Abigail Tessa: Tinggal di Jerman Melalui Program Kerja Sosial

October 4, 2020hellodiasporia

Abigail Tessa saat ini menetap di Jerman sebagai peserta program FSJ (Freiwillige Soziales Jahr). Sebelumnya, Tessa sempat menjalani program Au Pair di 2 negara Eropa lainnya, Swedia dan Denmark. Di tengah – tengah kesibukannya, Tessa juga aktif di blog Cerita Von Eropa dan sering membagikan cerita informatif soal tinggal di Eropa. Pada kesempatan kali ini, Tessa berbagi pengalaman dan menceritakan lebih lanjut soal program FSJ. Yuk simak cerita Tessa! 

Teks dan gambar oleh Abigail Tessa. 

Halo, salam kenal dari saya, Tessa di Jerman. Sebelumya, saya ingin mengucapkan terimakasih untuk Diasporia karena sudah memberikan ruang untuk bercerita buat teman-teman di Indonesia. Saya berasal dari Jakarta dan selama dua tahun terakhir ini saya tinggal di Eropa.

Menjadi Au Pair di Swedia dan Denmark

Awal mulanya, saya memang selalu ingin melihat dunia. Coba-coba program beasiswa, tapi kok rasanya gak tepat. Selain kebanyakan program beasiswa mengharuskan saya kembali ke tanah air (sedangkan saya ingin mencicipi tinggal di Eropa lebih lama), saya juga lebih kepingin mencari pengalaman dan traveling. Fokus kuliah dengan beasiswa rasanya bukan pilhan yang tepat. Sehingga ketika belum dapat beasiswa pun, saya tidak putus asa dan mencoba cara lain untuk ke Eropa. 

Dua tahun lalu saya akhirnya pergi ke Swedia sebagai au pair. Karena suatu hal, saya hanya tinggal selama tiga bulan di negara asal IKEA ini. Cerita au pair saya pun berlanjut di Denmark. Beberapa bulan sebelum program au pair saya selesai, saya pun mencari cara untuk tinggal lama di Eropa. Alasannya? Saya masih ingin mengejar cita-cita saya untuk kuliah atau bekerja tetap di Eropa.

Pindah ke Jerman Lewat Program Kerja Sosial

Jerman pun menjadi pilihan. Selain karena saya sudah LDR lebih dari dua tahun dengan pria berkebangsaan Jerman, negara ini juga menawarkan banyak kesempatan untuk pendatang. Bukan hanya melalui program au pair dan menikah dengan WNA saja. Para pemilik paspor Indonesia juga banyak yang mengikuti program kerja sosial dan internship. Tidak sedikit yang bahkan akhirnya mendapatkan izin tinggal tetap di negara yang terkenal dengan industri mobilnya ini.

Jerman adalah negara yang sangat menghargai bahasanya sendiri. Lain dengan dua negara yang saya tinggali sebelumnya, tidak begitu banyak orang Jerman yang fasih berbahasa Inggris. Apabila saya ingin tinggal lama di Jerman, berarti saya harus memahami bahasanya juga.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti program FSJ (Freiwillige Soziales Jahr). FSJ ini banyak diikuti oleh orang Jerman dan juga muda-mudi dari berbagai belahan dunia seperti Brazil, USA, bahkan Madagaskar.

Apa sih sebenarnya FSJ ini? Intinya adalah kerja sosial selama minimal 6 bulan dan maksimal 18 bulan. Visa yang diberikan pun khusus untuk FSJ, bukan hanya sekedar multi entry visa untuk jalan-jalan saja. Melalui FSJ, saya ingin terus memperlancar bahasa Jerman saya. Selain itu, saya juga langsung mendapatkan pengalaman kerja dengan orang-orang Jerman. Dengan begitu, saya bisa lebih mengintegrasikan diri saya dengan kehidupan di Jerman. Selain itu, saya juga mendapatkan uang saku, tempat tinggal, makan siang, dan juga berbagai diskon menarik seperti misalnya untuk transportasi. Sehingga, keseharian saya pun sudah terjamin.

Salah satu kegiatan sehari – hari, menemani murid menunggang kuda

Suka – Duka Merantau di Jerman

Sebagai orang Indonesia yang merantau di Jerman, tantangan utamanya tentu saja dari segi budaya. Orang Jerman sangatlah berterus terang dan cenderung tidak berbelit-belit saat berbicara, hehe. Berbeda dengan orang Indonesia yang lebih mengutamakan perasaan lawan bicara. 

Untungnya, pengalaman saya selama di Denmark benar-benar membuat saya terbiasa untuk tinggal di negara tetangganya ini. Saya jadi terbiasa untuk mengutarakan pikiran saya apabila ada masalah. Apabila ada hal yang saya rasa tidak benar, saya juga siap menyanggah. Jangan takut juga kalau ada yang berbicara dengan intonasi tinggi atau terdengar kasar. Menurut saya itu hanya bagian dari perbedaan budaya saja.

Hal yang saya sukai selama tinggal di Eropa adalah being liberal. Orang-orang di sini sangat menghargai pendapat dan kebebasan individu. Tidak ada larangan kesopanan tertentu, seperti misalnya harus menggunakan pakaian tertentu, dsb. Saat musim panas pun kita bebas geloyoran di pinggir danau dan menyerap sinar matahari sebanyak-banyaknya. Sebagai perempuan, saya merasa lebih bebas berekspresi dan berpakaian. Tidak ada larangan seperti, perempuan kalau berbicara tidak boleh keras, dsb. Selama kita melakukan tugas kita dengan benar, tidak ada masalah.

Salah satu aktivitas di sekolah, memberi makan hewan

Tips Soal Program FSJ di Jerman

Bagi teman-teman pembaca yang tertarik dengan program ini, saran utama saya adalah untuk mempelajari bahasa Jerman hingga tingkat B1.

Menurut saya, program FSJ ini adalah program yang sangat bermanfaat. Apabila kalian ingin kembali ke Indonesia setelahnya, kalian bisa memanfaatkan kemampuan bahasa kalian dalam karir dan pekerjaan. Goethe Institut dan Kedubes Jerman, Swiss, dan Austria setahu saya membuka kesempatan untuk orang Indonesia yang fasih berbahasa Jerman minimal B2.

Kalau kalian ingin tinggal di Jerman, program FSJ ini juga sangat menguntungkan. Beberapa kenalan malah mendapatkan pekerjaan melalui program Ausbildung di tempat yang sama saat mereka melakukan FSJ. Kalau kalian ingin kuliah, kemampuan bahasa dan pengalaman kerja kalian bersama orang Jerman akan menjadi sangat berharga.

Hayo, apakah kalian jadi tertarik untuk mengikuti program ini? Kalau iya, jangan lupa baca petualangan saya di Eropa melalui website ceritavoneropa.com dan instagram @abigailtessa.

Salam hangat dari Jerman,

Abigail Tessa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Eurisca Enditaputri: Belajar Sambil Melestarikan Budaya Indonesia di Hangzhou

September 27, 2020

Next Post

Karina Indrasari: Karir dan Kehidupan Sebagai Grad Student di Amerika Serikat

October 11, 2020