal hampir 3 bulan, euforia dan rasa takjub akan Negara ini  mulai memudar. Aku mulai merasa jenuh dikarenakan tidak bisa bekerja karena tidak memiliki izin kerja, juga mobilitas terbatas karena tidak memiliki SIM. Dokumentasi legal (greencard) yang aku butuhkan sedang dalam proses, sehingga yang aku bisa lakukan hanya bisa menunggu.

Saat menunggu proses greencard selesai, aku mendapatkan kejutan yang tak terduga, di Desember 2019 aku hamil. Suamiku  menangis begitu tau kami akan segera memiliki bayi.

Hamil dan melahirkan di perantauan

Akan tetapi tidak semua hal berjalan mulus. Di usia kehamilan 30 minggu, karena ada suatu masalah, aku dan suami memutuskan untuk keluar dari rumah yang kami tempati bersama ibu, adik dan keponakannya.

Puji Tuhan di Juli 2020, kami akhirnya menemukan rumah yang kami inginkan, dan mulai mempersiapkan rumah ini untuk kedatangan si bayi.

Lagi dan lagi, hal tak terduga terjadi. Sabtu 8 Agustus 2020 saat itu aku hanya sendiri dirumah, tiba tiba air ketubanku pecah, sontak seluruh lantai menjadi basah. Lucunya, di saat itu bukan kepanikan yang aku rasakan, malahan aku tertawa geli karena air yang terus mengalir dari kedua kakiku seakan-akan aku mengompol. Aku langsung menelpon suamiku yang  sedang berada di rumah lama, sekitar 1 jam dari rumah kami yang sekarang.

Suamiku menginfokan untuk menelpon 911 dan meminta bantuan tetangga untuk menitipkan kunci rumah, dan anjing kami. Tak lama ambulans datang dan langsung membawaku ke rumah sakit.

Aku sangat terkesan dengan petugas 911 yang sangat cepat tanggap dalam menghadapi kondisiku. Sesampainya di rumah sakit, perawat langsung mempersiapkan ku untuk proses lahiran. Aku harus menunggu kurang lebih 30 jam hingga akhirnya dokter memutuskan untuk caesar, karena pembukaanku berhenti di bukaan ketujuh.

Aku sering mendengar istilah pelipur lara, namun tak pernah benar-benar memahami makna kalimat tersebut hingga saat aku di ruang operasi. Di antara rasa nyeri yang aku rasakan, lalu melihat bayiku di genggaman suamiku, nyeri yang aku alami menguap begitu saja. Peristiwa ini menjadi titik balik bagiku, kehadiran si bayi membuatku semakin optimis dan bersemangat menjalani keseharianku di negara ini.

Meskipun aku harus merawat bayiku sendiri tanpa bantuan keluargaku maupun keluarga suami, aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak ada satupun hal di dunia ini yang terlalu sulit untuk dijalani atau dipelajari, termasuk merawat anak. Terlebih lagi, informasi dan teknologi sekarang tidak terbatas, banyak sekali platform yang menyediakan informasi dan alat bantu untuk merawat bayi. Di samping itu suamiku mendapat paid paternity leave selama 6 minggu dari kantornya, sehingga ia bisa membantuku merawat si bayi selama masa pemulihanku dari operasi cesar.

Tips mengatasi kejenuhan saat merantau di Amerika

Mengingat kembali apa yang sudah terjadi selama 2 tahun kepindahanku dari Indonesia ke Amerika, aku sadar bahwa hidup dan menetap di negara yang baru memerlukan proses dan waktu untuk menyesuaikan diri. Ada kalanya aku mempertanyakan diri sendiri apakah aku mengambil keputusan yang tepat, atau muncul perasaan rindu akan kampung halaman, bahkan jenuh dengan aktivitas yang monton.  Karena itu aku ingin membagikan beberapa tips, guna mengatasi kejenuhan tersebut:

Berolahraga. Seminggu setelah kedatanganku di Amerika,aku meminta suamiku untuk mendaftarkanku ke pusat kebugaran untuk mengikuti kelas Zumba. Sedari di Indonesia aku suka sekali Zumba, di kelas ini aku bertemu beberapa wanita asing dan berkenalan, dan tidak hanya mendapatkan manfaat sehat dari berolahraga, aku akhirnya bisa bersosialisasi.

Belajar mengemudi. Tidak semua state di Amerika memiliki transportasi publik. Karena itu penting sekali untuk belajar atau mengurus ijin mengemudi. Gunanya, agar lingkup gerak kita semakin luas dan bisa mengeksplorasi hal hal baru disekitar kita.

Berkenalan dengan tetangga. Penting sekali untuk mengenal tetangga di lingkungan tempat tinggal kita, lantaran hal-hal tak terduga bisa saja terjadi, dan tetangga adalah orang terdekat yang bisa kita mintai bantuan.

Belajar hal Baru. Di Amerika biaya buruh sangatlah mahal, contohnya gaji tukang cat sebesar 20$/jam. Sehingga demi menghemat ,aku akhirnya aku belajar mengecat sendiri bermodalkan tutorial di Youtube. Yang mana kini aku semakin mahir melakukan project project DIY di rumah.

Hidup di negara baru tidak mengenal siapapun serta jauh dari keluarga mungkin terdengar menyeramkan. Bahkan nantinya akan ada hal hal tak terduga terjadi.  Namun jangan pernah takut untuk membuka dan mengembangkan diri.  Selalu yakinkan diri sendiri bahwa tidak ada hal yang terlalu pelik untuk dijalani. “Every problem has solution, and as long as we shall live, fight for the life we deserve.”

Ingin mengikuti Adhasia di media sosial?

Blog: www.bulewife.com

YouTube : https://www.youtube.com/channel/UC9DEzZ1Sak0Qm-12Fzk5d8g

Teks dan foto oleh Adhasia, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Efi Yanuar: Lima Hal yang Seharusnya Saya Ketahui Sebelum Pindah ke Kolombia

April 11, 2021

Next Post

Lovira Ladieska: Menjalani Bulan Ramadan saat Pandemi di Perancis

May 9, 2021