Naz Majidah: Born and Raised in the Diaspora: What to Do and What to Expect About Living in the United States

March 28, 2021hellodiasporia

*Teks dan foto oleh Naz Majidah. Artikel asli ditulis dalam Bahasa Inggris dan sudah mengalami proses edit. Terjemahan Bahasa Indonesia ada di bagian bawah artikel. 

Life in the Diaspora 

I was born and raised in Maryland. My parents are Indonesian immigrants and I am 1st generation Indonesian American. All I’ve known is life in the diaspora, which means having 2 homes you can’t call your own. Moving abroad can be challenging, and moving to the US is its own unique monster. I humbly offer some tips and tricks I’ve picked up from witnessing my parents’ journey and countless other Indonesians coming to the States to realize their “American Dream”.

So, is There an American Dream? 

This is the “land of dreams”, and all of us here are “dreamers”. But much like actual dreams, it is very much out of our control. Its duration is undetermined, and we have no idea if it’s going to be pleasant or turns out a nightmare. Sounds scary? It is, but here are some tips to help you navigate the Wild, Wild West!

What to Do and What to Expect About Living in the United States

Adjust your intentions. Learn English not to be superior or to feel important, but begrudgingly for survival. Never assert your dominance or equate your value with your proficiency in English. That is a colonized mindset.

You can adapt, but never fully assimilate. Your role and place is to be, and always be “Indonesian”. Even if you end up becoming a citizen,  your role will never be to stop being Indonesian. This is a role and identity you were given at birth, and by society. You will always be look at differently. Hyphenated identities and new passports don’t transfer onto your skin, so why bother?

You don’t need to go out of your way to lose your Indonesianness. it will happen organically faster than you think / allow. Don’t resent your accent, don’t resist and repress your Indonesian instincts, don’t feel like you need to turn into an “American” overnight. When you start using more and more English, concede to local customs, policies and traditions, when you start working, start families, you won’t know what parts of you have faded slowly until it’s nearly all gone.

Preserve every bit of yourself and your Indonesianness as much as possible. Go ahead, wear your batik. It’s not “norak”, it’s loving yourself. Loneliness and homesickness will have us feeling desperate for kinship and community, especially in the very beginning. We will want to seek out other Indonesians and hang out with them to help bolster ourselves and find relief in familiarity in such an unfamiliar place. Craving Indonesian food, freely speaking Bahasa Indonesia with a companion is fine, as long as it doesn’t turn you into exclusively seeking out friendships with only other Indonesians.

Being Indonesian should not be your only friendship prerequisite. Make sure you forge meaningful and genuine connections. This will save you in the long run. The United States is a “melting pot”. Meaning, there is everyone here. There is not just one culture you should adapt to, tolerate and learn from; there are many. Do not accept and absorb only the White American culture, you must acknowledge and respect them all. You will be interacting with people from all over the world, each with their own complicated histories.

So, do not put White American culture on a pedestal. Challenge the anti-blackness taught to us back home and further reinforced here in the states. Question the privilege afforded to some of us and not others. Recognize the humanity in all the people you encounter.

I don’t mean to sound so cynical but I’ve seen it happen all too often, that Indonesians will get caught up and eventually subscribe to the Model Minority Myth, in which falsely promises that Asians will only prosper if they become obedient, anti-black, hardworking members of society.

I’ve seen Indonesians uphold and perpetuate white supremacy, not realizing it’ll also be at their expense. We will never be seen as equal here, so do not let this be your aspiration.

Yes, I sound very cynical.

But I know what it’s like to see your parents be discriminated against. I know what it felt like to have to teach my parents English the same time I learned it at school. I can remember when my Indonesian accent went away when I spoke English and when I developed an American accent when I spoke Bahasa Indonesia.

I know who welcomed me and became my life long friends. I appreciate my parents letting me be friends with who I wanted and opened our doors to everyone. I saw when other people did not. I saw how clique-ish and toxic Indonesian communities could be. I also found how amazing it is to find like minded Indonesians and recount shared experiences with them.

I’ve seen how some Indonesians throw their culture away as soon as they come here. I’ve seen Indonesians resist assimilation so much where they exclude everyone else. I’ve seen Indonesians facilitate our own erasure.

I’ve made my entire personality be about me being Indonesian.
I’ve asserted my Indonesian heritage into everything I’ve done.
I’ve lived at the crossroads of being too Indonesian for Americans and too American for Indonesians. I’m living with the consequences of both identities.

So just be yourself. Revel in your Indonesianness but be inclusive, share your Indonesianness. I now use my Indonesianess as a cultural backdrop, a point of reference against this American foreground. How will you use yours?

May you walk these foreign lands with an open mind and open heart.

May you find what you seek and be given the grace to learn and unlearn on your journey.

May you find “home” and community wherever you roam.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Hidup dalam Dunia Diaspora

Saya lahir dan besar di Maryland. Orang tua saya adalah imigran Indonesia, jadi saya termasuk 1st generation Indonesian-American. Yang saya tahu hanyalah kehidupan dalam dunia diaspora, yang berarti memiliki 2 rumah yang tidak dapat Anda sebut sebagai milik Anda. Pindah ke luar negeri bisa menjadi tantangan, dan pindah ke AS adalah monster uniknya sendiri. Pada kesempatan kali ini, saya dengan rendah hati menawarkan beberapa tips berdasarkan pengalaman saya menyaksikan perjalanan orang tua saya, dan banyak orang Indonesia lainnya yang datang ke Amerika, untuk mewujudkan “American Dream” mereka.

Jadi, Apakah Ada yang Namanya “American Dream?”

Ini adalah “tanah impian”, dan kita semua di sini adalah “pemimpi”. Tapi seperti mimpi yang sebenarnya, hal tersebut sangat di luar kendali kita. Durasinya tidak dapat ditentukan, dan kita tidak tahu apakah kejadiannya akan menyenangkan atau berubah menjadi mimpi buruk. Kedengaran menakutkan? Ya, tetapi berikut adalah beberapa tips untuk membantu Anda menavigasi Wild, Wild West!

Apa yang Harus Dilakukan dan Apa yang Bisa Diharapkan tentang Hidup di Amerika Serikat

Sesuaikan niat Anda. Pelajarilah bahasa Inggris, bukan untuk menjadi superior atau merasa penting, tapi untuk bertahan hidup. Jangan pernah menggunakan kemahiran Anda dalam bahasa Inggris sebagai indikator harga diri atau dominasi, itu adalah pola pikir bangsa jajahan.

Anda bisa beradaptasi, tetapi tidak pernah sepenuhnya berasimilasi. Peran dan tempat Anda adalah menjadi, dan selalu menjadi “orang Indonesia”. Sekalipun Anda akhirnya menjadi warga negara Amerika, peran Anda tidak akan pernah berhenti menjadi orang Indonesia. Ini adalah peran dan identitas yang Anda dapatkan saat lahir oleh masyarakat. Anda akan selalu dilihat secara berbeda. Identitas dan paspor baru tidak bisa merubah kulit Anda, jadi kenapa repot-repot?

Anda tidak perlu berusaha keras untuk kehilangan ke-Indonesiaan Anda. Itu akan terjadi secara organik, lebih cepat dari yang Anda pikirkan / izinkan. Jangan membenci aksen Anda, jangan melawan dan menekan naluri Indonesia Anda, jangan merasa Anda perlu berubah menjadi “Amerika” dalam semalam. Saat Anda mulai menggunakan lebih banyak bahasa Inggris, akui kebiasaan, kebijakan, dan tradisi setempat, saat Anda mulai bekerja, mulai berkeluarga, Anda tidak akan tahu bagian mana dari diri Anda yang perlahan memudar sampai hampir semuanya hilang.

Jaga setiap bagian dari diri Anda dan ke-Indonesiaan Anda sebanyak mungkin. Silakan pakai batik Anda. Ini bukan “norak”, tapi salah satu bentuk mencintai diri sendiri. Kesepian dan rindu kampung halaman akan membuat kita susah payah mencari rasa kekeluargaan dan komunitas, terutama di awal-awal kepindahan. Adalah hal yang normal untuk mencari orang Indonesia lainnya dan bergaul dengan mereka untuk membantu meningkatkan semangat diri dan mendapatkan perasaan familiar di tempat asing. Kangen makanan Indonesia dan ngomong bahasa Indonesia dengan teman boleh saja, tapi jangan membatasi pertemanan dengan sesama orang Indonesia saja.

Menjadi orang Indonesia seharusnya bukan satu-satunya syarat pertemanan Anda. Pastikan Anda menjalin hubungan yang bermakna dan tulus. Ini akan menyelamatkan Anda dalam jangka panjang. Amerika Serikat adalah “wadah peleburan”. Artinya, ada semua orang di sini. Anda harus beradaptasi, mentolerir, dan belajar dari banyak budaya. Jangan hanya menerima dan menyerap budaya Amerika Kulit Putih, Anda harus mengakui dan menghormati semua budaya yang ada. Anda akan berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia, masing-masing dengan sejarah rumit mereka sendiri.

Jadi, jangan menempatkan budaya Amerika kulit putih sebagai tumpuan. Tantang anti-blackness yang diajarkan kepada kita di rumah dan diperkuat lebih lanjut di Amerika. Tantang privilese yang diberikan kepada sebagian dari kita. Terimalah kemanusiaan pada semua orang yang Anda temui.

Saya tidak bermaksud terdengar sinis, tetapi saya sering melihat,  bahwa orang Indonesia akan terjebak dan pada akhirnya menganut mitos model minority yang secara palsu menjanjikan bahwa orang Asia hanya akan sukses jika mereka taat, menganut anti-blackness, dan pekerja keras.

Saya pernah melihat orang Indonesia menjunjung tinggi supremasi kulit putih, tanpa menyadari hal tersebut juga akan merugikan mereka. Kita tidak akan pernah terlihat setara di sini, jadi jangan sampai supremasi kulit putih ini menjadi aspirasi Anda.

Ya, saya terdengar sangat sinis.

Tapi saya tahu bagaimana rasanya melihat orang tua sendiri mengalami diskriminasi. Saya tahu bagaimana rasanya harus mengajari bahasa Inggris kepada orang tua saya, disaat saya juga sedang mempelajarinya di bangku sekolah. Saya ingat momen ketika aksen Indonesia saya hilang saat saya berbicara bahasa Inggris, dan saat saya berbicara bahasa Indonesia dengan aksen Amerika.

Saya tahu siapa yang menerima saya sepenuhnya dan menjadi teman seumur hidup saya. Saya menghargai orang tua saya yang membiarkan saya berteman dengan siapa saja dan membuka pintu rumah kami bagi semua orang. Saya sadar, ada orang lain yang tidak seperti itu. Saya pernah lihat bagaimana komunitas Indonesia bisa menjadi toxic dan negatif. Saya juga pernah merasakan betapa senangnya ketika saya menemukan orang Indonesia lain yang berpikiran sama, sehingga saya bisa berbagi pengalaman bersama mereka.

Saya pernah lihat orang Indonesia yang membuang budaya mereka begitu mereka datang ke Amerika. Saya pernah lihat orang Indonesia yang sangat menolak asimilasi sampai menolak orang lain diluar orang Indonesia. Saya juga pernah lihat orang Indonesia yang malah mendukung penghilangan budaya kita sendiri.

Saya telah membuat seluruh kepribadian saya menjadi tentang saya sebagai orang Indonesia.
Saya telah memasukkan warisan Indonesia saya ke dalam semua yang saya lakukan.
Saya telah hidup di persimpangan jalan, terlalu Indonesia untuk orang Amerika dan terlalu Amerika untuk orang Indonesia. Saya kini hidup dengan konsekuensi dari kedua identitas tersebut.

Jadi, jadilah dirimu sendiri. Nikmati ke-Indonesiaan Anda, tetapi jadilah inklusif, bagikan ke-Indonesiaan Anda ke sekeliling Anda. Saya sekarang menggunakan ke-Indonesiaan saya sebagai latar belakang budaya dan titik acuan ketika menghadapi budaya Amerika. Bagaimana Anda akan menggunakan ke-Indonesiaan Anda?

Semoga Anda berjalan di negeri asing ini dengan pikiran dan hati terbuka.

Semoga Anda menemukan apa yang Anda cari, dan diberi rahmat untuk belajar dalam perjalanan Anda.

Semoga Anda menemukan “rumah” dan komunitas di mana pun Anda berada.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Tiffany Imron: Kerja di Maritime Research and Innovation Center di Glasgow setelah S2 & S3

March 14, 2021

Next Post

Efi Yanuar: Lima Hal yang Seharusnya Saya Ketahui Sebelum Pindah ke Kolombia

April 11, 2021