Dita Anggraeni: Cerita Kehidupan dan Tips Berkarir di New York

July 5, 2020hellodiasporia

Yuk, kenalan dengan Dita, yang sudah sejak tahun 2011 menetap di New York, Amerika Serikat. Biasanya, Dita aktif menulis di blog “Langit, Laut dan Doraemon“.  Diasporia baru – baru ini ngobrol dengan Dita tentang pengalaman kerja di organisasi internasional, tips berkarir di luar negeri bagi perempuan Indonesia, sampai pandangan New Yorkers tentang Indonesia. 

Hai Dita, ceritain sedikit tentang dirimu dong, gimana awal pindah ke New York dan sekarang kegiatannya apa aja nih? 

12 October 2011- Hari pertama di New York, langsung foto-foto ala turis dengan latar belakang taxi kuning

Jadi awalnya tahun 2011, setahun setelah pulang sekolah S2 di Belanda dan kerja setahun di Jakarta, ada keinginan menggebu-gebu untuk berkarir internasional. Mumpung masih muda dan ga ada ikatan di Indonesia kan. Ya udah deh, pertengahan 2011 kebetulan kontrak kerja saat itu menjelang selesai, mulai rajin lamar-lamar kerjaan. Waktu itu sih beneran hajar bleh, semua lowongan organisasi internasional yang kira-kira masuk spesifikasi dilamar, udah ga pandang bulu, lamaran di Bangkok, Afghanistan, Fiji, Geneva, Zimbabwe, semua dijabanin. Alhamdulillah, yang nyangkut adalah kerja di headquarter PBB di New York. Waktu itu awalnya di bawah program Junior Professional Officer – program spesial PBB. Posisi aku sebagai Associate Humanitarian Mapping dibiayai pemerintah Belanda. Sekarang udah nyaris 8 tahun di New York, masih di organisasi yang sama tapi posisi sebagai Graphic Designer.   

Menurut kamu, apa tantangan terbesar menjadi imigran perempuan dari Indonesia di New York, dan gimana cara mengatasinya? 

Kalau tantangan sebagai perempuan khususnya sih nyaris ga ada ya. Malah kerasanya lebih banyak manfaatnya, seperti bisa bebas berekspresi, dukungan untuk berkarir dan situasi yang aman untuk kelayapan malam-malam. Sejauh ini sih aku ga pernah dapet masalah sebagai perempuan. Tantangan terbesar justru sebagai imigran pada umumnya, karena aku kerja di New York di bawah organisasi internasional, jadi aku kurang leluasa mencari pekerjaan yang lain yang mengharuskan aku untuk apply visa lainnya. Apply green card pun ga mudah. Jadi kalau aku mau cari pekerjaan di luar organisasi aku, aku beneran harus teliti menargetkan perusahaan yang mau mensponsori green card atau visa lainnya. Buat aku, ini masih jadi tantangan terbesar yang sampe sekarang aku masih belajar dan berusaha mengerti langkah-langkah keimigrasian-nya.

Menurut Dita, apa yang berbeda dari budaya kerja, kebiasaan, atau lingkungan pekerjaan di Indonesia dan New York? 

Karena kantor adalah organisasi internasional, jadi dinamika kerja sangat beragam dengan personel dari berbagai negara. Budaya kerja jadi lebih mengakomodir beragam etnis dan budaya. Di kantor juga aku terbiasa beropini dan mengemukakan pendapat, berdiskusi panjang antar atasan dan bawahan itu biasa. Kalau ga setuju dengan pendapat atasan, aku terbiasa bilang aja apa pendapatku. Secara garis besar sih, kalau dibandingkan dengan Indonesia, lingkungan pekerjaan kantor itu lebih sedikit birokrasi dan minim basa-basi ga jelas. Seperti, acara makan siang bareng satu team itu sangat jarang, hanya untuk acara spesial. Terus disini juga ga ada budaya “entertaining” bos-bos, kita kerja ya kerja aja, ga usah bikin senang bos di luar kerja dengan baik.

Masih berhubungan dengan pertanyaan sebelumnya, menurut Dita, apa tantangan kerja di New York yang beda dengan di Indonesia? 

Ada yang bilang “Everyone in New York is a finalist.” Jadi kadang aku ngerasa orang-orang di New York ini hebat-hebat banget ya. Iklim kompetisinya jadi tinggi, tapi di sisi lain kita juga terpacu untuk jadi lebih baik dan bisa belajar langsung dari ahli dan pakar di bidangnya.

Serius meeting di kantor 

Boleh share 3 tips dari Dita untuk perempuan Indonesia yang ingin mengejar karir di luar negeri? 

  • Percaya diri untuk terus mencoba dan melamar berbagai lowongan pekerjaan
  • Tidak ada kata berhenti untuk belajar
  • Terbuka untuk menjelajahi berbagai tempat di dunia juga berpikiran terbuka untuk menerima pengalaman baru

New York kan terkenal sebagai kota yang sibuk dan ramai, ada nggak tips sosialisasi sebagai perempuan Indonesia di New York?  

Di New York ini gampang ngobrol sama orang lain di tempat umum, seperti di subway, di toko, di bar, dll. Tapi justru agak susah punya teman dekat, soalnya rata-rata pada sibuk, kadang kalo mau ketemuan harus janjian jauh hari sebelumnya. Pada akhirnya aku cuman punya sedikit teman dekat, tapi juga sering beraktivitas sendirian. Buat aku ga masalah sih, aku senang ngapa-ngapain sendiri dan malah jadi sering ketemu orang baru.

June 2018, ikutan Mermaid Parade di Coney Islands bersama grup senam indah Brooklyn Peaches. New York penuh dengan kegiatan-kegiatan unik dan orang-orang nyentrik, salah satunya cewek-cewek yang tergabung di grup renang indah ini

Tips lainnya, New York ini penuh dengan aktivitas dan orang-orang yang unik. Mau belajar apa aja pasti ada komunitasnya. Jadi saranku sih, seru juga tuh mengeksplor baik minat pribadi maupun hal-hal baru yang unik dan mungkin ga gampang dilakukan di kota-kota lain. Contohnya nih, aku pernah ikutan synchronized swimming (beneran cuman karena penasaran pingin nyoba), trus sekarang lagi giat-giatnya ikutan taiko drumming. 

May 2019, manggung taiko drumming (Japanese thunder drum) bersama grup Taiko Masala Dojo di acara Cherry Blossom festival Randall’s Island. Taiko Masala Dojo adalah grup taiko amatir yang terbuka untuk umum, siapa saja dengan berbagai level musikalitas

Apa hal favorit kamu tentang New York dan apa yang membuat kamu bersyukur telah mengambil keputusan untuk pindah ke New York?

New York memberikan ruang yang leluasa untuk jadi diri sendiri, tanpa banyak dihakimi oleh masyarakat. Kota ini penuh dengan kegiatan seni dan budaya, jadi bersyukur bisa nonton konser musik sepuasnya dan melihat karya-karya seni kelas dunia, sampai berbagai pertunjukkan yang eksperimental dan DIY. Semenjak tinggal di New York, beneran aku tuh “No more waiting for Friday to happen,” alias tiap hari ada aja aktivitas seru, restoran yang pingin dicoba, konser musik, comedy show, dll. Kadang malah banyak keluyuran pas weeknights, terus pas akhir pekan tidur seharian 😀 Di New York juga bisa belajar banyak tentang apa aja, segala hobi ada komunitasnya disini. Dan terutama, kota New York cukup aman dan kondusif buat perempuan menjelajahi sendirian.

Setelah sekian lama di New York, apa kebiasaan lokal yang menular ke Dita yang sebelumnya nggak pernah / jarang dilakukan?

Selalu nyapa “Hi, how are you?”, say thank you and hold the door. Yang paling penting sih, jadi lebih assertif, berani berpendapat dan beropini. Misalnya nih, kalo di subway ada yang dengerin musik kenceng-kenceng, kalo sekiranya mengganggu, ya ditegur aja on the spot. Aku lebih memilih ini daripada kesel-kesel sendiri, atau diam-diam ngegosipin atau merekam buat content di media sosial.

Disini juga orang sangat menghormati interaksi sosial, kalo lagi dinner atau hang out lebih penting ngobrol daripada foto-foto, dan utek-utekan dengan hp di acara sosial is a big no no.

Pertama kali menginjakkan kaki di Brooklyn, seminggu setelah pindah dari Jakarta ke New York. Jalan-jalan di sekitar DUMBO dan bergaya dengan latar belakang Brooklyn Bridge

Amerika kan negara yang multikultural banget ya. Berdasarkan pengalaman Dita, apa pendapat orang Amerika terhadap Indonesia dan/atau budaya Indonesia? 

Rata-rata mereka ga terlalu ngeh sama Indonesia, pada penasaran sama makanannya. Lebih populer Thailand daripada Indonesia. Oh iya, karena disini banyak orang Filipina, aku sering dikira orang Filipina.

Terakhir, ada nggak hal tentang Indonesia yang masih melekat di Dita sampai sekarang? 

Kalo ngomong bahasa Indonesia nih, logatnya masih Sunda banget, ini ga bisa lepas sama sekali. Terus comfort food-nya indomie goreng atau nasi dan telor ceplok disiram kecap manis. Suka banget makanan Asia yang rasanya rame. Belum terbiasa makan nasi pake garpu. Kalo masuk rumah kebiasaan lepas sepatu. Kalo barang yang Indonesia banget adalah gayung, haha. Di kamar mandi aku ada gayung, padahal jarang dipake sih, cuman gayung ini menurut aku versatile banget, bisa buat kumur-kumur pas sikat gigi, rendem yang perlu direndem, mixing cleaning products dan mengguyur apapun yang peru diguyur. Kadang-kadang masih aja nih masuk angin 🙁 

*semua foto disediakan oleh Dita dan diterbitkan atas izin yang bersangkutan

Comments (1)

  • Aggy

    July 8, 2020 at 10:40 am

    Seru banget deh kayaknya tinggal di NY (one of the places in the US that I really want to visit someday!). Waktu ketemu sama Dita di Yogya dan cerita tentang kerjanya di UN, waaah keren banget lah pokoknya. Aku juga suka beberapa kali Dita share pengalamannya yang unik2 di NY seperti yang Taiko itu dan juga parade mermaidnya! Kayaknya emang NY kota yang punya segalanya 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post

Pratika Indityaputri: Pengalaman Merantau dan Kerja di Hong Kong

July 5, 2020

Next Post

Lorraine Riva: Membangun Karir dan Kehidupan di Belanda

July 5, 2020