Rahma Balci: Sekilas Cerita Tentang Kehidupan dan Budaya Turki

October 25, 2020hellodiasporia

Rahma Balci adalah seorang ibu dua anak, ibu rumah tangga, dan juga fulltime blogger yang menetap di Turki. Saat ini Rahma sementara tinggal di salah satu distrik di daerah pegunungan, masuk area Provinsi Corum, 3 jam dari ibukota Turki, Ankara. Sejak pindah ke Turki, Rahma dan keluarga sempat tinggal di Istanbul, namun harus berpindah – pindah karena mengikuti dinas kerja suami. Pada kesempatan kali ini Rahma bercerita tentang serba – serbi kehidupan dan budaya di Turki. 

Sekilas Cerita Sebelum Pindah dan Awal Hidup di Turki

 

Sebelum menetap di Turki, profesi terakhir saya adalah Desainer Grafis Senior di salah satu kantor Design and Promotion di Jakarta. Sebagai pekerja kantoran yang suka iseng online, nggak sangka saya malah ketemu jodoh. Ya, ternyata saya mengalami juga cerita standar bertemu pasangan lewat dunia maya, hingga akhirnya menikah dan menetap di negara suami. Awalnya berat untuk meninggalkan profesi yang saya sukai, tapi jalan jodoh tiap orang kan punya caranya sendiri. Saya tidak menyesal mengambil keputusan 9 tahun lalu, migrasi karena cinta, hehehe.

Nah setelah pindah, muncul masalah adaptasi dengan kehidupan baru saya di Turki. Ini WOW banget sih, jujur saya bukan fans negara Turki. Dulu awalnya saya mengira Turki berbahasa Arab, atau serupa dengan negara Arab. Begitu dekat dengan calon suami waktu itu, baru deh belajar sejarah dan geografinya.

Ada cerita menarik yang tidak akan saya lupakan di awal kedatangan saya ke Turki. Salah satunya ketika makan malam pertama kalinya dengan keluarga besar suami. Sebagai menantu baru, saya disambut dengan hangat. Saya masih ingat dengan menu pembukanya, orang Turki biasa menyajikan sejenis sup dulu sebelum menu utama, sup yang pertama kalinya saya coba namanya yoghurt corbasi atau sup yoghurt, isinya plain yoghurt , chickpea, dicampur dengan tepung sebagai pengental, kemudian ada taburan mentega yang ditumis dengan daun mint kering. Begitu sup disajikan, lidah saya langsung kaget dengan rasa ajaib ini,  sup dengan dominan rasa yoghurt yang asam dan aroma mint yang kuat, bisa membayangkan pasta gigi beraroma mint? nah rasa yang saya rasa di lidah saya waktu itu mengingatkan saya dengan aroma pasta gigi yang harus saya telan, dengan susah payah saya telan tapi kemudian beberapa suap kemudian saya menyerah.

Oh ya, budaya Turki tiap Provinsi juga ternyata berbeda. Mungkin pembaca yang pernah liburan ke Turki dan menikmati kuliner Turki yang terkenal, menilai semua makanan Turki lezat dan kaya aroma. Nah, sayangnya makanan khas dari Provinsi asal suami lebih cenderung minim bumbu dan jarang sekali pedas, ini yang membuat lidah saya agak syok! Bahkan di awal pernikahan saya baru tahu kalau makanan favorit suami adalah ayam panggang yang hanya dibumbui garam. Katanya dia lebih suka rasa daging ayam original, hiks rasanya langsung pengen nyocol sambal. Syukurnya waktu itu koper saya isinya sembako semua, bahkan stok mie instan cukup banyak, sebagai ‘penolong’ lidah untuk beradaptasi.

Jadi kalau berpikir setiap hari makan kebab, ya engga juga, tapi urusan konsumsi daging, orang Turki memang luar biasa. Bahkan ibu mertua saya menggunakan penyedap daging alami hasil menggiling daging yang ditumis dan dibekukan, karena beliau anti MSG.  Intinya, adaptasi makanan memang paling berat menurut saya, karena kuliner dari kampung halaman suami cenderung hambar di lidah Indonesia.

Adaptasi dengan Keluarga dan Budaya Turki

Setiap keluarga Turki memiliki aturan tersendiri dan tidak bisa dipukul rata. Mungkin ada pembaca yang biasa lihat dari tayangan film atau drama Turki tentang gambaran hubungan perempuan dan laki-laki di Turki, terutama di perkotaan yang sekilas mirip dengan gaya Eropa. Tapi, masih banyak keluarga Turki yang memegang erat budaya tradisional yang dipengaruhi agama. Kalau saya beri gambaran, keluarga Turki saya berada di tengah-tengah. Dibilang konservatif tidak begitu kuat, modern juga setengah – setengah, hehehe.

Malam Henna

Oh ya, patriarki di Turki itu masih kental. Ini seringkali yang menjadi keluhan dari teman – teman Yabancı (istilah untuk orang asing di Turki). Tambahan lagi, orang asing yang menikah dan masuk ke keluarga Turki biasa disebut Gelin (menantu perempuan). Faktanya, perempuan masih dianggap kelas dua. Turki negara transbenua, perpaduan adat barat dan timurnya juga kuat. Lalu bagaimana saya bisa bertahan dan beradaptasi? Balik lagi ke hubungan dengan pasangan. Sebelum memutuskan menikah tentu saja saya pikir matang-matang. Saya merasa harus mengenal karakter calon pasangan dengan baik, makanya dari waktu sebelum menikah kami sering bertukar pikiran tentang berbagai hal, mulai dari isu ekonomi, negara, agama, pendidikan, keluarga, sampai konsep yang ingin dibangun ketika menikah, hahaha diskusi berat deh.

Ngobrol apa saja tanpa ada ganjalan saya keluarkan, karena saya senang bahas berbagai isu dan calon suami harus nyambung, termasuk tentang kultur patriarkinya yang kuat. Saya minta dengan jujur pandangan dia dalam masalah ini, dan yang saya syukuri dia berpikiran terbuka dan tidak terlalu konservatif. Jadi selama pendekatan, mungkin karena usia cukup matang juga, kami menikah di usia 28 tahun, bertukar pikiran bukan hanya obral kata cinta dan gombalan.  Sejauh ini komitmen tetap berjalan, dalam rumah tangga kami, pembagian tugas dibagi rata, cukup berbeda dengan kebanyakan tradisi Turki yang patriarkinya kuat.

Suami adalah kunci utama saya adaptasi dengan Keluarga Turki, dia akan selalu menjadi aktor utama yang selalu berada disamping saya. Kalau ada kebiasaan Turki yang belum bisa saya terima, misalnya urusan makanan, suami siap mendukung saya. Contohnya, di rumah mertua, roti adalah makanan utama, dan saya sebagai orang Indonesia yang belum lepas makan nasi, sulit rasanya hanya makan roti. Mertua selalu khawatir kalau saya cuma makan nasi, selalu saja ditawarkan roti, hahaha. Karena di Turki, nasi itu dianggap sebagai lauk. Jadi sampai sekarang kalau berkunjung ke rumah mertua, beliau masih saja menawarkan roti. Tapi setiap beliau menawarkan makanan, suami selalu mengatakan “jangan dipaksa, kalau dia belum suka dengan masakan Turki“.

Membangun Keluarga dengan Dua Budaya

Saya memiliki dua anak. Anak pertama kini berusia 7 tahun dan sudah masuk sekolah dasar, anak kedua Desember nanti berusia 4 tahun. Saya berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan kedua anak, Babanya berbahasa Turki. Saya kenalkan bahasa Inggris juga, meski porsi bahasa Indonesia lebih dominan. Bagaimanapun, bahasa Indonesia adalah bahasa ibu dari pihak saya, apalagi sekarang kami tinggal jauh di daerah terpencil dan terakhir berinteraksi dengan teman Indonesia tahun 2018 sebelum saya pindah dari Istanbul.

Wah, menyebut Istanbul serasa comfort zone untuk perantau dari Indonesia di Turki, karena banyak orang Indonesia yang bermukim di Istanbul, baik karena menikah, bekerja, atau kuliah. Anak – anak saya dulu lumayan fasih berbahasa Indonesia untuk ukuran anak campuran, karena sering berinteraksi dengan teman – teman WNI. Sekarang, mereka berinteraksi dengan orang Turki semua, kalaupun ada orang asing, rata – rata dari Arab. Karena saya tidak mau mereka lupa bahasa Indonesia, saya tetap berusaha konsisten bicara dengan bahasa Indonesia di rumah, meski kadang keceplosan berbahasa Turki.

Beberapa tradisi Turki terutama untuk anak – anak masih sulit saya terima. Masyarat Turki percaya sekali tentang “evil eyes“. Simbol evil eyes di sini disebut Nazar Boncuk dan juga menjadi souvenir khas Turki, berbentuk bulatan mata warna biru. Jika ada bayi baru lahir, mengikuti tradisi Turki, mereka sering menyematkan Nazar Boncuki di baju si bayi, kadang dianggap jimat agar terhindar dari evil eyes. Sebenarnya dalam agama Islam ada istilah serupa yang dikenal dengan nama penyakit Ain’. Tapi kadang saya pikir tradisi di sini terlalu berlebihan, bahkan hingga memanggil bayi dengan kata – kata yang buruk agar terhindar dari evil eyes. Perbedaan budaya seperti ini masih sulit saya terima. Saya ambil menurut agama saja dan tidak mengikuti budaya Turki. Pernikahan beda bangsa bukan berarti hanya melebur di satu budaya yang dibawa pasangan, tapi mereka juga harus menerima perbedaan budaya yang saya bawa dari Indonesia dan saling menghargai.

Menjadi Duta Budaya Indonesia

Kalau mengira semua orang Turki tahu tentang Indonesia, ternyata tidak juga! Mereka yang hidup di kota besar memang tahu Indonesia, tapi coba hidup di daerah terpencil, banyak yang selalu salah mengira negara asal saya. Saya sering dikira orang Jepang, Korea, juga Cina. 9 tahun lalu, di kota kelahiran suami, saya pernah bertemu ibu – ibu yang merasa tahu Indonesia. Ketika saya tanya, tahu Indonesia dari mana, Teyze (tante) itu dengan percaya diri menjawab “Oh ya saya tahu Indonesia, salah satu provinsi di Cina kan?” Jlebbb. Rasanya saat itu ingin saya hadiahkan peta dunia ke tante tersebut!

Makanan adalah salah satu jalur saya untuk mengenalkan Indonesia. Sering saya memasak jajanan pasar atau bakso dan mengundang tetangga untuk makan bersama. Penerimaan mereka selama ini selalu baik, dan secara tidak langsung saya berhasil jadi duta budaya Indonesia.

Sebenarnya dibanding awal saya tinggal di Turki, sekarang sudah lebih banyak orang Indonesia yang menetap di Turki terutama di kota kota besar. Orang Indonesia paling banyak tentu saja di Istanbul. Bahkan di Istanbul ada 3 restoran Indonesia yang saya tahu, salah satunya milik teman saya namanya Warung Nusantara yang lokasinya tidak jauh dari pusat wisata di Istanbul.

Banyak teman saya yang akhirnya banting stir bisnis makanan Indonesia juga, bisa pesan online dan kirim kargo ke berbagai daerah di Turki. Mau cari makanan kemasan dari Indonesia juga sudah lebih mudah dibandingkan 9 tahun lalu. Dulu saking sulitnya, kami sampai harus order bumbu masakan Indonesia dari Jerman dan Belanda. Pernah sewaktu hamil anak pertama saya ngidam mpek-mpek dan belum ada teman  yang jual, saya coba bikin sendiri berbekal nyontek resep dari internet. Hasilnya ala kadarnya, nggak jelas dan rasanya aneh, hahaha. Sekarang sih sudah jauh lebih mudah, banyak teman Indonesia yang jual.

Ada beberapa komunitas Indonesia di Turki, selain pelajar yang tergabung dalam PPI Turki, ada juga lintas WNI, seperti di Istanbul dengan MII (masyarakat Indonesia di Istanbul), atau TIH (Grup khusus pelaku kawin campur Indonesia Turki). Adanya komunitas – komunitas tersebut jadi salah satu wadah untuk interaksi dengan teman – teman Indonesia. Apalagi sekarang ada sosial media, jadi mudah menemukan sesama orang Indonesia. Banyak yang menyambi profesi jadi Youtuber atau Blogger. Karena saya suka menulis, menjadi fulltime blogger adalah pilihan terbaik. Niche blog saya tentang dunia mix marriage Turki, tentang kehidupan sehari – hari, berinteraksi dengan masyarakat Turki, juga untuk mengenalkan kehidupan sehari – hari di Turki dan memberi sedikit pengetahuan tentang dunia kawin campur. Kalau pembaca ingin tahu lebih lanjut tentang kehidupan di Turki bisa mampir baca di blog saya, Keluarga Panda.


Jika ingin tau lebih banyak tentang Rahma, silakan berkunjung ke kanal pribadinya:

Blog: Keluarga Panda

Instagram: @RahmaBalci

Twitter: RahmaBalci

*semua foto disediakan oleh Rahma Balci dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Kartika Arifin: Pengalaman Hidup di Sydney Bersama Keluarga

October 18, 2020

Next Post

Astari Marthaningtyas: Pengalaman Kerja dan Cerita Kehidupan di Bangkok

November 8, 2020