Livia Marcha: Pengalaman Menjadi Au Pair di Desa Kecil Austria

February 28, 2021hellodiasporia

Teks dan foto: Livia Marcha

Bulan Oktober tahun 2019 adalah pengalaman saya kedua menjadi au pair di Eropa, setelah sebelumnya pernah menjadi au pair juga di Cologne, Jerman tahun 2018. Untuk yang mungkin belum pernah dengar apa itu au pair, au pair adalah semacam program homestay di mana kita bisa tinggal selama setahun dengan satu keluarga lokal di sebuah negara. Selama setahun kita saling belajar budaya satu sama lain dan belajar bahasa, tetapi kita juga punya kewajiban juga untuk membantu orangtua asuh kita disana.

Menjadi au pair di Austria

Saya kebetulan dapat keluarga asuh asli orang Austria dengan 3 anak perempuan dan mereka tinggal di Kaprun, Austria. Kaprun – Zell am See adalah desa kecil di negara bagian Salzburg. Dari Salzburg ke Kaprun memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan kereta.

Punya kesempatan tinggal di Kaprun menjadi pengalaman menarik buat saya. Bagaimana tidak, Kaprun – Zell am See adalah desa yang sangat cantik dan menjadi salah satu tempat wisata terindah di Austria. Tidak jauh dari Kaprun ada gunung Kirtzteinhorn yang juga termasuk dalam pengunungan Alpen Austria, oleh karena itu banyak wisatawan yang datang untuk bermain ski disana. Kebanyakan wisatawan yang datang adalah dari Jerman, Rusia, UK, Norway dan Belanda.

Selama tinggal di Kaprun saya banyak sekali belajar dan melihat hal-hal baru, seperti menonton pertunjukan di gunung es yang menampilkan para pemain ski dan snowboarding  profesional, menyaksikan acara-acara tradisional, dan juga punya kesempatan mencicipi makanan dari Eropa timur karena bapak asuh saya adalah seorang koki (meski tidak semua bisa cocok di lidah Sunda saya ini hehe).

Beradaptasi di Kaprun, Austria

Di awal kedatangan, jujur sulit buat saya untuk beradaptasi. Selama di Indonesia saya udah terbiasa hidup di kota besar yang ramai. Di Kaprun saya bingung mau ngapain. Susah untuk pergi ke mana-mana kalau bukan pakai kendaraan pribadi. Selama musim dingin, bus beroperasi cuma sampai jam setengah 8 malam. Di Kaprun tidak ada orang Asia-nya bahkan sangat sangat jarang sekali saya melihat wisatawan Asia yang datang. Mungkin ini karena wisata ski bukanlah hal yang biasa untuk orang Asia. Selama 6 bulan saya di sana, susah untuk mencari teman yang bener-bener saling mengerti satu sama lain. Mungkin di bagian pertemanan saya tidak begitu berhasil.

Beradaptasi dengan bahasa

Ini juga sulit. Orang Austria memang berbicara bahasa Jerman, tapi mereka punya dialeknya sendiri. Di rumah keluarga asuh, saya sering banget berbicara bahasa Jerman dengan dialek. Awalnya sulit untuk mengerti, tapi lama kelamaan saya jadi mengerti apa yang mereka maksud.

Refleksi tinggal di sana

Selama tinggal di sana, saya cuma bisa menikmati alam dan acara tradisional mereka. Meskipun hampir sepanjang waktu saya selalu sendiri menikmatinya, saya berusaha bersyukur untuk setiap hal yang bisa saya punya.

Memutuskan pergi jauh ke Eropa dan harus pisah sama keluarga di Indonesia adalah keputusan besar yang pernah saya ambil.

Saya tahu setiap keputusan pasti akan ada resiko yang harus kita terima. Sama halnya ketika saya harus tinggal di Kaprun dengan resiko susah cari teman dan susah belajar dialek Austria. Tapi justru dibalik tantangan itu saya lebih bisa bertanggung jawab akan diri saya sendiri. Bertanggung jawab akan keputusan saya, bertanggung jawab untuk tetap semangat, dan bertanggung jawab untuk menikmati setiap momen yang Tuhan boleh kasih ke saya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Faradyzka Aurora Kencana: Adaptasi dengan Budaya 'Ppalli Ppalli' di Korea Selatan

February 14, 2021

Next Post

Tiffany Imron: Kerja di Maritime Research and Innovation Center di Glasgow setelah S2 & S3

March 14, 2021