Pitri Muaja: Perjalanan Adaptasi dari Batu ke Los Angeles

July 19, 2020hellodiasporia

Pitri Muaja menghabiskan masa kecil di Bengkulu sebelum bersekolah dan bekerja di Batu, Malang. Sejak tahun 2018, Pitri tinggal di Los Angeles sebagai istri dan ibu 1 anak. Di sela kesibukannya mengurus keluarga, Pitri hobi nonton film Korea, nyanyi, mencoba berbagai makanan enak, dan membuat video di channel Youtube “Pitri Marbun“. Yuk, kenalan lebih lanjut dengan Pitri! 

Ceritain sedikit tentang Pitri dong, gimana awal pindah ke Amerika, udah berapa lama, dan sekarang kegiatannya apa aja. 

Hai, nama aku Pitri Muaja, aku udah tinggal di Amerika khususnya di Los Angeles, California dari September 2018. Sekarang kegiatan aku yaitu Ibu rumah tangga dan lagi berencana program hamil anak ke 2.

Aku cerita sekilas tentang awal gimana aku pindah ke Amerika ya. Jadi, awalnya itu aku bekerja sebagai guru di kota Batu, Malang. Suatu hari, aku dikenalkan sama suamiku sekarang. Awalnya kami ngobrol jarak jauh karena dia di Los Angeles sementara aku masih di Batu. Setelah ngobrol selama 4 bulan, akhirnya dia datang ke Indonesia dan kami memutuskan untuk pacaran. Setelah 7 bulan, kami tunangan dan setelahnya mengurus proses kepindahan aku ke Amerika. Proses pengurusan visa tunangan atau K1 Fiance Visa memakan waktu sekitar 8 bulan, setelah itu baru deh aku bisa berangkat ke Amerika dan menikah. Setelah menikah, aku lanjut mengurus ijin tinggal permanen dan sekarang sibuk mengurus anak kami yang baru aja berulang tahun ke-1. 

Apa sih tantangan terbesar Pitri ketika pertama kali pindah ke Amerika dan gimana cara mengatasinya?

Yang pertama itu jelas bahasa. Aku merasa ga bisa bahasa Inggris, dan meski udah ambil kursus di Indonesia sebelum berangkat ke Amerika, toh tetep ga nyantol di kepala, hehe. Jadi, solusinya yang aku lakukan adalah ambil kelas bahasa Inggris di Adult School.

Di sana aku  ketemu banyak teman dari berbagai negara, dan aku memutuskan buat bikin group pertemanan baru. Kami rajin nongkrong bareng, hal ini supaya aku bisa “memaksa” diri aku buat ngomong bahasa Inggris. Ini penting banget buat aku, karena kalau di rumah aku sering merasa cepat menyerah ketika ngomong bahasa Inggris sama suami. Baru beberapa kata udah balik lagi ke bahasa Indonesia, hehehe. Nah, kalau sama teman – teman kan mau nggak mau kami semua harus pakai bahasa Inggris, akhirnya jadi bikin otakku mikir, gimana caranya musti tetap ngomong bahasa Inggris kalau sama mereka.  

Yang kedua, jenis makanan. Awal pindah aku cukup menderita karena ga doyan makan ini itu, rasanya beda, aku doyan pedas, eh pas makan, rasa pedasnya Amerika yang ada malah asem dan beda sama rasa pedas Indonesia. Untungnya, di sini banyak supermarket Asia yang menjual sayuran dan beberapa produk Indonesia, jadi aku memutuskan untuk masak sendiri. Puji Tuhan, sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan makanan di Amerika. 

Yang ketiga, tantangan yang paling bikin aku nangis terus adalah proses kangen sama keluarga di Indonesia, dan belum menemukan teman – teman yang pas. Cara aku mengatasinya ya musti rajin cari teman, baik di gereja atau di Adult School. Pokoknya, punya komunitas itu penting buat aku. Oya, plus cari kesibukan sendiri sih. Aku mulai rajin bikin daily vlog dan juga  belajar masak, atau apapun aku coba biar bikin betah. Soalnya, dulu aku sibuk banget pas di Indonesia, dan waktu awal – awal baru pindah tuh bisa dibilang ga ada kesibukan, rasanya super ngga produktif. 

Bisa share tips adaptasi berdasarkan pengalaman Pitri pindah dari Malang ke Los Angeles?

Tambah dikit ya dari tips yang sudah aku ceitain di atas, menurut aku penting banget untuk cari komunitas supaya bisa dapetin/punya teman. Soalnya, komunitas menurut aku bisa bikin kita jadi betah. Kemudian, penting juga untuk cari hobi baru. Aku sebelumnya ga pernah nge vlog, tapi ternyata dari nge vlog malah jadi dapat kenalan dan teman – teman yang juga tinggal di California. Asik kan, dari  hobi baru jadi bisa nambah teman.

Apa hal – hal yang kamu paling suka dari hidup baru kamu di Amerika? 

Nomer 1 buat aku, di sini aku aku merasa diberi kesempatan buat “hidup baru”.  Memulai semua  dari 0 lagi, meski ada sedihnya tapi ternyata seru juga ya. Aku bisa mulai mikir mau membawa karirku kemana, atau cari teman baru lagi, atau belajar budaya baru lagi, dan lain – lain.  

Di Amerika aku juga merasa lebih bebas, dalam arti positif ya. Di sini ga pusing mau berbuat apa, ga ada yang sibuk komentar aneh atau jelek. Jadi lebih berani explore diri sendiri juga, dan lebih berani mencoba banyak hal baru yang sebelumnya nggak terpikirkan. 

Ada nggak sih kebiasaan orang lokal yang sudah menular ke Pitri sekarang? 

Ada banget, yaitu kebiasaan buat mengucapkan: “Hi good morning, how are you”, juga nanya kabar ke orang lain. 

Terus meski di Indonesia aku sudah melakukan hal ini, tapi di Amerika lebih berasa lagi buat selalu bilang excuse me, thank you, I’m sorry. 

Di Amerika juga aku lebih rajin misahin sampah dan melakukan daur ulang.

Last but not least, aku mulai terbiasa untuk ga terlalu kepo sama urusan orang, hehehe.

Sebagai ibu muda, apa suka-duka nya membesarkan anak dengan dua budaya (Indonesia dan Amerika)? 

Well, karena anakku masih kecil banget, aku belum terlalu banyak pengalamannya. Tapi sejauh ini, anakku mulai terbiasa dengan dua bahasa di rumah. Papanya ngomong bahasa Inggris, aku bahasa Indonesia.

Intinya, walau tinggal di Amerika, aku berkomitmen supaya dia nantinya tumbuh sebagai anak yang tetap cinta Indonesia. Meskipun dia lahir di Amerika, dia ga boleh lupa kalau darah keturunannya adalah darah Indonesia. Jadi, aku akan berusaha supaya anakku tetap belajar budaya Indonesia, selain budaya Amerika.

Apa harapan / cita-cita Pitri yang belum kesampaian di Amerika? 

Karena sekarang fokusnya mengurus anak, aku harus menunda sekolah dan bekerja sampai anak – anakku nantinya sudah masuk sekolah. Selain kembali sekolah dan bekerja, aku juga ingin jalan – jalan keliling Amerika, hehe. 

*semua foto disediakan oleh Pitri dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Lorraine Riva: Membangun Karir dan Kehidupan di Belanda

July 5, 2020

Next Post

Alicia Nevriana: Pengalaman PhD di Swedia dan Tips Lancar Berbahasa Swedia

July 26, 2020