Tiffany Imron: Kerja di Maritime Research and Innovation Center di Glasgow setelah S2 & S3

March 14, 2021hellodiasporia

(Dr) Tiffany Imron (Tiffany) berasal dari Surabaya. Setelah lulus dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) jurusan Teknik Industri dan bekerja selama 4 tahun di Surabaya, di tahun 2011, Tiffany mendapatkan beasiswa penuh dari Erasmus Mundus untuk menempuh pendidikan S2 di Glasgow, Skotlandia (1 tahun) dan Aalborg, Denmark (1 tahun). Tiffany kembali ke Glasgow di tahun 2013 untuk melanjutkan pendidikan ke S3. Saat ini Tiffany menetap dan bekerja di Glasgow, Skotlandia. 

Awal pindah ke Glasgow

Sejak kecil, I want to be a citizen of the world! Mungkin karena pengaruh Bapak saya yang pernah tinggal di US melanjutkan studi S2 (beliau adalah dosen di ITS). I applied to different scholarships, got rejected several times almost gave up. Until one day, saya mendapat email pemberitahuan bahwa saya mendapat beasiswa penuh dari Erasmus Mundus untuk melanjutkan S2 Global Innovation Management yang dilakukan di dua negara: Skotlandia (Glasgow) di tahun pertama, dan boleh memilih antara Denmark (Aalborg) atau Jerman (Hamburg) di tahun kedua. Saya memilih Aalborg karna selama satu tahun di sana, kami akan ditempatkan di perusahaan lokal untuk internship. Pada saat itu yang saya pikirkan simple aja, to be a citizen of the world, I need to find a job abroad, to find a job abroad, I need to get the experience of working abroad. 

Menjelang studi selesai, saya mendapat tawaran dari professor saya dari universitas di Glasgow (University of Strathclyde) untuk melanjutkan studi S3 dengan beasiswa penuh karena saya bekerja dengan beliau sebelum berangkat ke Denmark, membantu beliau menulis buku. Pada saat yang bersamaan, saya juga mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan tempat saya magang di Aalborg. But I decided to take the PhD offer instead. In 2013, I returned to Glasgow to start my PhD journey. 

Glasgow di Maret 2020, lockdown pertama.

Cuaca dan bahasa di Glasgow yang bikin kaget

Walaupun sudah tinggal hampir 10 tahun di Glasgow, ternyata masih banyak hal yang sering membuat saya terkaget-kaget. Aksen dan dialek orang Glasgow (Glaswegian) itu susah dimengerti! Saya masih kadang bingung mereka ngomong apa. Cuaca di Glasgow juga ga bisa ketebak. Default-nya basah (hujan) dan berangin, yang lainnya surprise! Orang-orang Glasgow percaya banget kalo ga ada yang namanya cuaca buruk, yang ada cuma pakaian yang salah; there’s no such thing as bad weather – only the wrong clothes (Billy Connely). I learned that using layers of clothes work! Kalo kepanasan tinggal dilepas layer-nya, kalo kedinginan, ditambah. Butuh beberapa saat untuk terbiasa dengan ini. Sekarang aja masi sering saltum! Walopun kadang bawa payung ga ada gunanya (karena angin), it helps kalo tiba2 ujan dan ga pake jaket waterproof.

Orang-orang Glasgow yang ramah dan suka mengobrol

Glaswegians kebanyakan ramah dan baik. Saya pernah tersesat dan bertanya arah, mereka dengan suka rela menemani saya jalan hingga dekat ke tujuan, memastikan saya ga nyasar. Glaswegians suka sekali ngobrol. Ketika antri di supermarket atau menunggu bus, ada saja yang ngajak ngobrol. Topik nya tentang apa saja: cuaca, bus yang ga dateng-dateng, keju yang mau dibeli. Random! Kelakuannya juga suka ajaib. Mirip-mirip orang Surabaya. Agak temperamen tapi kocak, celetukan-celetukannya suka out of the box, bikin ngakak. Mereka suka sekali minum (alkohol). Ga usah heran kalo weekend, mereka mulai minum waktu brunch. Waktu weekend dan menjelang Natal, melihat orang terkapar di jalan karena mabuk parah bukan pemandangan yang aneh. Tapi Glasgow tergolong aman kok. Jangan keluar malem-malem sendirian aja pokoknya, dan hindari bertatap mata dengan orang yang sedang mabuk.

Lokasi Glasgow juga menyenangkan. Nyetir 15-30 menit dari Glasgow udah bisa ngeliat pemandangan Highlands yang breath-taking!

Pemandangan indah di Isle of Skye

Pengalaman kerja di maritime research and innovation center di Glasgow setelah selesai PhD

Tahun terakhir PhD (2016), saya mulai mencari2 kesempatan untuk bekerja di Glasgow karena saya ga pengen pulang ke Indonesia. Tantangan utama: visa. Tidak semua perusahaan bersedia memberi sponsor. Walaupun PhD saya setengahnya dibiayai perusahaan UK, tidak segampang itu mendapat pekerjaan dari mereka karena skill Management saya yang dianggap kurang spesial (FYI, untuk dapat sponsorship, kita harus punya special skill, misalnya IT, engineer, dokter, perawat, researcher). Yang paling gampang adalah bekerja di universitas. Beruntungnya, di detik-detik terakhir menjelang lulus, departemen tempat saya PhD mencari Researcher untuk membantu mendirikan maritime research and innovation center untuk UK.

Saya mulai bekerja setelah saya selesai PhD (pertengahan 2017) sampai sekarang, and I love my job! It’s like building my own company. Saya diberi kebebasan penuh untuk membentuk research center ini dari nol. Saya membuat peraturan, regulasi, kebijakan, dan governance. Bahkan termasuk branding, konten untuk website, dan desain. Sekarang pekerjaan saya adalah untuk mengelola research center ini. Saya harus memastikan semua objektif tercapai dan semua aktivitas yang direncanakan berjalan lancar. Saya bekerja dengan berbagai macam manusia dari organisasi yang berbeda (perusahaan multinasional, SMEs (small-medium enterprises, perusahaan kecil dan menengah), pemerintah UK and Skotlandia, universitas). Setiap hari, tantangan yang saya hadapi berbeda. Ga pernah membosankan.

Dari pengalaman sekolah dan kerja di Glasgow, yang saya suka adalah semua fair dan transparan. Kami boleh mempertanyakan keputusan boss/dosen dan men-challenge mereka. Tanggung jawab sejajar dengan banyaknya gaji dan boleh protes kalo dirasa ga pas. Kesehatan mental sangat diperhatikan. Di tempat saya bekerja, selama lockdown, kami diliburkan setiap hari Jumat untuk fokus ke mental health. Support untuk kesehatan mental juga banyak, contohnya konselor yang bisa kita telpon kapanpun selama 24 jam/7 hari. Saat saya sedang stress karena beban pekerjaan dan masalah personal sehingga performance kerja menurun, HR menganjurkan saya untuk mengambil cuti dan berbicara dengan dokter. Dokter memberikan surat “not fit for work” selama 2 minggu karena kesehatan mental saya tidak memungkinkan untuk bekerja.

Dulu kuliah, sekarang kerja di sini.

Tantangan untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapat

Tentu saja tidak semua menyenangkan. Selain rindu keluarga dan makanan Indonesia, tantangan buat saya adalah berpikir kritis. We are allowed to (and should) question things. Kita juga harus proaktif. Ga nunggu disuruh baru jalan. Saya tidak terbiasa dengan ini. Selain itu, sebagai minoritas (perempuan Asia), I feel that I have to prove myself more than my peers. Di tahun pertama bekerja, kepercayaan diri saya rendah sekali. Tiap masuk ke ruangan meeting, saya merasa orang-orang menganggap saya bukan siapa-siapa. I pushed myself and worked hard! Saya selalu berusaha untuk memberikan pekerjaan berkualitas tinggi. Saya ikut berbagai kursus pengembangan diri. Eventually, I got better. Saya diakui untuk pekerjaan saya, dan kepercayaan diri saya meningkat. Saya bisa menyampaikan pendapat saya dengan lebih baik di meetings. Sekarang, di berbagai meetings, pendapat saya sering ditanyakan dan didengarkan.

Tips untuk yang ingin bekerja di luar negeri

Saran saya untuk yang ingin bekerja di luar negeri is to work on yourself first. Kembangkan skills kamu supaya kamu bisa bersaing di pasar global. Be persistent, be brave but manage your expectations. Punya special skill akan jadi nilai plus. Kesempatan sekarang terbuka luas. Pemerintah UK sudah memberlakukan kembali visa PSW (Post-study Work) selama 2 tahun untuk mereka yang lulus dari UK. Pergunakanlah sebaik mungkin. Jalur paling “gampang” dan “aman” untuk imigran memang lewat universitas. Tapi, gaji lebih kecil daripada bekerja di perusahaan.

Kalau kamu mau tinggal di luar negeri, kamu harus bisa berpikiran terbuka. It’s a different country with different culture, beliefs, rules. Kamu perlu bener-bener bekerja keras (tapi jangan lupa untuk have fun juga). Apalagi dengan latar belakang sistem pendidikan yang berbeda, cara berpikir kita harus diubah total. Memang susah untuk tinggal di luar comfort zone, dikelilingi orang-orang asing dengan latar belakang, budaya, dan bahasa yang berbeda. It can get lonely sometimes. At the end of the day, life is a matter of choices. If you’re ready to be challenged and have a new amazing adventure, go for it! It’s totally worth it 😊 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Livia Marcha: Pengalaman Menjadi Au Pair di Desa Kecil Austria

February 28, 2021

Next Post

Naz Majidah: Born and Raised in the Diaspora: What to Do and What to Expect About Living in the United States

March 28, 2021