Ika Olsen: Hidup Berlayar Sambil Bekerja Jarak Jauh di Norwegia

August 2, 2020hellodiasporia

Ika Olsen saat ini sedang menjalani gaya hidup nomaden sambil berlayar di perairan Eropa. Simak obrolan Diasporia dengan Ika soal pengalamannya berlayar, tips kerja jarak jauh, mengatasi rasa kesepian, dan juga hal – hal yang perlu dipersiapkan kalau kamu tertarik untuk menjalani hidup nomaden seperti Ika. 

Asal Mula Menjalani Gaya Hidup Nomaden Sambil Sailing Keliling Eropa

Hai Ika, boleh ceritain sedikit ngga, sekarang kamu tinggal dimana, kegiatannya apa, dan bagaimana perjalanan kamu sampai bisa menjalani lifestyle yang sekarang?

Agak sulit jawab pertanyaan tinggal dimana ya, soalnya aku hidup nomaden, hehe. Aku sekarang lagi sailing di Norwegia, kegiatanku sehari – hari tuh menyusuri fjord, menikmati midnight sun di Arctic Circle, mancing di laut lepas, sambil bekerja jarak jauh.

Asal mula ketertarikan aku dengan tinggal di kapal tuh datangnya dari partner aku. Dia udah tinggal di kapal, jauh sebelum kami ketemu, udah sekitar 6 tahunan living on board. Dia juga sering ngajakin aku sailing, tapi sampai 2 tahun pertama di hubungan kami, aku masih nggak mau. Awalnya aku pikir, ngapain hidup di kapal? Tapi karena partner aku nggak gampang nyerah, dia terus usaha memperkenalkan gaya hidup sailing ke aku, sampai akhirnya pas kami liburan ke Singapore, aku coba sailing, dan lama-lama jebol deh pertahanan, aku mau juga sailing. 

Pertama kali sailing sebenernya aku gak begitu suka. Awalnya kami sailing dari Barcelona ke Mallorca. Eh, langsung kena cuaca buruk dong, aku mabok laut semalaman. Aku hampir nyerah, rasanya udah mau minta balik ke Barcelona naik pesawat. Tapi pas hari selanjutnya, angin bagus dan udaranya lumayan hangat. So, I gave it a try. Eh mulai bisa enjoy. Hampir sebulan aku sailing di Spain and I loved it. Ketagihan deh akhirnya.

Liburan selanjutnya aku balik lagi ke Spanyol untuk sailing. Kali ini semua lancar, nggak ada drama mabok laut. Perjalanan sailing kedua ini aku langsung mau berlayar non-stop ke Italia dari Barcelona. Nah, setelah mulai enjoy sailing, aku mulai mencoba kerja jarak jauh dari kapal. Kebetulan memang pekerjaan aku bisa dilakukan dari jarak jauh, jadi nggak ada masalah.

Aku pelan – pelan mulai menjalani masa transisi hidup di darat dan di laut, hehe. Setelah itu, aku lanjut sailing selama setahun di Mediterrania, keliling Italia, Perancis, Spanyol, Gibraltar dan Portugal. Tapi lama kelamaan aku merasa bosan dan ingin lihat sesuatu yang beda, akhirnya aku bilang ke partner aku untuk coba sailing di Norwegia. Kebetulan dia memang orang Norwegia dan aku penasaran banget lihat keindahan alam disana, dan juga mencari salju.

Ceritain dong, tipikal hari – hari kamu selama kamu sailing? Apa yang paling kamu suka dan bikin betah sailing terus?

Rata-rata sehari aku sailing 30NM – 50NM. Setelah 30NM biasanya kita stop dan cari anchoring place. Kalo pas gak hujan biasanya hiking. Kalo misal butuh ke supermarket atau ke mall ya cari tempat yang ada mallnya.

Nah, seminggu sekali aku pasti stop di port buat bersihin boat. Mulai dari bersihin hull, shine the metals, cek kalau ada lampu-lampu yang mati, terutama yang ada di mast. Mesin juga rutin dibersihin, supaya mencegah sistem tidak bekerja di saat yang krusial.

Aku paling suka kalo pas sailing anginnya bener-bener datang dari arah yang tepat. Kami nyebutnya wind from the magic angle. Kalau udah begitu, aku bisa roll out beberapa layar dan ngetes kapal aku bisa sekenceng apa, jadi kayak kebut – kebutan di laut gitu, hehehe, seru!

Cara Beradaptasi dan Tantangan Selama Sailing

Gimana cara kamu beradaptasi dengan lifestyle sekarang, apa tantangan terbesar yang kamu rasakan dan gimana cara menghadapinya?

Untuk membantu aku beradaptasi, aku gak langsung memutuskan untuk fully living on board. Jadi, waktu itu aku membagi waktu tinggal di kapal dan di Indonesia. Waktu liburan aku sailing, tapi pulangnya ya balik ke Indonesia. Masa transisi itu sebenernya membantu banget untuk adaptasi, jadi aku nggak begitu kaget waktu udah sepenuhnya tinggal di kapal.

Dari segi pekerjaan, tantangan terbesar sebenarnya pembagian waktu. Karena jam kerja aku ikut jam Singapura. Kadang – kadang aku bisa harus melek semalam suntuk untuk mengikuti jam kerja disana.

Tantangan lain yang aku hadapi juga datang dari pendapat orang – orang, terutama di Indonesia. Walau seringkali aku nggak hiraukan, kadang-kadang pendapat orang sekitar juga bisa bikin panas telinga, hehehe. Banyak yang meragukan gaya hidup nomaden seperti ini, menganggap ini cuma main-main. Padahal, justru gaya hidup begini menuntut aku harus punya rencana jangka panjang dan persiapan yang matang, terutama sama kerjaan dan keuangan.

Aku juga pernah merasa kesepian dan down banget, karena aku jauh dari siapa-siapa, nggak ada teman dan saudara. Tapi aku memutuskan untuk cari kegiatan sendiri, apalagi kalau partner aku lagi kerja dan ninggalin aku di kapal sendirian, ya aku biasain jalan-jalan sendiri supaya nggak bosan. Tapi, biasanya sih perasaan homesick dan kesepian ini hilang kalau makan Indomie dan buka Twitter, hehehe.

Pengalaman Menjalani Gaya Hidup Nomaden dan Bekerja Jarak Jauh 

Sekarang ini kita lihat banyak orang yang sudah mulai menjalani lifestyle nomaden dan bekerja dari mana saja, gimana pandangan kamu tentang hal tersebut, dan apa yang penting banget perlu dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menjalani lifestyle seperti itu?

Hidup nomad dan bekerja remote sah-sah aja sih. Nyatanya kerja remote bukan hal mustahil (berkaca pas urusan pandemi begini, semua pekerjaan dialihkan remote kan), tapi banyak juga yang kebablasan kalo kerja remote, terutama soal waktu. Sampai ada yang bilang kerja remote artinya kerja gak kenal waktu.

Karena aku mau hidup nyaman, persiapan paling utama ya setidaknya tabungan cukup buat tiga tahun hidup tanpa kerja. Tabungan juga harus cukup untuk menutup kebutuhan perawatan kapal. Selain itu, asuransi penting banget. Ini bukan maksud jualan asuransi ya, hehe. Tapi aku beli asuransi all risk, meliputi asuransi jiwa dan juga kapal.

Hidup nomaden sambil sailing gini harus siap menghadapi kejadian luar biasa. Ambil contoh kasusku baru-baru ini, dimana kapalku kesambar petir dan mengakibatkan semua peralatan elektronik termasuk radar, autopilot dan alat navigasi terbakar. Kejadian semacam itu nggak bisa di prediksi dan bakal menghabiskan biaya besar. Untungnya, semua di-cover asuransi, kalau nggak, bisa panas dingin bayarnya!

Ngomongin kerjaan, apa sih suka dukanya kerja jarak jauh seperti ini? Ada hal seru yang bisa di-share ke pembaca Diasporia ngga?

Sukanya, setiap hari berasa liburan. Salah satu pengalaman paling tak terlupakan tuh waktu aku di Cannes, pergi kesana emang tujuannya untuk liburan, meskipun tetap harus kerja sih. Rasanya heaven on earth banget, kerja di kapal dengan suasana yang seru sambil menikmati sunset,  benar – benar best day ever!

Sejauh ini, dukanya datang dari masalah perbedaan waktu. Seperti tadi aku bilang, jam kerja aku ngikutin waktu Singapura. Pernah gara-gara salah hitung waktu, habis party semalaman, aku harus meeting jam 3 pagi, jadi mau nggak mau melek sampai jam 7 pagi. Udah gitu, jam 9 pagi udah harus lanjut sailing lagi, jadi gak tidur deh 2 hari.

Setelah sekian lama hidup dengan lifestyle seperti ini, apa pelajaran hidup yang kamu dapatkan?

Choose how you want to live your life, it is your life. At the end of the day, you are the one who will decide your happiness. Life is too precious to please everyone. Last but not least, belajar menerima kalau memang ada dunia lain yang berbeda dari duniamu sekarang, karena bisa jadi dunia baru itu bikin nyaman juga.

Terakhir, apa hal yang Indonesia banget dan nggak bisa kamu lepaskan walau kamu sudah tinggal jauh dari Indonesia?  

Kalau nggak makan nasi ya rasanya belum makan hahahaha. Sampai saat ini, minimal sehari sekali aku makan nasi pakai sambel. Kebiasaan panggil mas, mbak atau pak, bu juga masih melekat. Kalau ke orang yang baru kenal, aku pasti panggil pakai sir/ma’am. Sampai saat ini juga rasanya masih gak enak aja kalo panggil nama ke orang yang lebih tua.


Jika ingin tau lebih banyak tentang Ika, silakan berkunjung ke kanal pribadinya:

Twitter/Instagram: @janedoeisliving

*semua foto disediakan oleh Ika Olsen dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan.

Comments (1)

  • Kukkaa

    August 2, 2020 at 5:11 pm

    Such a beautiful life 😍

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Alicia Nevriana: Pengalaman PhD di Swedia dan Tips Lancar Berbahasa Swedia

July 26, 2020

Next Post

Adien Galuh: Hidup di Kota Kecil dan Menjadi Wiraswasta di Amerika

August 9, 2020