Diaspora Indonesia di Faroe Islands

Reni Heimustovu: Slow Living di Belahan Bumi Utara

May 23, 2021hellodiasporia

Hai. Nama saya Reni. Lahir Jambi, besar di Jakarta, tapi suku asal keluarga dari Bali. Baru 2 tahun ini saya tinggal di kota Klaksvik di Kepulauan Faroe, sebuah negara mungil yang masih bagian dari wilayah teritori kerajaan Denmark yang lokasinya jauh di belahan utara bumi. Sebuah negara yang belum tentu banyak yang tahu. Penduduknya saja hanya 50 ribu jiwa. Kenapa bisa “nyasar” kesini? Klasik. Singkatnya, saya jatuh cinta dengan laki-laki Faroe. Saya pun mungkin tidak akan pernah tau Faroe kalau bukan karena dia.

Saya bertemu Martin, suami saya, ketika kami sama-sama kuliah di Universitas Aarhus, Denmark. Jadi sambil mengejar gelar Master, saya dapat bonus Mister. Ini di luar rencana. Alhasil saya jadi dapat gelar double degree deh, Mrs. dan M.Art. Lalu setelah terpisah jarak selama 6 tahun, saya memutuskan untuk pindah ke Kepulauan Faroe. Bukan sebuah pilihan yang mudah buat saya untuk pindah ke Kepulauan Faroe. Tapi, mudah-mudahan ini adalah keputusan yang terbaik buat kami. 

Keluarga Reni Heimustovu di Kepulauan Faroe

Mengapa Saya Memilih Untuk Pindah

Banyak faktor yang buat saya memilih untuk hijrah ke negara asal suami saya ketimbang sebaliknya, suami pindah ke Jakarta. Di sini pendidikan gratis, kesehatan gratis, angka pengangguran rendah, angka kejahatan juga rendah, sampai-sampai penjara pun tidak ada di Faroe. Dan hingga detik ini saya belum pernah lihat pengemis, pemulung, ataupun tuna wisma.

Amannya kehidupan di Faroe adalah hal utama yang membuat saya memutuskan untuk pindah ke Faroe. Karena, saya pindah ke Faroe tidak sendiri. Tapi, saya juga memboyong 3 anak dari pernikahan sebelumnya. Negara ini adalah tempat yang ideal untuk membesarkan keluarga. Anak-anak bebas bereksplorasi dengan alam sekitar tanpa kuatir ada kejahatan yang mengintai.

Tantangan Dalam Memulai Hidup Baru di Kepulauan Faroe 

Sisi beratnya, pindah ke Faroe artinya saya harus siap jauh dari segala support system yang sudah saya bangun selama hidup. Teman, sahabat, keluarga, serta karir. Di sini, saya jadi harus mulai membangun semuanya dari nol. Artinya belajar bahasa baru, belajar budaya baru, cari teman baru, membangun keluarga baru, dan tentunya mencari pekerjaan baru.

Memulai dari nol tidaklah mudah. Gelar Master yang baru saya raih, serta belasan tahun pengalaman kerja di Indonesia nyaris tidak ada artinya, karena kemampuan saya berbahasa lokal masih belum cukup baik. Penduduk di sini berbahasa Faroe. Karena tingkat kompleksitas bahasa yang cukup tinggi, bahasa Faroe ini tidak ada di google translate ataupun duolingo. Sehingga, bahasa Faroe bukanlah hal yang mudah untuk dikuasai dalam tempo sesingkat-singkatnya. 

Apalagi saya mulai kenal banyak imigran yang sudah tinggal lebih lama dari saya, dan mereka masih kesulitan mendapat pekerjaan sesuai latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang mereka punya. Alasannya, kemampuan bahasa Faroe mereka dinilai masih belum cukup baik. Saya jadi pesimis.

Suasana di Kepulauan Faroe

Kendala bahasa juga merupakan kendala adaptasi terbesar untuk ketiga anak kami, terutama untuk anak kami yang paling sulung. Tapi untungnya, guru dan pihak sekolah di sini sangat aktif membantu mengatasi kesulitan anak-anak kami untuk beradaptasi. Mereka diberikan kelas tambahan belajar bahasa, dan juga sementara diberikan beban pelajaran yang sesuai kemampuan mereka. 

Nilai akademis bukan sebuah hal yang utama di sini. Mereka lebih mengutamakan kesehatan mental. Jika anak sudah senang belajar, maka nilai memuaskan akan tercapai dengan sendirinya. Jadi, nilai tinggi tidak ada artinya jika anak tertekan secara mental. Sebagai ibu Asia yang terbiasa dengan pentingnya nilai, ini sebuah penyesuaian yang luar biasa.

Tahun pertama kemarin merupakan tahun penyesuaian terberat bagi kami. Tapi kami beruntung. Kami dapat banyak bantuan dari pemerintah setempat. Mulai dari suster sekolah, konselor keluarga, hingga psikolog. Semuanya tanpa biaya. Berkat bantuan dari banyak pihak, kini kami, termasuk anak-anak, sudah jauh lebih bisa beradaptasi walau bahasa masih menjadi kendala utama.

Gaya Hidup Slow Living di Faroe 

Hidup di sini jauh dari hingar bingar dan glamor ibu kota seperti Jakarta. Toko-toko tutup pukul 5 sore. Restoran dan bar boleh buka hingga lewat tengah malam hanya di malam Sabtu dan malam Minggu. Hari Minggu sebagian besar toko tutup. Pusat perbelanjaan seperti mal hanya ada 1, dan itu letaknya hanya di ibu kota. Bioskop pun hanya ada 2. Karena tidak banyak pilihan, maka hiburan terbesar kami adalah menikmati keindahan alam dan udara segar di Faroe. Awalnya anak-anak mengeluh bosan, tapi sekarang cuaca unik yang sulit ditebak pun jadi hiburan tersendiri buat kami.

Kepulauan Faroe

Mungkin karena tenangnya negara ini, tanpa sengaja gaya hidup di sini pun cenderung slow living. Sama seperti sekolah anak-anak kami yang tidak memburu-buru mereka untuk cepat bisa bahasa Faroe, segala hal di sini tidak bisa diburu-buru. Kecuali darurat. Pesan kacamata, jadinya bisa sebulan. Itupun kalau mereka tidak lupa. Hahahaha. Bayar kursus terkadang baru ditagih 3 bulan setelah kursus selesai. Saya hampir saja lupa. Sempat saya kira kursusnya gratis.

Dan sekarang saya juga sedang menikmati cuti melahirkan yang cukup panjang, 52 minggu. Iya 1 tahun lamanya. Cuti melahirkan yang bisa saya bagi bersama suami. Karena buatnya berdua, tentu saja merawatnya juga tanggung jawab berdua. Sebuah hal yang saya harap suatu hari bisa juga terjadi di Indonesia. Ini pertama kalinya saya selama 1 tahun penuh mengasihi bayi tanpa dimanjakan oleh ibu saya, ataupun pengasuh bayi. Yang ada hanya bantuan dari suami dan ketiga anak kami. Keluarga mertua tidak suka campur tangan kalau tidak diminta, dan saya juga masih segan. Kecuali terpaksa sekali, saya pilih urus semuanya sendiri. 

Menikmati Keindahan Alam Faroe Bersama Keluarga

Di sini kami berusaha semandiri mungkin. Awalnya berat, tapi sekarang anak-anak mau turun tangan membantu. Semua urusan domestik kami kerjakan bersama. Memasak, mencuci, membersihkan dan merapikan rumah. Sampai-sampai putra bungsu kami yang berusia 11thn sudah bisa masak rendang sendiri.

Hal lain yang saya suka dari negara ini, mereka tidak pernah memandang anak bawaan dari pernikahan sebelumnya adalah sebuah beban atau anak “tiri”, tapi anak-anak ini adalah anak-anak bonus. Laki-laki perjaka memilih menikah dengan wanita beranak tiga, bukan hal luar biasa yang bisa dijadikan pergunjingan tetangga. Mereka menganggap ini hal biasa saja. Ketika ada yang bertanya “How many children between you and Martin?” saya reflex menjawab “3 dari pernikahan sebelumnya dan 1 anak bersama.” lalu mereka mengoreksi saya “Jadi, kalian punya 4 anak bersama”. Ups.

Perihal pekerjaan, kini saya pilih pasrah. Bukan menyerah. Sementara saya hanya bisa bekerja di pabrik ikan. Bukan sebuah pekerjaan yang bisa saya banggakan, tapi juga bukan sebuah pekerjaan memalukan yang harus saya tutupi. Saya tidak kecil hati walau punya gelar Master dan tinggal di luar negeri tetapi “hanya” kerja sebagai buruh kasar di pabrik ikan. Saat ini, saya tetap berusaha sekeras mungkin untuk belajar bahasa serta membangun jaringan pertemanan baru. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya akan bisa sampai di titik yang saya mau. Jadi, sekarang saya sabar dulu. Mohon doanya ya…

Salam hangat dari belahan utara bumi,

Reni Heimustovu

NB: Ikuti petualangan kecil keluarga kami di instagram @Heimustovu dan YT Channel Heimustovu Story.

Teks dan foto oleh Reni Heimustovu, diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Lovira Ladieska: Menjalani Bulan Ramadan saat Pandemi di Perancis

May 9, 2021

Next Post

Hesti Maharini: Perjalanan Emosi dan Mental Sebagai Imigran di Belanda

June 6, 2021