Tiga Tahun di Amerika

December 27, 2020hellodiasporia

Tahun ini, genap tiga tahun aku meninggalkan Indonesia dan menetap di Amerika Serikat. Secara waktu, menurut aku tiga tahun ini waktu yang lumayan tanggung. Dibilang sebentar nggak juga, tapi dibilang lama ya masih jauh rasanya. Pelan – pelan, aku mulai terbiasa dengan gaya hidup di Amerika, tapi masih sering juga menghadapi momen – momen culture shock. Aku sempat merasa “hilang arah”, tapi akhirnya berhasil menemukan “rumah” di perantauan. Nggak kerasa, selama tiga tahun ini cukup banyak pengalaman yang aku dapat. Di kesempatan kali ini, aku coba cerita refleksi tiga tahun kebelakang untuk teman – teman Diasporia.

Proses Adaptasi Beruntun

Kalau diingat lagi, masa – masa di 2 tahun pertama setelah pindah rasanya cukup berat, karena aku harus beradaptasi dengan berbagai aspek kehidupan. Rasanya tuh adaptasinya beruntun, karena tanpa sadar, pindah ke Amerika mengharuskanku beradaptasi dengan negara baru, budaya baru, lingkungan baru, dan juga status baru sebagai istri dan ibu rumah tangga. Butuh waktu yang cukup lama untukku berdamai dengan semua perubahan yang ada, dan nggak nengok ke belakang lagi.

Ngomong – ngomong soal nengok ke belakang, hal ini yang cukup membuat proses adaptasiku terhambat. Di tahun pertama dan kedua, aku sering banget membandingkan hal – hal di Amerika dengan di Indonesia. Awalnya sih hal simpel kayak soal makanan. “Wah, porsi makanan di restoran sini gede banget ya, nggak kayak di Indonesia!” atau soal harga “Wah, barang bagus begini kalau di Indonesia pasti harganya udah mahal banget nih!”. Habis itu membandingkan situasi, “kalau masih di Indonesia, aku nggak perlu susah begini cari kerja”“Kalau di Indonesia, aku bisa dengan gampang melakukan hal A B C D”.  Untungnya lama kelamaan aku sadar, kalau aku nggak boleh terus membandingkan hidup aku di Indonesia dulu dengan di Amerika. Ya, bandingin dikit – dikit boleh lah, tapi jangan kelewatan sampai menghambat proses adaptasi di sini.

Akhirnya, masuk tahun ke-3 aku mulai makin jarang banding – bandingin dan nengok kebelakang. Rasanya sudah lebih nerima keadaan hidup di sini. Plus, aku juga memutuskan untuk kembali sekolah di tahun ke-2. Sejak kembali sekolah, aku lebih banyak bertemu orang baru, jadi lebih banyak dapat perspektif baru juga, dan bantu banget dalam proses adaptasi.

Sejak pindah, jadi sering eksplor alam bebas 🙂

Pandemi yang Mengubah Perspektif

Masuk  tahun 2020 ini aku punya banyak kegiatan yang sudah aku rencanakan, eh siapa sangka, di bulan Maret situasi dunia berubah total dengan adanya pandemi COVID-19. Sebagian besar rencanaku harus tertunda, tapi ternyata membawa hikmah juga. Aku nggak akan ngomongin detail soal keadaan pandemi di Amerika Serikat, tapi lebih ke bagaimana pandemi ini mengubah perspektifku dalam beradaptasi.

Sejak pandemi, otomatis waktuku hampir 95% aku habiskan di dalam rumah. Proses kuliah semester terakhir, termasuk wisuda, harus dilakukan secara online. Seperti banyak orang di luar sana, aku jadi punya lebih banyak waktu luang dan bisa banyak baca buku atau nonton film/serial tv yang bercerita tentang kehidupan imigran di Amerika Serikat. Aku juga punya teman sesama imigran yang juga hobi baca buku, dan kami sering membahas buku – buku tentang imigran yang kami sudah baca. Senang, rasanya jadi nggak kebingungan sendirian.

Banyak waktuku selama pandemi ini juga dihabiskan dengan cari kerja, tentunya online juga. Di sini, aku lihat penting banget punya banyak koneksi untuk dapat kerjaan. Sementara, koneksi aku minim kan. Untungnya, selama pandemi orang – orang jadi lebih terbuka untuk sesi networking jarak – jauh, lewat platform seperti linkedin atau lunchclub. Jadi, walau di rumah aja, aku tetap bisa bertemu orang banyak dan memperluas networking di sini. Nah, selama proses networking ini, aku banyak ketemu orang dari berbagai bidang karir dan juga level senioritas, dan jadi bantu aku untuk memperluas perspektif tentang karir yang ingin dibangun di sini.

Beberapa Tips Soal Pindah ke Luar Negeri

Berdasarkan pengalaman pribadi, hal utama yang menghambat proses adaptasi buatku adalah kebiasaan membandingkan kehidupan di sini dengan kehidupan di Indonesia. Jadi, tips pertama dariku adalah, jangan sering – sering nengok kebelakang dan membandingkan kehidupan di negara baru dengan Indonesia. Baiknya, ambil hal – hal baik dari kehidupan di Indonesia, misalnya budaya atau kebiasaan, dan coba aplikasikan sesuai keadaan kamu di negara baru.

Tips berikutnya, yaitu soal networking. Beberapa narasumber Diasporia sudah sharing tentang hal ini juga, betapa pentingnya memperluas jaringan dan memperbanyak kenalan. Nggak cuma buat cari kerja, tapi buat berbagai aspek kehidupan di negara baru. Minimal, buat memperluas perspektif dan membuat pikiran jadi lebih terbuka.

Hal lain yang juga membantu banget dalam proses adaptasiku selama tiga tahun kebelakang adalah mempunyai kegiatan sendiri. Sebagai perempuan yang sudah menikah, seringkali waktu habis untuk mengurus rumah tangga. Apalagi kalau yang sudah jadi ibu ya. Sempat berasa “hilang arah”, karena ngga ada jalur untuk aktualisasi diri. Begitu aku sudah ketemu kegiatan baru di luar rumah tangga, rasanya jadi lebih semangat dan lebih mudah juga proses adaptasi. Bener banget kata orang, happy wife, happy life! hehehe…

Karena wisuda tahun 2020 semua online, jadi menyempatkan diri untuk datang ke kampus dan sesi foto sendirian, buat kenang-kenangan

 

Tips terakhir, yang ini hasil baca dan nonton selama pandemi; nggak ada salahnya merasa “beda” di negara baru, dan yang namanya adaptasi itu bukan berarti merubah diri 100% supaya cocok dengan budaya di negara baru. Embrace your differences, karena perbedaan itu hal yang indah. Kalau kita sudah bisa menerima diri sendiri termasuk segala perbedaan kita, nanti akan berasa deh, kalau ternyata antara diri kita dengan orang lokal tuh banyak juga persamaannya!

Teman Diasporia yang juga sedang merantau, punya tips lain ngga? Silakan share ya, bisa di kolom komen atau lewat DM di Instagram @diasporiablog.


Teks dan foto: Christina Juwita

Comments (1)

  • PD

    March 22, 2021 at 8:26 am

    Christa, gw baru mampir ke blog ini, keren konsepnya! Keren juga karena loe lagi ngejalanin petualangan baru! I am sure its not easy. Thank you for being so pure and honest. Semangat terus di sana ya! -PD

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Tradisi Natal di Swedia

December 13, 2020

Next Post

Addina Faizati: Serba-Serbi Birokrasi dan Bahasa di Italia

January 10, 2021