Vira Cania Arman: Dari S2, Mencari Kerja, Hingga Bekerja di Belanda

July 5, 2020hellodiasporia

Vira Cania Arman memulai karirnya dengan bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas dan Bank Indonesia. Setelah menikah, Vira menyusul suami ke Belanda dan menyusun rencana untuk memulai karir di Belanda, sambil berbagi cerita lewat channel Youtube pribadinya. Dimulai dengan mencari beasiswa S2, kuliah di Belanda, mencari kerja, sampai sekarang menjadi pegawai di sebuah bank di Belanda, di kesempatan ini Vira akan berbagi cerita dan tips mengenai pengalamannya di Belanda.

Ceritain sedikit tentang Vira dong, gimana awal pindah ke Belanda, dan sekarang kegiatannya apa aja.

Maret 2016, ketika akan menikah… Kami tau bahwa membangun keluarga lebih baik berada dibawah 1 atap. Sudah menjalani pacaran LDR selama 2 tahun, untuk lanjut LDM tanpa waktu yang ditentukan bukan opsi. Melihat plus dan minus untuk karir aku dan Ryvo, kami memutuskan agar aku resign dan pindah ke Belanda. Untuk memulai karir di Belanda akan lebih mudah kalo aku punya background S2 dari Belanda. 

Berawal dari plan tersebut, aku pun mencari-cari beasiswa S2 dan alhamdulillah mendapatkannya di tahun 2016. 1 tahun kuliah S2 dan sekarang aku bekerja di Corporate & Institutional Banking – Department of Control Operations (Static Data) di ABN Amro Bank, Amsterdam. 

Waktu pindah ke Belanda kan Vira baru nikah. Gimana pengalaman sekolah dan (sekarang) bekerja di luar negeri sebagai pasangan baru?  

Seru! Setelah LDRan cukup lama dan akhirnya bisa sama-sama almost 24 hours/day yaa menyenangkan… Mungkin ada sedikit penyesuaian tentang kebiasaan-kebiasaan baru masing-masing. In general, kami sii seneng bisa hidup mandiri, bagi-bagi tugas rumah tangga, dan mengenal satu sama lain. Bekerja di Belanda juga rasanya lebih work-life balance di banding di negeri sendiri hehehe, jadi seneng banget bisa cukup balance di dua “dunia”. 

Apa hal yang paling challenging sebagai imigran dari Indonesia di Belanda, dan gimana ngatasinnya?

Belanda feels like my second home since 2011. Dulu pernah tinggal di Groningen untuk pertukaran pelajar pas S1 selama satu semester. Pindah kesini lagi di Juli 2016, proses adaptasi lingkungan hampir nggak ada. 

Yang paling challenging mungkin mencari kerja ya… Untuk bidang-bidang tertentu seperti bisnis/finance/marketing/hukum, di sini lebih prefer orang lokal dibanding internasional. Dan banyak banget vacancy yang butuh fluency in Dutch. sedangkan untuk bidang teknik/IT,  orang internasional lebih banyak peluangnya.

Salah satu solusinya adalah dengan belajar bahasa. Tapi kalo belajar bahasa dirasa susah, coba apply ke international companies. Semua pasti ada jalan asal mau usaha lebih keras. 

Vira kan sekarang kerja di Bank ABN Amro, setelah sebelumnya sempet kerja di BI. Menurut Vira, apa yang berbeda dengan budaya kerja, kebiasaan, atau lingkungan pekerjaan di Indonesia dan Belanda?

Hmm.. dari segi motivasi dulu mungkin udah beda ya… Kalo di BI, kerja itu kan dedikasi untuk negeri. Ada kebanggaan tersendiri untuk bisa berkontribusi lebih nyata dan berjuang agar Indonesia punya masa depan yang lebih baik. 

Kalo di ABN Amro, yaa lebih ke ambisi pribadi. Dari waktu kecil, cita-cita aku memang pengen ngerasain kerja di lingkungan yang diverse, punya international networking yang luas, ketemu sama inspiring people dari berbagai belahan dunia dan alhamdulillah sekarang tercapai. 🙂 

Perbedaan yang paling signifikan mungkin tentang business trip. Di BI, hampir tiap dua minggu ada aja undangan dinas ke luar kota/pulau. Kalau disini, lebih efisien yaa… Sebisa mungkin meeting via video call, selama yang dibahas masih bisa dibicarakan via e-mail, yaaa pasti lewat email. 

Bekerja lebih dari 8 jam jadi hal yang lumrah di lingkungan kerja Indonesia pada umumnya. Termasuk dinas yang mengambil di hari weekend (Sabtu – Minggu). Sedangkan disini, work life balance itu yang utama. Lembur nggak bisa sembarang lembur di sini karena cost-nya mahal. Direktur tempat aku bekerja sangat menghindari kehidupan yang tidak balance, lembur harus izin ke beliau di awal hari. Ketika mengajukan lembur, akan dicarikan solusinya bersama: apakah ada anggota team lain yang bisa bantu, atau pekerjaan tersebut bisa di postpone satu hari.

Meeting disini durasinya sangat pendek! Pembahasan project, atau meeting mingguan biasanya hanya 15 – 30 menit. Sangat jarang ada meeting diatas 1 jam. Sesuatu yang bisa diselesaikan secara bilateral yaa tidak dibawa ke forum. Sedangkan di Indonesia, 15 menit diawal baru pembukaan biasanya hehehe…

8 jam bekerja disini, purely bekerja lho! No main hp, check or update Instagram/Facebook, atau update kehidupan/gosip sambil makan gorengan di sore hari hahaha… Senengnya yaa jadi lebih fair, efektif dan efisien. 

Vira pernah share di vlog tentang pengalaman cari kerja di Belanda. Ada tips-tips atau lesson learned ga dari pengalaman itu, sampe akhirnya sekarang dapet kerja?

  • Cari kerja di Belanda itu susaaaaah… Tapi bukan berarti nggak bisa. Semakin sering mencoba, semakin besar peluangnya. 
  • Mulai bekerja jadi intern memperbesar peluang untuk di-hire full-time. Intern jadi ajang pembuktian kalo kita itu berkompeten kok 🙂 
  • Usaha, doa dan konsisten jadi kunci utama. Lebih baik bikin target apply ke 5 perusahaan per hari, dibandingin 50 perusahaan dalam satu hari. 
  • Ditolak bukan berarti kita buruk, namun lebih kepada kita tidak cocok dengan value perusahaan tersebut. Jangan berkecil hati dan coba terus!
  • Tailor your CV! Tiap perusahaan, tiap vacancy pasti punya kriteria masing-masing. Nah! Ini kesempatan kamu untuk bisa nyocokin kemampuan diri dengan vacancy yang ada. 
  • Orang Belanda pada umumnya sangat direct dan percaya diri, berbeda dengan budaya kita yang lebih kalem dan cenderung merendah akan prestasi yang dipunya. Dengan banyak latihan di depan cermin & jam terbang interview, aku akhirnya bisa switch ke budaya Belanda yang percaya diri dan vokal dalam menyampaikan pendapat. 

Ada ga kebiasaan orang Belanda yang ‘nular’ ke Vira sekarang?

  • On-time: di Indo, aku juga udah on-time sii karena pengaruh papa yang disiplin, tapi disini lebih menghargai waktu orang lain dan sangat precise kalo ketemuan. 
  • Bikin plan ketemuan sama temen berbulan-bulan sebelumnya hahaha. Orang Belanda itu dikit-dikit bikin appointment dan paling nggak suka kalo tiba-tiba di-cancel mendadak hari H. Ini sii yang kebawa sama aku sekarang. 
  • Ngopi di pagi hari: di Indonesia, aku nggak pernah deh ngopi, biasanya minum teh. Disini jadi kebawa hehehe…
  • Appreciation: orang disini nggak pelit memuji kolega/temennya kalo misalnya dia perform, even for a simple thing. 

Apa hal yang dikangenin dari Indonesia, dan gimana ngatasinnya?

  • Pastinya kangen keluarga besar yaa… Cara ngatasinnya yaa video call tiap weekend.
  • Kalo sama temen-temen di Indonesia biasanya masi keep in touch via LINE/WhatsApp.
  • Makanaaaaaan hahaha… Sebagai anak Indonesia, aku suka banget semua masakan nusantara. Di Den Haag, kebetulan cukup Indo-friendly, banyak resto Indonesia yang enak-enak. Cuma untuk makanan tertentu tetep aja rasanya beda dan aku jadi bereksplorasi diri di dapur. Lumayan bikin kreatif hehehe… 
  • Kalo kehidupan lainnya sii alhamdulillah nggak kangen, aku kan fobia cicak yaa.. Pindah kesini itu bikin tenang soalnya gak ada cicak hahaha…

Tips untuk wanita Indonesia yang ingin mengejar karir di luar negeri?

  • fasih Bahasa Inggris itu modal utama. Bisa bahasa lokal itu jadi poin plus. 
  • Kuliah S2/S3 di Luar Negeri memperbesar peluang dapet kerja di luar negeri. Anggep aja ini “penyetaraan” kita dengan applicants lainnya.
  • As I said before, cari kerja di luar negeri itu nggak mudah. Tapi asal kita usaha dan konsisten Insyaa Allah dapet kok.
  • First impressions itu penting banget.. Pastikan kamu datang on time ke interview kerja, menggunakan baju terbaik yang ada di lemari, senyum dan percaya diri. Kemampuan kita itu nggak kalah lho dibanding orang Eropa. 🙂   

3 kata yang menggambarkan kehidupan Vira di Belanda?

Harmony, balance, and exciting!

Apa hal tentang Indonesia yang masih melekat di Vira sampai sekarang? (boleh barang, sifat, gaya hidup, kebiasaan, budaya, dll)

Apa yaaa… Oh! Indomie masih jadi makanan darurat terfavorit.

Sehari nggak makan nasi, juga berasa ada yang kurang. I’m not a big fan of bread :

*semua foto disediakan oleh Vira dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan

Comments (2)

  • Saptanti Iman W.

    July 7, 2020 at 1:27 pm

    Bagus ya pola kerjanya efektif dan live balance.
    Sukses terus Vira karir dan keluarga. Aamiin 👍👍👍

  • Khajjar RV

    July 8, 2020 at 7:17 pm

    Keren banget lah mbak Vir, semoga bisa bulat kerennya wkwkwk

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Berkenalan Dengan Dixie

July 1, 2020

Next Post

Pratika Indityaputri: Pengalaman Merantau dan Kerja di Hong Kong

July 5, 2020